Konten dari Pengguna

Rebahan dan "Mager": Simbol Pertahanan Ego Gen Z di Era Digital

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Naupal Tistiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi fenomena "mager" dan rebahan di kamar sambil bermain gadget yang marak di kalangan Gen Z.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi fenomena "mager" dan rebahan di kamar sambil bermain gadget yang marak di kalangan Gen Z.

Pagi hari baru dimulai, tetapi kasur rasanya punya magnet yang begitu kuat. Di tangan ada smartphone, layar di-scroll tanpa henti, dan semua kebutuhan—mulai dari makanan, hiburan, hingga obrolan—bisa selesai hanya dengan beberapa ketukan jari. Fenomena inilah yang melahirkan satu kata keramat bagi Generasi Z: Mager alias malas gerak.

Di media sosial, kata "mager" sering diucapkan sambil bercanda atau dijadikan konten lucu. Padahal, jika kita telusuri lebih dalam, mager bukan sekadar rasa malas biasa. Ini adalah sebuah alarm perubahan perilaku yang cukup serius pada generasi muda.

Jebakan Sopan Bernama Instant Gratification

Secara psikologis, mager adalah dampak langsung dari instant gratification atau pemenuhan kepuasan instan. Otak kita dirancang untuk menyukai hal-hal yang menghasilkan dopamin (hormon bahagia) dengan cepat dan murah. Dulu, orang harus keluar rumah untuk mencari hiburan. Sekarang? Cukup rebahan dan membuka TikTok, dopamin langsung meluncur deras.

Kemudahan layanan on-demand di era digital ini secara tidak sadar membuat tubuh mengalami "pensiun dini" dari aktivitas fisik. Mengapa harus lelah berjalan kaki ke warung kalau ada ojek online? Mengapa harus repot bersosialisasi di luar jika ruang obrolan virtual terasa lebih aman?

Mager Sebagai "Topeng" Pertahanan Diri

Menariknya, kata "mager" kini bergeser menjadi sebuah identitas kelompok dan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism). Ketika seseorang merasa bersalah karena tidak produktif, kata "mager" digunakan sebagai tameng pembenaran yang dianggap lumrah oleh sesama temannya. "Ah, lagi mager nih," menjadi kalimat sakti untuk menjustifikasi keengganan tubuh bergerak di dunia nyata akibat kenyamanan semu di dunia maya.

Sayangnya, budaya mager atau sedentary lifestyle ini punya harga mahal yang harus dibayar di masa depan. Mulai dari meningkatnya gangguan kecemasan (anxiety), obesitas, hingga penurunan produktivitas sosial secara massal.

Menikmati teknologi itu boleh, bahkan harus. Namun, jangan sampai kecanggihan layar membuat kita lupa bagaimana cara menggerakkan badan. Sudah saatnya Gen Z meletakkan ponsel sejenak, bangkit dari kasur, dan mulai bergerak demi masa depan yang lebih sehat.