Butuh atau Cuma Ingin? Belajar Mengatur Keuangan dari Kebiasaan Belanja

Mahasiswi Universitas Pamulang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Program Studi Manajemen S1
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Naura Oktavianda Eka P R tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih, kita pergi ke marketplace hanya karena ingin membeli satu barang yang memang sedang dibutuhkan, tetapi akhirnya justru membeli beberapa barang lain yang sebenarnya tidak terlalu penting? Awalnya hanya ingin membeli barang A, tetapi setelah melihat-lihat produk lain, tiba-tiba ada barang B yang terasa menarik. Lalu muncul barang C karena sedang diskon. Sampai akhirnya kita melakukan checkout dengan jumlah barang yang jauh lebih banyak dari rencana awal. Lalu seberapa penting kita perlu memahami literasi keuangan ?
Banyak dari kita terkadang mengalami hal seperti ini. Ada kalanya kita sudah memiliki tujuan tertentu ketika membuka marketplace, tetapi setelah melihat berbagai macam produk, keinginan untuk membeli barang lain muncul begitu saja. Begitu juga ketika membeli makanan. Awalnya hanya ingin membeli makanan karena lapar, tetapi karena ada promo atau menu yang terlihat menarik, akhirnya membeli lebih dari yang sebenarnya dibutuhkan.
Hal seperti ini mungkin terlihat sepele karena nominal setiap pembelian tidak selalu besar. Namun, jika dilakukan berkali-kali, pengeluaran kecil tersebut ternyata bisa menjadi cukup besar. Uang yang seharusnya bisa digunakan untuk kebutuhan lain akhirnya habis untuk barang atau makanan yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan. Maka kita perlu memahami literasi keuangan untuk membantu kita mengambil keputusan dalam menggunakan uang sehari-hari. Kita Sering Sulit Membedakan Kebutuhan dan Keinginan
Salah satu masalah dalam mengatur keuangan adalah kita sering kesulitan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan merupakan sesuatu yang memang diperlukan, sedangkan keinginan lebih kepada sesuatu yang ingin dimiliki meskipun tanpa barang tersebut kita sebenarnya masih bisa menjalani aktivitas seperti biasa. Masalahnya, keinginan sering kali terasa seperti kebutuhan ketika kita sedang menginginkannya.
Contohnya, ketika membutuhkan sepatu baru karena sepatu yang lama sudah rusak, membeli sepatu baru memang merupakan kebutuhan. Tetapi ketika sedang mencari sepatu tersebut kemudian melihat tas, pakaian, atau aksesori yang menarik, kita mulai berpikir, “Sekalian deh, mumpung ada promo.” Kalimat “mumpung ada promo” terkadang menjadi alasan yang membuat kita membeli sesuatu yang sebenarnya tidak ada dalam rencana. Padahal, barang yang diskon tetap membuat kita mengeluarkan uang. Mendapatkan potongan harga bukan berarti kita menghemat jika barang tersebut memang tidak kita butuhkan. Kemudahan Berbelanja Juga Menjadi Tantangan
Perkembangan teknologi membuat masalah ini semakin mudah terjadi. Sekarang membeli sesuatu tidak membutuhkan banyak usaha. Kita tidak perlu datang ke toko, cukup membuka HP, memilih barang, memasukkan ke keranjang, dan melakukan pembayaran.
Belum lagi adanya berbagai promo, gratis ongkir, flash sale, dan notifikasi dari aplikasi belanja yang membuat kita terus melihat produk baru. Kemudahan tersebut sebenarnya sangat membantu. Namun, tanpa kemampuan mengendalikan diri, kemudahan berbelanja justru dapat membuat kita lebih konsumtif. Di sinilah literasi keuangan menjadi penting. Literasi keuangan bukan hanya tentang bagaimana cara menabung atau berinvestasi. Literasi keuangan juga berkaitan tentang bagaimana seseorang mampu mengambil keputusan keuangan dengan mempertimbangkan kebutuhan, kemampuan, dan tujuan keuangannya.
Lalu bagaimana solusinya?
Belajar Mengatur Keuangan dari Hal Sederhana
Meningkatkan literasi keuangan tidak harus dimulai dari sesuatu yang rumit. Kita bisa memulainya dari kebiasaan sederhana sebelum membeli sesuatu. Misalnya dengan bertanya kepada diri sendiri: “Saya benar-benar membutuhkan barang ini atau hanya sedang menginginkannya?” Kemudian kita bisa bertanya lagi, “Kalau saya tidak membeli barang ini sekarang, apakah ada masalah?” Kalau jawabannya tidak, mungkin barang tersebut memang bukan kebutuhan yang harus segera dibeli. Selain itu, kita perlu membuat batas pengeluaran. Kita bisa menentukan berapa uang yang boleh digunakan untuk kebutuhan, tabungan, dan keinginan. Dengan begitu, kita tetap bisa menikmati uang yang kita miliki tanpa mengganggu kebutuhan utama.
Kita juga tidak harus menghilangkan semua keinginan. Membeli makanan favorit, pakaian, skincare, atau barang yang kita sukai sebenarnya tidak salah. Yang menjadi masalah adalah ketika keinginan tersebut tidak lagi dikendalikan dan mulai mengganggu kondisi keuangan.
Bukan Tidak Boleh Checkout, tetapi Harus Tahu Batas
Pada akhirnya, mengatur keuangan bukan berarti kita harus menjadi seseorang yang sama sekali tidak boleh menikmati hasil dari uang yang kita miliki. Kita tetap boleh membeli sesuatu yang kita inginkan. Namun, kita harus tahu kapan harus berkata “cukup”.
Kebiasaan membeli barang karena “mumpung diskon”, mengikuti tren, atau sekadar karena terlihat menarik mungkin terasa menyenangkan saat melakukan checkout. Tetapi setelah melihat saldo rekening berkurang, terkadang kita baru menyadari bahwa barang tersebut sebenarnya tidak terlalu kita butuhkan.
Dari pengalaman tersebut, kita belajar bahwa literasi keuangan ternyata sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bukan hanya tentang investasi atau bagaimana mendapatkan keuntungan, tetapi juga tentang bagaimana kita mengambil keputusan sebelum mengeluarkan uang.
Karena pada akhirnya, masalah keuangan tidak selalu dimulai dari pengeluaran yang besar. Terkadang, masalah justru dimulai dari kebiasaan kecil yang terus kita lakukan tanpa kita sadari. Jadi, sebelum menekan tombol “checkout”, mungkin ada baiknya kita berhenti sebentar dan bertanya kepada diri sendiri: “Ini benar-benar kebutuhan saya, atau cuma keinginan saya?”
