Rapiah dalam Salah Asuhan: Perempuan, Zaman, dan Pilihan Hidup

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Naura Nashifa Partia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tokoh Rapiah dalam Novel Salah Asuhan
Novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis pertama kali terbit pada tahun 1928 melalui penerbit Balai Pustaka. Novel ini menceritakan kehidupan Hanafi, seorang pribumi terdidik yang lebih mengagumi budaya Barat hingga perlahan menjauh dari adat dan identitasnya sendiri.
Di tengah konflik Hanafi dan Corrie, hadir tokoh Rapiah: perempuan sederhana, penurut, dan tidak mengejar pendidikan tinggi. Banyak pembaca masa kini menganggap Rapiah sebagai gambaran perempuan yang tertindas. Namun, menurut saya, Rapiah tidak bisa langsung dihakimi menggunakan standar feminisme masa sekarang.
Sebagian orang masih memahami feminisme sebagai upaya perempuan untuk lebih unggul dari laki-laki. Padahal, inti feminisme lebih dekat pada perjuangan agar perempuan memiliki hak, kesempatan, dan kebebasan untuk menentukan hidupnya sendiri tanpa paksaan maupun diskriminasi. Tidak semua perempuan harus menjadi sosok yang sama untuk dianggap merdeka.
Dalam novel disebutkan bahwa Rapiah adalah anak Sutan Batuah, seorang guru kepala di Bonjol (hlm. 76). Artinya, Rapiah berasal dari keluarga yang dekat dengan dunia pendidikan. Namun, ia tetap menjalani hidup sederhana dan tidak mengejar pendidikan Barat seperti Hanafi atau Corrie.
Hal itu perlu dilihat sesuai zamannya. Pada awal 1900-an, perempuan bumiputra memang belum memiliki banyak ruang untuk menentukan hidupnya sendiri seperti yang dipahami saat ini. Kesadaran tentang emansipasi perempuan juga belum berkembang luas. Kongres Perempuan Indonesia pertama bahkan baru berlangsung pada tahun 1928. Karena itu, kehidupan Rapiah tidak bisa langsung dibaca sebagai kegagalan perempuan untuk “melawan”.
Meski demikian, pilihan hidup Rapiah tentu juga dipengaruhi oleh kondisi sosial dan budaya pada masanya yang masih membatasi ruang gerak perempuan. Sebab itu, Rapiah tidak bisa semata-mata dianggap lemah, tetapi juga tidak bisa sepenuhnya dipahami sebagai perempuan yang benar-benar bebas memilih.
Mungkin, memang itulah kehidupan yang paling ia kenal dan ia jalani pada zamannya. Sebab feminisme bukan tentang memaksa semua perempuan menjadi modern sesuai standar masa kini, melainkan memberi perempuan ruang untuk menentukan hidupnya sendiri.
Dan mungkin, pada masa itu, Rapiah memang hidup dengan cara yang ia pahami sebagai jalan hidupnya.
Naura Nashifa Partia, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Jakarta
