Seberapa Efektif Metode Criminal Profiling dalam Investigasi Pembunuhan?

Mahasiswi S1 Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Naurah Ayu Iftitah Lasabuda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jika ada suatu kasus pembunuhan, tim penyidik serta pihak yang berwenang pasti akan melakukan penyelidikan olah tempat kejadian perkara (TKP), seperti pencarian barang bukti yang ada, sidik jari yang tertinggal, hingga dilakukan pemeriksaan ke mayat korban. Tentu hal semacam ini sudah menjadi sesuatu yang lazim sebab dalam persidangan nantinya diperlukan bukti-bukti yang akurat untuk menentukan hukuman terdakwa. Namun sebelum ke meja hukum, barang bukti yang ada pada TKP berfungsi untuk melacak serta mencari tahu dimana keberadaan si tersangka pembunuhan. tetapi, apakah barang bukti fisik juga dapat mengidentifikasi karakteristik, pola pikir dan kondisi psikologis sang pelaku ?
Pada tahun 1970-an, agen FBI yaitu Howard teten dan Pat mulany memperkenalkan metode baru untuk memahami perilaku kriminal di akademi FBI yang menjadi cikal bakal lahirnya divisi behavioral science unit (BSU) yang fokusnya untuk memahami tindakan dan karakteristik pelaku kriminal. Penemuan metode ini juga didorong oleh maraknya pembunuhan berantai yang terjadi di Amerika serikat pada saat itu. Criminal profiling adalah sebuah strategi investigasi yang dipergunakan untuk menangkap pembunuh berantai dengan menganalisa perilaku kejahatan dan kemudian membangun kesimpulan tentang kepribadian pelaku (Douglas,1986). Criminal profiling diperkuat oleh berbagai teori, terutama teori konsistensi sikap dan teori analisis bukti perilaku (Petherick & Brooks, 2021).
Kemudian pada tahun 1980 hingga 1990-an, teori-teori dalam psikologi mulai diperkenalkan dalam konstruksi profil kriminal, terutama yang berhubungan dengan gangguan kepribadian, kognitif serta behaviorisme. Era ini memunculkan tipologi pelaku kejahatan seperti terorganisir vs tidak terorganisir, yang dipergunakan untuk mengelompokkan penjahat berdasarkan tingkat pengendalian rencana yang mereka tunjukkan selama melakukan tindak kriminalitas. Terdapat setidaknya lima pendekatan utama dalam dalam pembuatan profil kriminal, yaitu analisa investigasi, pendekatan klinis, tempat kejadian, psikologi, analisa perilaku (Golebiowski, 2017). Ranah keilmuan psikologi forensik tentunya sangat diperlukan untuk praktik investigasi.
Beberapa ahli menjelaskan keuntungan dari pembuatan profil criminal (criminal profiling), metode ini terbukti efektif sebagai alat dukung proses investigasi. criminal profiling membantu penegak hukum atau pihak kepolisian untuk membuat spesifikasi hipotesis investigasi, mempersempit tersangka serta memberi petunjuk berharga dan lebih lanjut terkait motif kejahatan tersangka. Pembuatan profil kriminal dapat memberikan wawasan baru terhadap kasus yang lebih kompleks dalam investigasi, dapat pula memberikan penjelasan terkait motif pelaku secara lebih spesifik dan jelas daripada hanya mengandalkan bukti fisik saja. Metode ini juga memungkinkan melihat adanya beberapa versi kejadian tindak pembunuhan yang dilakukan oleh sang pelaku. Meski metode criminal profiling bukanlah satu-satu nya cara untuk mendapatkan profil kriminal, namun metode ini mempunyai peran yang sangat penting terhadap proses investigasi. Apakah ada keterbatasan dalam menjalankan pembuatan profil kriminal ? ada.
Ada beberapa potensi kerentanan yang terjadi, diantaranya adalah munculnya bias konfirmasi, yaitu ketika seorang profiler mengartikan sebuah informasi menurut keyakinannya sendiri dan tak sejalan dengan fakta yang ada. Hal ini akan membuat proses menganalisis psikologis dan pola perilaku pada tersangka cenderung tidak sesuai fakta dan melanggar aspek objektifitas. Keterbatasan ini tak hanya dialami oleh seorang profiler, namun juga akan berdampak pada penegak hukum. Oleh sebab itu dalam melakukan investigasi terkait dengan pelaku pembunuhan, para penyidik serta pihak yang berwenang juga mengkolaborasikan berbagai metode dalam mengungkap karakterisitik, pola pikir dan motif sang pelaku, tidak hanya menggunakan satu jalur metode saja.
Sebagai alat dukung investigasi, criminal profiling bukan berfungsi untuk mendapat jawaban pasti, tetapi membantu mempersempit hipotesis yang ada serta membantu penegak hukum dan pihak yang berwenang menangani kasus kasus yang kompleks. Dalam hal ini, Seorang profiler tentu sangat berperan penting dalam proses pembuatan profil kriminal, ia harus dapat dengan teliti memeriksa berkas kasus, menggunakan pertanyaan wawancara yang tepat dan analisa TKP. Dengan begitu, metode criminal profiling terbukti efektif jika dikolaborasikan juga dengan metode penyelidikan lainnya. Dengan metode ini, penggambaran potret psikologis, karakteristik, motif seorang pelaku pembunuhan dapat dibuat dengan tepat dan jelas sehingga tak menimbulkan bias dan selanjutnya dapat dilanjutkan ke meja hukum.
REFERENSI
Surina, I., & Czarnota, J. (2026). Criminal Profiling as a Tool Supporting Crime Detection: Insights and Assessment from Expert. Journal of Modern Science, 66(2), 186–206.
Bjelajac, Ž. (2025). Modus operandi as an analytical tool in criminal profiling. Pravo - Teorija i Praksa, 42(4), 18–41.
SM, E., KJ, A., SO, I., AO, Y., Abdulrauf, A., AT, A., IA, L., Ibrahim, O., Imam-Fulani, A., & BJ, D. (2025). Forensic Psychology and Criminal Profiling. Journal of Forensic Science and Research, 9(1), 092–096.
Garcia, N., & Capstone, A. (2018). THE USE OF CRIMINAL PROFILING IN CYBERCRIME INVESTIGATIONS.
