Konten dari Pengguna

Fase Paling Rumit: Perjalanan Menemukan Identitas

Lu'lu Naura Nur Syahidah

Lu'lu Naura Nur Syahidah

Mahasiswi, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lu'lu Naura Nur Syahidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

dokumentasi pewawancara dan narasumber (sumber: dokumen pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
dokumentasi pewawancara dan narasumber (sumber: dokumen pribadi)

Bagaimana seorang siswa kelas 12 menghadapi tekanan akademis, keraguan diri, dan batasan orang tua dalam perjalanan menemukan identitasnya?

Muhammad Handzollah Ikmal Azka duduk di bangku kelas 12 MAN 4 Jakarta. Seperti kebanyakan remaja seusianya, Ikmal sedang dalam fase paling rumit dalam hidupnya—mencari tahu siapa dirinya sebenarnya.

"Saya orangnya perfeksionis, tapi kadang itu malah bikin saya sulit mengambil keputusan," ungkap Ikmal saat diwawancarai mahasiswi UIN Jakarta, Lu'lu Naura Nur Syahidah, pada Desember lalu.

Pernyataan sederhana itu menyimpan kompleksitas yang dialami jutaan remaja Indonesia. Di balik sosok yang tampak tenang, Ikmal menyimpan pergulatan internal antara harapan tinggi dan kenyataan yang tak selalu sesuai ekspektasi.

Kekuatan yang Jadi Kelemahan

Ikmal sadar dia punya kemampuan mendengarkan yang baik dan rasa tanggung jawab tinggi. Teman-temannya sering curhat padanya, dan dia selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap tugas.

Namun, sifat perfeksionisnya justru menjadi bumerang. "Kalau nilai saya jelek, langsung kepikiran 'ah, saya kurang pintar'. Padahal mungkin cuma kurang persiapan aja," akunya jujur.

Ini gambaran klasik remaja yang sedang membentuk konsep diri. Setiap kegagalan kecil terasa seperti pukulan besar terhadap identitas mereka. Nilai buruk bukan lagi sekadar angka, tapi penilaian terhadap kemampuan dan harga diri.

Ketika Panggung Menjadi Momok

Salah satu ketakutan terbesar Ikmal adalah berbicara di depan umum. Bayangkan, remaja yang biasanya percaya diri tiba-tiba gemetar ketika harus presentasi di kelas.

"Takut salah, takut dihakimi orang lain. Rasanya semua mata memandang dan menunggu saya berbuat kesalahan," jelasnya.

Fenomena ini sangat umum di kalangan remaja. Mereka hypersensitive terhadap penilaian orang lain, karena sedang dalam proses membangun identitas sosial. Setiap tatapan, setiap komentar, terasa seperti evaluasi terhadap keseluruhan diri mereka.

Dilema Generasi Sandwich

Yang membuat situasi Ikmal lebih kompleks adalah minimnya ruang otonomi di rumah. Keputusan penting tentang pendidikan dan masa depannya sebagian besar masih dikontrol keluarga.

"Kadang pengen ngambil pilihan sendiri, tapi ya... orang tua pasti punya alasan," katanya dengan nada pasrah yang tak sepenuhnya rela.

Ini dilema klasik remaja Indonesia—terjebak antara keinginan mandiri dan struktur keluarga yang masih sangat hierarkis. Mereka ingin dihargai sebagai individu yang mulai dewasa, tapi sistem di sekitar mereka belum siap memberikan ruang tersebut.

Strategi Bertahan Hidup

Meski menghadapi berbagai tekanan, Ikmal punya cara tersendiri untuk bertahan. Ketika dikritik atau merasa down, dia memilih untuk tidak menunjukkan kerentanannya.

"Saya lebih suka cerita sama teman dekat atau keluarga. Mereka yang ngerti saya," ungkapnya.

Dukungan sistem inilah yang menjadi penyelamat banyak remaja. Tanpa lingkungan yang suportif, proses pencarian identitas bisa menjadi jauh lebih menyakitkan.

Ikmal juga punya pandangan optimis yang menarik: "Setiap masalah pasti ada pelajarannya. Mungkin sekarang belum keliatan, tapi nanti pasti berguna."

Cermin Generasi

Cerita Ikmal sebenarnya adalah cermin dari jutaan remaja Indonesia lainnya. Mereka hidup di era yang penuh dengan ekspektasi tinggi—dari keluarga, sekolah, bahkan media sosial yang memaksa mereka tampil sempurna.

Generasi ini tumbuh dengan akses informasi yang berlimpah, tapi justru itu yang membuat mereka sering overthinking. Mereka tahu banyak hal, tapi belum punya cukup pengalaman untuk memproses semua informasi tersebut dengan bijak.

Tekanan untuk berprestasi, persaingan yang ketat, dan standar sosial yang tinggi membuat banyak remaja seperti Ikmal merasa tidak pernah cukup baik. Padahal, fase ini adalah masa yang wajar untuk melakukan eksperimen, membuat kesalahan, dan belajar dari pengalaman.

Mengubah Perspektif

Yang menarik dari Ikmal adalah kemampuannya melihat kekurangan sebagai peluang belajar, bukan hambatan permanen. Ini menunjukkan kematangan psikologis yang mulai berkembang.

"Saya percaya, semua yang terjadi sekarang akan berguna untuk masa depan. Mungkin cara saya hadapi masalah sekarang bakal ngebantu saya nanti," refleksinya.

Sikap ini tidak terbentuk secara tiba-tiba. Butuh dukungan lingkungan dan proses refleksi yang panjang untuk sampai pada pemahaman tersebut.

Pesan untuk Orang Dewasa

Cerita Ikmal memberikan pelajaran penting bagi orang dewasa di sekitar remaja. Mereka butuh ruang untuk bereksperimen, membuat kesalahan, dan belajar dari pengalaman sendiri.

Alih-alih terus memberikan tekanan atau mengontrol setiap keputusan mereka, orang dewasa perlu memberikan dukungan emosional dan kepercayaan bahwa remaja mampu belajar dari pengalaman mereka sendiri.

Setiap remaja punya cerita uniknya sendiri. Ikmal hanya satu dari jutaan remaja Indonesia yang sedang berjuang menemukan jati diri. Perjalanan mereka tidak selalu mulus, tapi itulah yang membuat prosesnya berharga.

Yang terpenting adalah memahami bahwa masa remaja adalah periode transisi yang wajar untuk dipenuhi dengan keraguan, eksperimen, dan pencarian identitas. Dengan dukungan yang tepat, mereka akan menemukan jalan mereka sendiri.

Artikel ini disusun berdasarkan wawancara yang dilakukan Lu'lu Naura Nur Syahidah, mahasiswi UIN Jakarta, dengan Muhammad Handzollah Ikmal Azka pada 12 Desember 2024.