Konten dari Pengguna

Middle Child Syndrome: Posisi Tengah, Perhatian Setengah?

Naura Qanita Illahiya Azla

Naura Qanita Illahiya Azla

Seorang mahasiswa Administrasi Publik di Universitas Sriwijaya yang tertarik dengan dunia politik dan juga psikologis

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Naura Qanita Illahiya Azla tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi keluarga dengan anak tengah yang menggambarkan middle child syndrome dalam suasana rumah. (Ilustrasi: Karya Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi keluarga dengan anak tengah yang menggambarkan middle child syndrome dalam suasana rumah. (Ilustrasi: Karya Pribadi)

Pernah mendengar istilah Middle Child Syndrome? atau justru kamulah yang menjadi bagian dari Middle Child Syndrome? Jika iya, mungkin kamu pernah berada di posisi yang serba tanggung, tidak dituntut seperti kakak, tetapi juga tidak terlalu dimanja seperti adik.

Menjadi anak tengah sering dianggap lelucon atau steriotip tertentu, terlebih di media sosial terdapat beberapa tagar mengenai anak tengah yang cukup popular. Disaat kakak yang menjadi pencapaian dan kebanggaan dan adik yang mendapat perhatian lebih karena statusnya sebagai bungsu. Ada anak tengah yang luput dari perhatian, dipaksa untuk mengerti, tetapi tidak selalu cukup diperhatikan untuk dimengerti.

Fenomena ini tidak secara tiba-tiba ada di zaman sekarang. Namun, jauh sebelum itu seorang psikologis Australia bernama Alfred Adler pada tahun 1920-an, sudah mulai mengenalkan birth order theory yang menyebabkan istilah middle child syndrome menjadi popular. Teori tersebut menjelaskan bahwa urutan kelahiran bukan sekadar posisi dalam keluarga, melainkan faktor yang dapat mempengaruhi pola kepribadian. Anak pertama cenderung tumbuh sebagai seorang yang memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, anak bungsu sering digambarkan sebagai anak yang penuh akan perhatian, sedangkan anak tengah cenderung tumbuh menjadi pribadi yang adaptif, karena sejak kecil sudah berada di antara dua karakter yang berbeda. Namun, teori akan tetap menjadi teori. Dalam praktiknya, pengalaman setiap anak bisa jauh lebih rumit.

Penulis sendiri tumbuh sebagai anak tengah. Di antara kakak dan adik, ada perasaan yang sulit untuk dijelaskan. Karakter yang terbentuk pun tidak sepenuhnya sama. Jika kakak dan adik lebih ekpresif dalam menceritakan keseharian mereka kepada orang tua, bahkan hingga hal-hal kecil seperti perasaan menyukai seseorang. Bukan karena tidak ingin bercerita, penulis jusru memilih untuk memendam dan menyelesaikan semuanya sendiri, entah sejak kapan kebiasaan tersebut muncul. Ada rasa bahwa cerita-cerita kecil itu tidak terlalu penting untuk dibagikan. Sikap pendiam dan memendam itu perlahan menjadi bagian dari identitas.

Selama delapan tahun pertama kehidupan, posisi anak paling kecil sudah cukup nyaman dijalani. Panggilan “adik” melekat begitu lama hingga terasa menjadi bagian dari diri sendiri. Namun, ketika di tahun kedelapan hadir seorang adik baru di dalam keluarga yang membuat dinamika dan status itu berubah. Perhatian yang dulu terasa utuh, kini harus terbagi. Tahun pertama setelah kelahiran adik menjadi fase yang penuh gejolak. Ada pemberontakan kecil yang bahkan tidak sepenuhnya tahu apa alasannya. Emosi lebih sensitif dan sikap menjadi lebih keras dari biasanya. Setelah berjalannya waktu muncul kesadaran bahwa reaksi tersebut bukan tanpa sebab. Ada rasa kehilangan yang tidak disadari, kehilangan panggilan “adik”, kehilangan posisi, kehilangan perhatian yang dulu terasa pasti. Menurut teori Adler, reaksi tersebut bukanlah sesuatu yang aneh. Anak tengah sering kali mengalami fase pencarian identitas ketika posisinya berubah. Ia harus beradaptasi ketika posisinya berubah, terutama saat tidak lagi menjadi anak bungsu dalam keluaga. Proses adaptasi inilah yang dapat memengaruhi cara anak tengah memandang dirinya sendiri.

Pengalaman itu menunjukkan bahwa middle child syndrome bukan semata-mata tentang merasa terabaikan. Ia juga tentang transisi, tentang penyesuaian, dan tentang upaya memahami perubahan peran dalam keluarga. Anak tengah belajar menerima bahwa kasih sayang tidaklah berkurang, melainkan terbagi. Namun, memahami hal itu secara rasional berbeda dengan merasakannya secara emosional. Di sisi lain, posisi tengah justru membentuk kekuatan tersendiri. Tumbuh di antara dua karakter membuat anak tengah belajar membaca situasi. Ia menjadi lebih peka terhadap suasana, lebih mudah berempati, dan sering kali menjadi penengah ketika terdapat konflik. Kemandirian yang terbentuk mungkin lahir dari kebiasaan memendam cerita, tetapi dari situlah muncul ketahanan diri.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah middle child syndrome benar adanya, melainkan bagaimana keluarga menyadari dinamika ini. Perhatian yang adil bukan berarti sama rata dalam bentuk, tetapi sama dalam kualitas. Setiap anak membutuhkan ruang untuk merasa penting, bukan karena urutan kelahiran, melainkan karena keberadaan itu sendiri. Posisi tengah tidak berarti perhatian setengah. Sebab dalam keluarga, tidak ada anak yang pantas merasa menjadi pilihan kedua.