Konten dari Pengguna

Pendidikan Itu Mahal, Tapi Jadi Bodoh Lebih Berisiko

Naufal Daffa Guswani

Naufal Daffa Guswani

Mahasiswa Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Naufal Daffa Guswani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah lorong sekolahan yang sedang kosong. Foto: unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah lorong sekolahan yang sedang kosong. Foto: unsplash.com

"If you think education is expensive, try ignorance."

— Derek Bok

Kita semua tahu bahwa biaya pendidikan kian hari kian mahal. Mulai dari uang pangkal sekolah, SPP, biaya buku, hingga kursus tambahan, semua menuntut dompet yang tebal dan kepala yang dingin. Bagi sebagian besar keluarga di Indonesia, menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi bukan sekadar perjuangan, tapi pengorbanan. Maka tak heran jika sebagian orang mulai mempertanyakan: “Untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya nganggur juga?”

Tapi mari tarik napas sejenak. Lihat lebih dalam. Pertanyaannya bukan sekadar tentang mahal atau murah. Melainkan: Apa yang terjadi jika kita memilih untuk tidak peduli pada pendidikan?

Bukan Soal Gelar, Tapi Soal Kesadaran

Pendidikan bukan hanya soal gelar akademik yang dibingkai dan digantung di dinding ruang tamu. Ia adalah proses panjang untuk belajar membedakan benar dan salah, memahami dunia, dan yang paling penting mengenali diri sendiri. Orang yang terdidik tak selalu harus kuliah tinggi, tapi ia berpikir. Ia tidak mudah ditipu hoaks, tidak gampang diseret arus populisme, dan tahu cara mengambil keputusan berdasarkan informasi.

Tanpa pendidikan, kita mungkin tetap bisa hidup, tapi dengan risiko yang lebih besar: manipulasi, kebodohan kolektif, dan keputusan yang merusak masa depan.

Kebodohan Adalah Komoditas Politik

Kita hidup di zaman ketika kebodohan tidak hanya dibiarkan, tapi juga dipelihara. Ada keuntungan besar bagi mereka yang berkepentingan politik saat masyarakatnya malas berpikir. Kita disuguhi narasi-narasi kosong di media sosial, dicekoki teori konspirasi, hingga dijerumuskan ke dalam debat kusir yang membuat kita makin jauh dari substansi.

Dalam situasi seperti ini, orang yang tak terdidik menjadi sasaran empuk. Mereka dijadikan alat, bukan subjek. Maka tak salah jika dikatakan: jadi bodoh jauh lebih berisiko. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk demokrasi dan masa depan bangsa.

Pendidikan Adalah Investasi, Bukan Beban

Tentu, tak semua orang bisa mengakses pendidikan formal dengan mudah. Tapi pendidikan tidak selalu identik dengan sekolah mahal. Membaca buku, mendengar podcast edukatif, ikut diskusi, menonton video ilmiah, bahkan mendengar cerita dari orang yang lebih berpengalaman adalah bentuk pendidikan.

Yang penting adalah sikap terbuka untuk terus belajar. Karena di zaman yang berubah cepat, kebodohan bukan hanya ketinggalan informasi, tapi juga ketinggalan kesempatan.

Lebih Mahal Mana, Pendidikan atau Kebodohan?

Membayar biaya pendidikan memang tidak mudah. Tapi risiko dari ketidaktahuan jauh lebih mahal. Diantaranya; salah memilih pemimpin, terjebak utang karena investasi bodong, atau terus-menerus menjadi korban dari sistem yang tidak adil.

Jadi kalau hari ini kamu merasa pendidikan itu mahal, ingatlah bahwa menjadi bodoh bisa jauh lebih berbahaya. Bukan cuma untukmu, tapi untuk generasi setelahmu.