Konten dari Pengguna

Menyesap Manis Tradisi di Segelas Dawet Hj. Sipon, Pasar Gede

Naura Sakina

Naura Sakina

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Naura Sakina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dawet Hj. Sipon yang tetap eksis hingga kini. (Fatima Naura)
zoom-in-whitePerbesar
Dawet Hj. Sipon yang tetap eksis hingga kini. (Fatima Naura)

Siang di Surakarta terasa lengket oleh terik matahari. Jalanan ramai, suara kendaraan saling bersahutan, dan udara panas seolah enggan memberi jeda. Saya dan seorang teman yang semula hanya berniat berkeliling kota akhirnya memilih berhenti di kawasan Pasar Gede, mencari sedikit ruang untuk bernapas dari hiruk-pikuk siang itu.

Langkah kami menyusuri lorong pasar yang teduh. Aroma kelapa parut dan gula merah yang mencair perlahan menyergap indera penciuman. Di antara deretan pedagang dan riuh percakapan, terdengar bunyi sendok logam beradu dengan mangkuk porselen—ritme kecil yang akrab di telinga. Suara itu membawa kami berhenti di sebuah warung sederhana dengan papan bertuliskan Dawet Hj. Sipon.

Warungnya tak besar. Meja kayu, bangku sederhana, dan antrean pembeli yang datang silih berganti. Tanpa banyak basa-basi, kami memesan dua mangkuk dawet. Di balik meja, seorang perempuan paruh baya melayani dengan gerak cekatan. Senyumnya hangat, tangannya terampil menuang cendol hijau, bubur sumsum putih, dan ketan hitam ke dalam mangkuk.

Namanya Ibu Rohmah. Ia sudah bertahun-tahun bekerja di warung ini. Sambil menyiapkan pesanan, ia bercerita bahwa Dawet Hj. Sipon mulai berjualan di Pasar Gede sejak 2006. “Dulu yang jual dawet belum sebanyak sekarang,” ujarnya mengenang. Usaha ini dirintis langsung oleh Bu Hj. Sipon, yang perlahan membuat dawetnya dikenal dari mulut ke mulut, hingga akhirnya menjadi tujuan banyak orang—dari warga lokal, wisatawan luar kota, bahkan mancanegara.

Saya memperhatikan setiap takaran yang dituangkan. Semua tampak sederhana, namun terasa terjaga. Ibu Rohmah tersenyum kecil ketika ditanya soal rasa. “Rahasia ada di gula dan santannya. Itu cuma Bu Hj. Sipon yang tahu,” katanya. Bahan-bahan yang digunakan pun berasal dari produksi lokal, sesuatu yang sengaja dipertahankan sejak awal.

Perjalanan warung ini, tentu, tidak selalu manis. Ibu Rohmah mengingat masa pandemi ketika pasar nyaris sepi total. Tidak ada wisatawan, tidak ada keramaian. “Waktu itu berat sekali,” katanya lirih. Namun perlahan, setelah pasar kembali dibuka, pembeli mulai berdatangan lagi. Kini, di hari biasa saja, ratusan porsi bisa terjual.

Ada kebanggaan tersendiri saat ia menceritakan pengunjung dari Malaysia yang datang khusus ke Pasar Gede hanya untuk mencicipi dawet ini. “Capeknya langsung hilang,” ujarnya dengan mata berbinar. Baginya, dawet bukan sekadar minuman, melainkan cerita panjang yang terus berlanjut.

Di tengah menjamurnya minuman modern, Dawet Hj. Sipon tetap bertahan dengan rasanya yang sama. Ibu Rohmah berharap anak muda tidak melupakan kuliner tradisional. Ia memaknai dawet sebagai simbol kebersamaan—cendol, bubur, dan ketan yang berbeda, namun menyatu dalam satu mangkuk.

Saya menghabiskan dawet hingga tetes terakhir. Manis gula merah dan gurih santan berpadu lembut, meninggalkan rasa tenang yang sulit dijelaskan. Saat hendak membayar, Ibu Rohmah tersenyum dan menolak halus. Kami berpamitan, melangkah menjauh dari warung kecil itu.

Di sepanjang perjalanan pulang, saya menyadari bahwa segelas dawet tidak hanya menawarkan kesegaran, tetapi juga menyimpan ingatan, ketekunan, dan kesabaran. Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya minuman biasa. Namun di Pasar Gede, Dawet Hj. Sipon adalah cerita yang terus mengalir—setia, sederhana, dan tetap hidup di tengah perubahan zaman.