Konten dari Pengguna

Mudik Tetap Mengalir: Stasiun yang Tenang, Tapi Tak Pernah Benar-Benar Sepi

naufalyanuardhi
mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Amikom Purwokerto
2 April 2025 13:47 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari naufalyanuardhi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Purwokerto - Hari H Lebaran biasanya identik dengan suasana lengang di pusat-pusat transportasi, karena hari H lebaran setelah sholat ied orang-orang sudah sibuk bersilaturahmi dengan keluarga dan kerabat, namun di Stasiun Purwokerto denyut perjalanan tetap terasa pada hari H lebaran 2025, hiruk-pikuk pemudik tidak sepadat hari-hari puncak arus mudik, tetapi sejumlah penumpang naik dan turun di Stasiun Purwokerto menyusuri peron, membawa cerita, rindu dan harapan.
suasana pintu keberangkatan stasiun purwokerto yang landai, Senin (31/3/2025), Foto : Dokumentasi Pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
suasana pintu keberangkatan stasiun purwokerto yang landai, Senin (31/3/2025), Foto : Dokumentasi Pribadi.
Pada siang menjelang sore, mentari bersinar lembut, menunjukan kondisi stasiun yang terasa lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya, tak ada antrean panjang di loket, tak ada antrean boarding yang tergesa-gesa,namun kehidupan masih berdetak di setiap sudut. Bangku-bangku di ruang tunggu diisi para pemudik yang memilih melakukan perjalanan setelah sholat ied agar lebih tenang. Sebagian besar duduk bersandar, menikmati suasana lengang. Para pemudik yang datang ke stasiun mengenakan stelan baju terlihat baru yang menggambarkan suasana lebaran semakin terasa, mereka yang memilih melakukan perjalanan pada hari H Lebaran ingin menghindari kepadatan arus mudik, karena menurut data volume penumpang yang naik dari stasiun Purwokerto pada hari Senin tercatat hanya 2.223 penumpang, berbeda dari hari sebelumnya bisa mencapai 6.000 penumpang.
ADVERTISEMENT
Abidin (30), seorang pemudik yang memilih berangkat di hari Lebaran, merasakan ketenangan yang berbeda. "Rasanya seperti mengarungi lautan saat angin teduh, tidak terburu-buru, tidak berdesakan. Mudik kali ini memberi ruang untuk menikmati perjalanan," katanya sembari tersenyum. Sementara itu, Lina (40) seorang petugas boarding stasiun purwokerto yang harus tetap berdinas meski di hari H Lebaran, menambahkan. "suasana hari ini sangat teduh dan tenang berbeda dari hari-hari sebelumnya, walaupun pada hari lebaran ini saya tetap bekerja, tetapi demi kepulangan para pemudik saya akan terus melayani dengan tulus."
calon penumpang kereta api sawunggalih yang ramai tetapi terasa damai, Senin (31/3/2025), Foto : Dokumentasi Pribadi
Meski lebih lengang dari hari-hari sebelumnya, Stasiun Purwokerto tetap berdenyut. Para petugas tetap bersiaga, memastikan setiap kedatangan dan keberangkatan berjalan tanpa kendala dan penumpang naik kereta sesuai dengan tujuan tanpa salah arah. Hiasan stasiun Purwokerto seperti ketupat dan ornamen yang lainnya menjadikan suasana lebaran makin terasa di sudut-sudut stasiun. Petugas stasiun bagai penjaga mercusuar di tengah lautan yang mulai tenang. Meskipun gelombang besar telah berlalu, dan akan datang kembali beberapa hari kedepan, mereka tetap dan akan selalu memastikan setiap perjalanan aman, lancar dan terkendali.
ADVERTISEMENT
Stasiun Purwokerto di hari Lebaran ini memang berbeda. Ia tak lagi riuh, namun tetap hidup. Seperti senja yang perlahan turun setelah teriknya siang, atau bagai aliran sungai yang terus mengalir meski derasnya tak lagi sama. Para pemudik masih berdatangan, membawa rindu yang tertunda, menyambut kebersamaan yang telah lama dinanti.
Petugas Customer Service Mobile yang siap sedia dan sigap untuk membantu penumpang kereta api di stasiun Purwokerto, Senin (31/3/2025), Foto : Dokumentasi Pribadi.
Banyak orang yang rela tidak berkumpul dengan keluarga demi berjalannya arus mudik Lebaran 2025 ini, salah satunya ialah petugas Customer Service Mobile (CSM), petugas yang diperbantukan hanya pada masa Angkutan Lebaran 2025 ini. Dikala yang lain sedang bersilaturahmi menyantap sepiring opor bersama keluarga, mereka dengan setulus hati melayani dan memastikan pemudik pulang dan pergi menuju keluarga tercinta.
Di atas rel yang membentang jauh ke arah barat dan timur, roda roda besi masih berputar. Setiap kedatangan dan keberangkatan bukan sekedar perpindahan tempat, namun perjalanan menuju kenangan, menuju pelukan hangat di kampung halaman. Stasiun memang tampak lebih sunyi, tetapi tak pernah benar-benar sepi. Karena perjalanan, seperti rindu, akan selalu menemukan jalannya sendiri.
ADVERTISEMENT