Konten dari Pengguna

Mengapa Otak Kita Gelisah Tanpa HP? Kajian Biopsikologi tentang Peran Dopamin

NAURA GARNIS NABILAH

NAURA GARNIS NABILAH

Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari NAURA GARNIS NABILAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam Ketergantungan Digital

Ilustrasi kecanduan handphone yang mengakibatkan nomophobia (foto:freepik)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kecanduan handphone yang mengakibatkan nomophobia (foto:freepik)

Era globalisasi dan modernisasi merupakan berkah sekaligus tantangan bagi umat manusia. Kemajuan teknologi telah memudahkan akses ke internet, media sosial, bahkan gim daring, yang memengaruhi kebiasaan. Internet telah menjadi kebutuhan sehari-hari, terutama bagi generasi milenial. Dengan ponsel pintar yang dapat diakses di mana saja, kapan saja, dunia seolah berada dalam genggaman kita. Semua informasi, data, dan kebutuhan yang kita butuhkan kini tertampung dalam satu perangkat. Gawai sendiri biasa disebut "gawai" dalam bahasa Indonesia. Gawai memungkinkan manusia untuk bebas bergerak, tanpa memandang waktu atau usia, dan fungsinya bergantung pada kebijaksanaan pengguna (Pangestuti & Jannah, 2023).

Perilaku bermain gim daring yang tidak terkontrol dapat bermula dari keinginan seseorang untuk mengendalikan keputusan impulsif. Hal ini melibatkan sistem limbik dan paralimbik, yang mengandung dopamin dalam jumlah besar dan sensitif terhadap penurunan kadar dopamin. Untuk mendapatkan dopamin, seseorang melakukan aktivitas yang mereka sukai. Hal ini menciptakan pola kebutuhan gratifikasi impulsif yang menghasilkan rasa senang di otak (sirkuit penghargaan) (Iqrobi, 2020). Gratifikasi yang berlebihan, jika dirangsang dalam jangka waktu lama dan dengan frekuensi yang terus-menerus, dapat menyebabkan kecanduan (Pangestuti & Jannah, 2023).

Fenomena ini menarik untuk dikaji karena menggambarkan bagaimana sistem reward di otak berperan dalam membentuk perilaku kompulsif terhadap ponsel. Melalui pendekatan biopsikologi, kita dapat memahami bahwa rasa gelisah tanpa HP tidak hanya bersumber dari kebiasaan, melainkan hasil dari mekanisme neurokimia, terutama keterlibatan neurotransmitter dopamin. Tujuan esai ini adalah untuk menjelaskan keterlibatan sistem dopamin dalam pembentukan perilaku ketergantungan digital dan implikasinya terhadap fungsi otak manusia.

Dopamin dan Sistem Reward Otak

Dopamin adalah neurotransmitter monoamina yang memainkan peran sentral dalam otak, khususnya dalam sistem saraf. Reward (Hadiah) yang dikenal sebagai jalur mesolimbik. Jalur ini menghubungkan area tegmental ventral (VTA) dengan nukleus akumbens (NAc), pusat kesenangan dan motivasi otak. Fungsi utama dopamin dalam sistem ini bukan hanya untuk menghasilkan sensasi kesenangan (hedonia), melainkan untuk memediasi motivasi dan hasrat (Ingin) dan pembelajaran prediktif (Sari & Wibowo, 2021). Ketika suatu perilaku dianggap pro-survival, seperti makan atau interaksi sosial, pelepasan dopamin memicu keinginan untuk mengulangi perilaku tersebut, memperkuat jalur saraf yang terkait dengan pengalaman positif tersebut.

Sistem dopamin ini berevolusi untuk memastikan organisme mencari sumber daya vital. Namun, sistem ini sangat plastis, merespons stimulus baru atau berintensitas tinggi. Saat ini, banyak aktivitas non-esensial, termasuk penggunaan teknologi digital, dapat memicu pelepasan dopamin yang signifikan. Pelepasan dopamin yang berulang dan cepat akibat interaksi digital ini "mengajarkan" otak bahwa stimulus tersebut sangat diinginkan dan layak dicari. Hal ini menciptakan lingkaran umpan balik positif yang memicu perilaku mencari secara kompulsif (Pratiwi & Hidayati, 2020).

Mekanisme Dopamin dalam Ketergantungan Digital

Kecanduan digital, seperti kecanduan Bermain online atau media sosial, bekerja melalui mekanisme yang sangat mirip dengan zat adiktif lainnya, yaitu disregulasi sistem dopamin. Aktivitas digital yang memberikan umpan balik langsung (misalnya, notifikasi,A, atau kemajuan dalam permainan) menyebabkan lonjakan dopamin yang cepat dan intens di NAc. Lonjakan ini memberikan rasa puas sementara, tetapi seiring waktu, otak mulai beradaptasi dengan tingkat stimulasi yang tinggi ini.

Adaptasi ini mengarah pada fenomena toleransi di mana individu membutuhkan dosis atau durasi interaksi digital yang lebih lama dan lebih intens untuk mencapai tingkat kepuasan yang sama seperti sebelumnya. Akibatnya, sensitivitas reseptor dopamin menurun (downregulation) atau produksi dopamin basal menurun. Kondisi ini memaksa pengguna untuk terus-menerus mencari stimulus digital yang lebih intens, bukan untuk kesenangan, melainkan untuk menghindari perasaan tidak nyaman atau anhedonia (ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan) yang disebabkan oleh kekurangan dopamin normal (Wulandari dkk., 2022).

Dampak Biologis dan Psikologis

Dari perspektif biologis, paparan berlebihan terhadap stimulus digital yang merangsang dopamin dapat menyebabkan perubahan struktural dan fungsional pada otak. Selain perubahan pada sistem saraf otak,hadiahPerubahan juga terjadi pada korteks prefrontal (PFC), area otak yang bertanggung jawab atas fungsi eksekutif seperti perencanaan, pengambilan keputusan, dan pengendalian impuls (Sari & Wibowo, 2021). Penurunan fungsi PFC disebabkan oleh dominasi sistem saraf pusat.hadiahHiperaktivitas dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk menahan godaan menggunakan perangkat digital, meskipun menyadari konsekuensi negatifnya.

Dampak psikologis dari disregulasi dopamin ini sangat luas. Secara emosional, orang yang kecanduan perangkat elektronik sering mengalami peningkatan kecemasan dan iritabilitas ketika dipisahkan dari perangkat elektronik mereka, yang merupakan manifestasi dari gejala putus zat (untuk mundur) efek dopaminergik. Lebih lanjut, karena waktu yang dihabiskan untuk interaksi digital menggantikan aktivitas lain yang secara alami menghasilkan dopamin (seperti olahraga atau interaksi tatap muka), hal ini menyebabkan penurunan kualitas hidup dan peningkatan risiko depresi (Pratiwi & Hidayati, 2020).

Secara perilaku, kecanduan digital mengganggu ritme sirkadian dan kualitas tidur akibat paparan cahaya biru dan stimulasi kognitif sebelum tidur. Gangguan tidur ini semakin mengganggu fungsi kognitif dan regulasi emosi, menciptakan lingkaran setan di mana mereka yang terdampak mencari jalan keluar digital untuk mengatasi emosi negatif, yang diperparah oleh perilaku kecanduan itu sendiri (Wulandari dkk., 2022).

Mengembalikan Keseimbangan Otak

Memulihkan keseimbangan sistem dopamin yang terganggu akibat kecanduan digital memerlukan pendekatan yang berfokus pada pemulihan sensitivitas reseptor dan penguatan fungsi korteks prefrontal (PFC). Langkah awal yang krusial adalah "detoks digital", yaitu pengurangan paparan terhadap sumber dopamin yang bersifat hiperstimulasi secara bertahap namun signifikan. Pengurangan ini memungkinkan otak untuk memulai proses pemulihan.Regulasi yang berlebihan, yaitu dengan meningkatkan jumlah dan sensitivitas reseptor dopamin yang sebelumnya terpengaruhPenurunan regulasi(Sari e Wibowo, 2021).

Aktivitas yang secara alami merangsang pelepasan dopamin sedang dan berkelanjutan sangat direkomendasikan sebagai pengganti stimulus digital. Aktivitas fisik teratur, paparan sinar matahari, dan mencapai tujuan spesifik (non-digital) telah terbukti efektif dalam menormalkan kadar dopamin dan meningkatkan kesejahteraan.Humortanpa menyebabkan lonjakan tegangan drastis yang dapat merusak sistemhadiah(Pratiwi & Hidayati, 2020). Aktivitas ini mendorong pelepasan dopamin yang lebih konstan dan tahan lama, sehingga lebih mengutamakan motivasi jangka panjang daripada kepuasan sesaat.

Terapi perilaku kognitif (CBT) juga memainkan peran penting dalam memulihkan keseimbangan mental dengan melatih kembali korteks prefrontal untuk mengendalikan impuls. CBT membantu mereka yang terdampak mengidentifikasi pemicu penggunaan digital dan mengembangkan strategi koping yang sehat. Dengan secara sadar mengalihkan fokus dari mencarihadiahsegera menuju kegiatan yang konstruktif dan bermakna, individu dapat secara bertahap mengkalibrasi ulang jalur dopamin mereka, sehinggahadiahbertindak kembali sebagai panduan motivasi yang sehat dan bukan sebagai sumber kendala (Wulandari et al., 2022).

Ketergantungan digital bukan hanya fenomena sosial, tetapi juga hasil dari aktivitas biologis yang kompleks di otak, khususnya keterlibatan sistem dopamin dalam jalur reward. Setiap notifikasi dan interaksi digital memberikan stimulus kecil yang memperkuat perilaku kompulsif memeriksa HP. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengganggu keseimbangan dopamin dan menurunkan kemampuan kontrol diri.

Kesadaran akan mekanisme ini penting agar kita bisa menggunakan teknologi dengan lebih bijak. Menjaga keseimbangan antara dopamin dan kontrol diri bukan berarti menjauhi teknologi, melainkan memahami batasan diri agar otak tidak terus-menerus terjebak dalam lingkaran “reward instan”. Dengan pendekatan biopsikologi, kita bisa melihat ketergantungan digital bukan sebagai kelemahan moral, tetapi sebagai fenomena ilmiah yang perlu dikelola dengan pemahaman dan kesadaran diri.

Dengan strategi seperti digital detox, mindfulness, dan edukasi digital awareness, kita bisa membangun hubungan yang lebih sehat dan seimbang dengan HP. Karena pada akhirnya, bukan HP yang harus menguasai kita melainkan kita yang menguasai hubungan kita dengan teknologi.

Pangestuti, R., & Jannah, R. (2023). Dopamine detox: Upaya pengendalian kecanduan gadget pada anak di era digital perspektif Surah Al-‘Ashr ayat 1–3. Journal of Islamic Management Education, 3(2), 19–30.

Iqrobi, E. M. (2020). Efektivitas muhasabah untuk meningkatkan kontrol diri pada pemain game online siswa SMP Hasanuddin 6 Tugurejo Kecamatan Tugu [Skripsi, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang].

Pratiwi, A. E., & Hidayati, N. (2020). Hubungan antara fear of missing out (FoMO) dengan ketergantungan media sosial pada remaja. Jurnal Hesti Wira Bhakti, 8(1), 1–8.

Sari, D. P., & Wibowo, A. (2021). Peran dopamin dalam pembentukan perilaku adiktif: Tinjauan neurobiologis. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental, 5(2), 45–52.

Wulandari, R., Rahmawati, D., & Santoso, B. (2022). Dampak penggunaan gadget berlebihan terhadap fungsi eksekutif dan kualitas tidur remaja. Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia, 17(3), 189–198.