Kenali Trauma: Luka Tak Terlihat dan Cara Efektif Mengatasinya

Mahasiswi Program Studi Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Naura Fatharani Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Kenapa aku tidak bisa menjadi aku yang dulu?" Pertanyaan ini sering muncul di tengah meraka yang berjuang menghadapi trauma. Namun, psikolog Koleta Acintya Saraswati mengajukan tantangan yang lebih membangun: "Daripada kembali ke masa lalu, mengapa tidak menjadi versi baru yang lebih kuat, lebih kuat, lebih bijak, dan lebih damai dengan dengan diri sendiri?"
Diskusi ini membuka prespektif yang sering terabaikan tentang trauma luka emosional yang sering kali tersembunyi di balik kehidupan kita yang terlihat "baik-baik saja." Trauma tidak hanya tentang bencana besar atau tragedi, tetapi juga bisa muncul dari hal-hal kecil yang konsisten terjadi, meninggalkan bekas yang mendalam pada cara kita memandang dunia dan diri kita sendiri,
Trauma Tidak Harus Besar untuk Jadi Bermakna
Trauma adalah sesuatu yang sering kali diremehkan, baik oleh orang lain maupun oleh diri kita sendiri. "Sering kali kita berpikir, ‘Ah, cuma gitu aja. Masa sih ini trauma?’ Padahal, perasaan kita tetap valid, meski orang lain tidak menganggapnya besar," ujar Koleta.
Bullying di masa kecil, kritik yang terus-menerus, hingga pengalaman diabaikan bisa menjadi pemicu trauma yang memengaruhi kita bertahun-tahun kemudian. "Trauma tidak harus dramatis. Hal-hal kecil yang terjadi secara konsisten, bahkan yang tampaknya sepele, bisa meninggalkan luka yang tak terlihat tetapi sangat terasa," tambahnya.
Tubuh Mengingat, Meski Pikiran Berusaha Lupa
Salah satu fakta menarik tentang trauma adalah bagaimana tubuh kita menyimpan luka itu. "Ada buku luar biasa berjudul The Body Keeps the Score, yang menjelaskan bagaimana tubuh kita merekam semua pengalaman buruk itu, bahkan ketika pikiran kita mencoba melupakannya," ujar Koleta.
Efek trauma sering muncul dalam bentuk yang tidak kita sadari, seperti:
Intrusi: Kenangan buruk muncuk tiba-tiba, entah dalam bentuk flashback, mimpi buruk, atau perasaan tidak nyaman yang tidak jelas asalnya.
Avoidance: Kita secara tidak sadar menghindari tempat, orang, atau situasi yang mengingatkan pada pengalaman tersebut.
Hyperarousal: Perasaan waspada berlebihan, mudah marah, atau selalu merasa dalam bahaya.
Yang menarik, tubuh sering kali menjadi "arsip" trauma kita. Misalnya, ada orang yang tiba-tiba merasa tidak nyaman disentuh, atau merasa gelisah di tempat tertentu tanpa tahu alasannya. Semua ini adalah tanda bahwa tubuh kita mengingat apa yang pikiran kita coba lupakan.
Berhenti Mengejar Masa Lalu: Fokus pada Masa Depan
Ketika trauma menguasai kita, sering kali kita terjebak dalam keinginan untuk kembali ke "versi lama" diri kita. Tapi Koleta mengingatkan bahwa itu bukanlah solusi. "Daripada mencoba menjadi diri kita yang dulu, kenapa tidak menciptakan versi baru yang lebih baik? Trauma, bagaimanapun, akan mengubah kita. Jadi, gunakan itu untuk membentuk sesuatu yang lebih baik," katanya.
Transformasi ini bukan berarti melupakan masa lalu, melainkan menerima bahwa luka itu adalah bagian dari perjalanan kita. "Luka mungkin meninggalkan bekas, tapi itu tidak harus menyakitkan selamanya," tambahnya.
Dari Korban Menjadi Penggerak: Tahapan Penyembuhan Trauma
Koleta menjelaskan tiga tahap utama dalam siklus penyembuhan trauma:
Korban (Victim): Tahap ketika trauma terjadi dan kita kehilangan kendali.
Penyintas (Survivor): Kita mulai belajar bertahan hidup dengsn luka itu, tapi sering kali masih terjebak dalam mode bertahan.
Penggerak (Thriver): Tahap di mana kita benar-benar hidup' bukan hanya bertahan. Luka itu tidak lagi menjadi penghalang, melainkan pelajaran.
"Menjadi thriver berarti menjalani hidup yang penuh, tanpa bayang-bayang ketakutan dari masa lalu. Anda tidak lagi hanya bertahan, tetapi benar-benar menggerakkan hidup ke arah yang Anda inginkan," kata Koleta.
Kapan Harus Mencari Bantuan?
Banyak dari kita merasa mampu menangani trauma sendiri, namun tidak semua luka bisa sembuh tanpa bantuan. Koleta menyarankan untuk mencari bantuan profesional jika Anda merasa:
Kebingungan atau kehilangan kundali atas hidup.
Pola hidup Anda merugikan diri sendiri atau orang lain.
Merasa stuck, meski sudah mencoba berbagai cara.
Mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, itu adalah bentuk keberanian untuk menghadapi luka kita dan mengambil langkah menuju pemulihan.
Trauma Tidak Harus Menjadi Pelajaran
Koleta mengingatkan bahwa trauma tidak mendefinisikan kita, kecuali kita membiarkannya. "Memori tentang trauma mungkin akan selalu ada, tapi respons kita terhadapnya bisa berubah. Dengan proses yang tepat, luka itu bisa sembuh, dan kita bisa hidup dengan damai," ujarnya.
Bagi Anda yang merasa masih terjebak dalam trauma, ingatlah bahwa ada harapan. "Anda tidak perlu menghadapi ini sendirian. Cari dukungan, baik dari orang yang Anda percaya maupun dari profesional. Anda lebih kuat dari yang Anda kira, dan Anda layak untuk hidup dengan damai," pesan Koleta.
Melangkah Menuju Versi Baru Diri Kita
Luka dari masa lalu mungkin tidak bisa dihapus sepenuhnya, tetapi luka itu juga tidak harus menjadi beban selamanya. Anda punya kekuatan untuk mengubahnya menjadi pelajaran yang membawa Anda ke versi terbaik diri Anda.
Jika Anda merasa butuh dukungan, kunjungi bicarakan.id untuk berbicara dengan psikolog profesional. Jangan ragu untuk mengambil langkah pertama, karena perjalanan menuju kebahagiaan selalu dimulai dengan keberanian kecil untuk memulai.
"Luka Anda adalah bagian dari cerita Anda, tapi itu tidak harus menjadi cerita utamanya. Anda berhak menulis babak baru yang lebih indah."
