Kemenyan, Gibran, dan Hilangnya Makna Hilirisasi

Dosen dan peneliti nanomaterial untuk energi baru dan terbarukan di Monash University dan Universitas Pertahanan RI
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Naufan Nurrosyid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Belakangan ini, Wakil Presiden kita, Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi sorotan publik. Bukan karena kebijakan formal, melainkan karena potongan pidatonya yang viral di media sosial.
"Parfum Louis Vuitton dan Gucci itu pakai kemenyan", katanya. Dalam kesempatan yang sama, ia menyampaikan bahwa nilai kemenyan bahkan seperti nikel. Dan keduanya harus dihilirisasi agar bernilai tambah dan berdampak besar.
Sekilas terdengar nasionalis, dan menjunjung kearifan lokal. Tapi di balik penyampaian yang catchy, banyak publik mulai mempertanyakan substansi dari narasi yang dibawa. Komentar netizen pun membanjiri. "Kalau bukan AI, pasti hilirisasi," sahut salah seorang pengguna sosial media.
Namun, terkait hilirasi kemenyan, benarkah ini upaya strategis membangun ekonomi?
Atau hanya sebatas gimik retoris?
Hilirisasi: Narasi Penting yang Kehilangan Makna
Sebagai warga yang mendukung pembangunan, tentu kita sepakat bahwa hilirisasi adalah langkah strategis. Tidak ada yang menyangkal pentingnya mengolah bahan mentah di dalam negeri agar bernilai tambah. Tapi ketika isu sepenting ini terus-menerus digaungkan tanpa kedalaman, lama-lama terasa seperti jargon kosong.
Gibran, dengan posisi dan platform sebesar itu, memiliki peluang luar biasa untuk mengedukasi publik. Namun, terlalu sering ia memilih cara penyampaian yang provokatif ketimbang informatif. Bukan satu dua kali pernyataannya terasa dangkal. Sepertinya, menyederhanakan isu kompleks menjadi semacam gimmick yang mudah viral tapi miskin substansi memang strategi utamanya.
Faktanya, Kemenyan Memang Dipakai dalam Parfum Premium
Agar adil, mari kita akui dulu. Betul, kemenyan memang digunakan dalam parfum mahal. Dalam dunia parfum, kemenyan dikenal sebagai olibanum atau frankincense, dan termasuk dalam kelompok resin aromatik yang digunakan karena aromanya yang eksotis, hangat, dan berkarakter.
Beberapa contoh parfum ternama yang mencantumkan olibanum atau frankincense sebagai salah satu bahan utama antara lain: Amouage - Interlude Man, parfum niche dari Oman yang dikenal dengan aroma smoky dan resinous. Kemduian ada Tom Ford varian Oud Wood yang meski dominan oud, ia memiliki sentuhan smoky dan resin termasuk dari kemenyan. Juga tentu Louis Vuitton dengan Ombre Nomade-nya, yang kerap dikenal sebagai parfum mahal dengan bahan aromatik kemenyan.
Namun perlu digarisbawahi bahwa penggunaan kemenyan dalam parfum hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan formula, yang bisa melibatkan ratusan molekul aroma dari berbagai bahan sintetis maupun alami.
Tapi, Apakah Sama Nilainya dengan Nikel?
Di sinilah salah satu letak masalahnya.
Membandingkan kemenyan dengan nikel, dengan pernyataan bahwa "nilai kemenyan sama seperti nikel", adalah penyederhanaan yang berlebihan. Nikel adalah komoditas strategis dunia, fondasi dari industri kendaraan listrik global, baja tahan karat, dan salah satu teknologi energi masa depan. Biarpun tidak serta merta kita harus menjadikannya pemain utama dalam bidang energi nasional, perlu diakui bahwa nikel dapat menjadi komoditas unggul jika dikelola dengan bijak. Selebihnya, nilai dari nikel tidak hanya diukur dari harga per kilogram, tapi juga dari rantai pasok, permintaan industri, dan pengaruh geopolitik.
Sementara kemenyan adalah komoditas niche, meski bernilai tinggi dalam kilogram tertentu, volumenya kecil dan pasarnya terbatas. Potensi hilirisasi kemenyan memang tetap ada, terutama dalam industri minyak atsiri, aromaterapi, dan kosmetik. Tetapi dampaknya tidak bisa disetarakan begitu saja dengan komoditas industri berat seperti nikel.
Hilirisasi Bukan Sekadar Gimmick, Tapi Strategi Jangka Panjang
Sayangnya, banyak pernyataan Gibran yang kerap disampaikan dalam format yang lebih menghibur ketimbang mendidik. Dengan gaya menyentil seeperti, “ibu-ibu pakai parfum mahal padahal isinya kemenyan” membuat pesan penting tentang hilirisasi justru tenggelam dalam kehebohan.
Padahal, publik menanti pemimpin yang mampu menyampaikan gagasan kompleks dengan cara yang cerdas, jujur, dan inklusif. Bukan hanya catchy, tapi juga berbobot. Bukan hanya viral, tapi juga bisa diverifikasi.
Pun dengan hilirisasi. Topik ini sangat penting bagi masa depan ekonomi Indonesia. Tapi jika terus-menerus dibahas tanpa kedalaman dan roadmap yang jelas, publik lama-lama akan jenuh. Bahkan bisa apatis.
Misalnya dalam tema kemenyan ini, masyarakat juga perlu tahu hal-hal mendasar lainnya, Siapa pelaku usaha lokal yang berhasil mengolah kemenyan? Bagaimana selama ini bisnis kemenyan hidup? Apa tantangan mereka di hulu dan hilir? Bagaimana potensi terukur dari pengembangan kemenyan baik dengan bisnis konvensional maupun jika berhasil masuk ke pasar global? Teknologi apa yang bisa kita kembangkan untuk memperkuat industri ini? Bagaimana negara mendukung mereka secara regulatif dan fiskal? Dan puluhan pertanyaan lanjutan untuk menggambarkan betapa pentingnya hilirisasi.
Tanpa diskusi semacam ini, hilirisasi hanya akan jadi kata-kata manis yang tak pernah menyentuh akar masalah.
Narasi Besar Butuh Tanggung Jawab Besar
Sebagai wakil presiden, Gibran sedang menguji perannya di panggung nasional. Banyak publik yang masih memberi ruang harapan dan waktu belajar. Namun, ketika menyampaikan narasi besar seperti hilirisasi, tanggung jawabnya pun besar. Untuk tetap jujur pada data, cermat dalam bicara, dan bijak dalam menyentuh masyarakat.
Karena pada akhirnya, narasi tentang kemenyan bukan soal harum atau tidaknya parfum luar negeri. Tapi seharum apa kualitas kepemimpinan yang bisa membangkitkan kepercayaan rakyat, lewat kejelasan visi dan kedalaman komunikasi.
