Mobil Bertenaga Air dan Masa Depan Transportasi Indonesia?

Dosen dan peneliti nanomaterial untuk energi baru dan terbarukan di Monash University dan Universitas Pertahanan RI
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Naufan Nurrosyid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Beberapa minggu terakhir, media sosial di Indonesia diramaikan dengan berita mencengangkan: "Jepang memamerkan mobil bertenaga air!", atau "Selamat tinggal mobil listrik, Jepang punya mobil bertenga air!", dan sebagainya. Bahkan di kolom komentar ada juga yang membalas, "Beberapa tahun yang lalu, Indonesia juga punya tuh! Pemerintah aja yang malah gak becus!". Sekali lagi, pokoknya salah pemerintah.
Unggahan ini viral, disebar ribuan kali, dan dibumbui narasi bahwa era mobil listrik akan segera berakhir, digantikan oleh mobil berbahan bakar air yang revolusioner. Banyak yang percaya, banyak juga yang bingung. Benarkah Jepang menemukan teknologi yang mampu menggerakkan mobil hanya dengan air? Apakah mobil listrik sebentar lagi akan menjadi usang?

Sayangnya, narasi "mobil bertenaga air" itu keliru. Yang sebenarnya dimaksud dalam berita-berita tersebut adalah terobosan Jepang dalam teknologi fuel cell atau sel bahan bakar hidrogen. Bukan mobil yang berjalan hanya dengan air, melainkan mobil yang menggunakan gas hidrogen sebagai bahan bakar. Dalam prosesnya, hidrogen bereaksi dengan oksigen di dalam fuel cell, menghasilkan listrik untuk menggerakkan motor dan mengeluarkan uap air sebagai emisi satu-satunya. Jadi bukan air yang jadi bahan bakarnya, melainkan justru air yang dihasilkan. Sekali lagi, perlu diluruskan: mobil ini tidak diisi air, tapi diisi hidrogen murni. Maka, menyebutnya sebagai mobil bertenaga air adalah sebuah miskonsepsi.
Fuel Cell: Mesin Masa Depan yang Masih Mahal
Teknologi fuel cell bukan barang baru. Jepang, lewat Toyota, sudah memperkenalkan mobil fuel cell pertama mereka, Toyota Mirai, sejak 2014. Hyundai punya Nexo, sedangkan Honda punya Clarity. Namun hingga 2025 ini, jumlah mobil berbahan bakar hidrogen di seluruh dunia baru sekitar 60.000 unit. Jumlah ini yang sangat kecil jika dibandingkan dengan mobil listrik berbasis baterai (BEV) yang sudah mencapai lebih dari 30 juta unit secara global.
Mengapa adopsinya masih rendah?
Pertama, karena harga. Mobil fuel cell seperti Toyota Mirai dijual dengan harga di atas Rp1 miliar. Ini mahal karena memang pengembangan sistem mesinnya tidak seperti mesin mobil pada umumnya. Bukan mahal karena marketing saja.
Kedua, karena infrastruktur. Stasiun pengisian hidrogen masih sangat terbatas, bahkan di negara maju sekalipun. Ketiga, karena efisiensi energi. Untuk menghasilkan, menyimpan, dan mendistribusikan hidrogen, energi yang dibutuhkan jauh lebih besar dibandingkan langsung mengalirkan listrik ke baterai.
Tentu saja, fuel cell punya kelebihan. Waktu pengisian cepat, jarak tempuh panjang, dan cocok untuk kendaraan berat seperti truk, kapal, atau kereta jarak jauh. Tapi untuk saat ini, mobil listrik berbasis baterai tetap menjadi pilihan yang lebih efisien dan ekonomis untuk kebutuhan sehari-hari.
Bagaimana Indonesia Harus Merespons?
Indonesia tidak boleh latah atau sekadar ikut hype. Kita perlu memahami bahwa transisi energi memerlukan strategi jangka pendek dan jangka panjang. Untuk sekarang, elektrifikasi transportasi dengan baterai adalah jalur tercepat dan paling masuk akal. Apalagi Indonesia punya cadangan nikel yang besar dan punya potensi menjadi pemain utama dalam rantai pasok baterai dunia. Jika dikeola dengan baik dan sesuai.
Namun bukan berarti kita harus mengabaikan hidrogen. Justru kita perlu mulai membangun fondasinya. Pemerintah telah meluncurkan Strategi Hidrogen Nasional dengan rencana pembangunan green hydrogen plant di berbagai lokasi. Tapi semua itu harus dibarengi dengan pengembangan teknologi dalam negeri, riset yang kuat, insentif bagi industri, dan pelatihan SDM.
Hype di media sosial seharusnya jadi momen edukasi, bukan sekadar konsumsi viral. Kita perlu menumbuhkan budaya bertanya, kritis terhadap informasi, dan terbuka terhadap sains dan teknologi.
"Sebab masa depan energi tak dibangun dari sensasi, tapi dari pemahaman dan keputusan yang tepat."
Sebagai penutup, mobil berbahan bakar hidrogen bukan hanya sekedar mitos. Tapi juga bukan solusi instan. Seperti halnya mobil listrik satu dekade lalu, teknologi ini sedang menapaki jalur panjang menuju kematangan. Indonesia bisa ikut serta, asal tahu kapan harus berlari dan kapan harus menyiapkan langkah.
Dan satu hal yang pasti: air tetap kita minum, bukan kita isi ke tangki.
