Konten dari Pengguna

Kesucian yang Bakal Roboh

Lu'lu Naura Nur Syahidah
Mahasiswi, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
22 Mei 2025 12:07 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kesucian yang Bakal Roboh
Kisah kakek penjaga surau yang bunuh diri setelah mendengar cerita Haji Saleh yang masuk neraka karena ibadahnya tanpa kepedulian sosial.
Lu'lu Naura Nur Syahidah
Tulisan dari Lu'lu Naura Nur Syahidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
"Kau lebih suka beribadat saja, karena beribada tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang," (sumber: dokumen pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
"Kau lebih suka beribadat saja, karena beribada tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang," (sumber: dokumen pribadi)
ADVERTISEMENT
Hampir tujuh dekade berlalu sejak A.A. Navis menerbitkan kumpulan cerpen "Robohnya Surau Kami" pada 1956, namun pesan yang tersirat di dalamnya masih sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Kumpulan cerpen yang berisi 10 judul ini, dengan cerpen utama berjudul sama, telah menjadi salah satu karya monumental dalam khazanah sastra Indonesia.
ADVERTISEMENT
Kritik atas Kesalehan yang Egois
Cerpen "Robohnya Surau Kami" menceritakan kisah tragis seorang kakek penjaga surau yang mengakhiri hidupnya setelah mendengar cerita Ajo Sidi tentang Haji Saleh yang masuk neraka meski rajin beribadah. Melalui dialog antara Tuhan dan Haji Saleh dalam cerita Ajo Sidi, Navis menyampaikan kritik tajam terhadap pemahaman agama yang sempit dan egois.
"Kamu tinggal di tanah Indonesia yang mahakaya raya, tapi engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniyaya semua. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tetapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang," ucap Tuhan kepada Haji Saleh dalam cerita tersebut.
Melalui kutipan tersebut, Navis mengajak pembaca untuk merenungkan hakikat ibadah yang sesungguhnya. Apakah beribadah hanya untuk kepentingan diri sendiri, atau juga harus bermanfaat bagi lingkungan sekitar?
ADVERTISEMENT
Simbol Keimanan yang Rapuh
Gambaran surau yang usang dan hampir roboh menjadi metafora yang kuat dalam cerpen ini. Seperti yang ditulis Navis:
"Jika tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya."
Kerusakan fisik surau tersebut merupakan representasi dari keimanan masyarakat yang rapuh dan cenderung formalistik. Kita diingatkan akan sifat masa bodoh manusia modern yang "tak hendak memelihara apa yang tidak dijaga lagi," baik itu tempat ibadah maupun nilai-nilai agama yang substansial.
Relevansi di Era Digital
Di tengah maraknya fenomena "kesalehan digital" yang ditampilkan di media sosial, pesan Navis dalam "Robohnya Surau Kami" menjadi semakin relevan. Kita kerap melihat bagaimana ekspresi keagamaan menjadi komoditas dan sarana eksistensi diri, tanpa diimbangi kepedulian sosial dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.
ADVERTISEMENT
Fenomena orang yang rajin memamerkan ibadah di media sosial namun abai terhadap persoalan sosial di sekitarnya, mirip dengan kritik yang dilontarkan Navis melalui tokoh Haji Saleh. Keduanya sama-sama mereduksi agama menjadi sekadar ritual tanpa makna sosial.
Ajakan untuk Menyeimbangkan Kehidupan
Melalui karya ini, Navis mengajak kita untuk menyeimbangkan kehidupan spiritual dengan tanggung jawab sosial. "Imbangilah ibadahmu yang baik dengan kerja keras untuk menyejahterakan hidupmu serta hidup keluarga, saudara, dan semua orang di sekitarmu," begitu pesan yang ingin disampaikan.
Dalam konteks Indonesia yang kaya akan sumber daya alam namun masih berjuang dengan berbagai persoalan sosial dan ekonomi, pesan ini menjadi sangat penting. Ibadah bukan hanya soal ritual di tempat ibadah, tetapi juga tentang bagaimana kita berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan kesejahteraan bersama.
ADVERTISEMENT
Penutup
Karya A.A. Navis ini mengingatkan kita bahwa nilai keagamaan yang sejati tidak hanya diukur dari seberapa rajin seseorang beribadah, tetapi juga dari kepeduliannya terhadap kesejahteraan sesama dan lingkungan. Di tengah maraknya konflik sosial dan ekonomi saat ini, pesan "Robohnya Surau Kami" menjadi cermin bagi masyarakat Indonesia untuk mengevaluasi kembali praktik keagamaan yang selama ini dijalankan.
Seperti halnya surau yang hampir roboh dalam cerita Navis, keimanan kita juga dapat roboh jika hanya dibangun di atas fondasi ritual tanpa disertai kepedulian sosial. Mungkin inilah saatnya kita merenung dan bertanya: sudahkah ibadah kita membawa manfaat bagi orang lain?