Sri Sumarah dan Bawuk: Luka 1965 yang Ditanggung Para Ibu

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Naura Nashifa Partia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Luka Para Ibu - Novelet Sri Sumarah dan Bawuk
Ketika membicarakan tragedi 1965, perhatian sering tertuju pada konflik politik dan pertarungan ideologi. Padahal, ada banyak orang biasa yang ikut menjadi korban, termasuk para ibu. Melalui Sri Sumarah dan Bawuk, Umar Kayam menunjukkan bahwa dampak sebuah peristiwa politik tidak hanya dirasakan oleh mereka yang terlibat langsung, tetapi juga oleh keluarga yang ditinggalkan. Sri Sumarah adalah sosok ibu yang hidup sederhana dan penuh kesabaran. Setelah kehilangan suami, ia berjuang membesarkan anaknya seorang diri. Namun, situasi politik membuat keluarganya kembali dilanda kehilangan. Ketika gejolak 1965 terjadi, keluarga Sri ikut terseret arus sejarah. Ketakutan yang dialami tokoh-tokohnya tergambar dalam ungkapan, “Perang, Jenderal-jenderal ambil alih kekuasaan. Kita kaum kiri akan ditangkapi dan dibunuh” (Kayam, 2024: 43). Situasi tersebut kemudian berdampak langsung pada keluarga Sri, terutama ketika Tun harus menjalani penahanan: “Tun dipindahkan ke tahanan di lain kota, ke P, disatukan dengan tahanan-tahanan perempuan yang lain” (Kayam, 2024: 60). Meski demikian, Sri tetap bertahan dan merawat cucunya dengan tabah.
Sementara itu, Bawuk harus menghadapi kenyataan pahit setelah suaminya terseret dalam gejolak politik 1965. Ia kehilangan keluarga yang utuh dan terpaksa berpisah dari anak-anaknya. Melalui tokoh Bawuk, Umar Kayam memperlihatkan bagaimana perempuan sering kali menjadi pihak yang paling merasakan dampak berkepanjangan dari konflik politik, meskipun mereka bukan pelaku utama dalam peristiwa tersebut.
Melalui kedua tokoh ini, Umar Kayam memperlihatkan bahwa korban tragedi 1965 bukan hanya mereka yang ditangkap atau dibunuh, tetapi juga para ibu yang harus hidup dengan kehilangan. Mereka tidak terlibat dalam perebutan kekuasaan, tetapi tetap menanggung akibatnya. Sri dan Bawuk menjadi gambaran bagaimana peristiwa besar dalam sejarah dapat menghancurkan kehidupan orang-orang biasa. Kehidupan mereka menunjukkan bahwa trauma politik tidak berhenti pada individu yang menjadi sasaran langsung, melainkan meluas hingga keluarga dan generasi berikutnya.
Hingga kini, kisah mereka tetap relevan. Sri Sumarah dan Bawuk mengingatkan bahwa di balik setiap konflik politik, selalu ada keluarga yang terluka dan para ibu yang harus belajar melanjutkan hidup setelah kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Sejarah mungkin mencatat peristiwanya, tetapi sastra membantu kita memahami luka manusia yang ditinggalkannya.
