Konten dari Pengguna

Putus Obat, Nyawa Taruhan : Bahaya Menghentikan Terapi TBC di Tengah Jalan

Naurah Nur Azizah

Naurah Nur Azizah

Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakuktas Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Naurah Nur Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kegiatan Komitmen Bersama Bebas TBC di kawasan Kota Tangerang Selatan, Kamis, 12 Februari 2026. (Foto: Naurah Nur).
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan Komitmen Bersama Bebas TBC di kawasan Kota Tangerang Selatan, Kamis, 12 Februari 2026. (Foto: Naurah Nur).

Menghentikan obat saat merasa "sudah sembuh" mungkin terdengar wajar. Namun pada Tuberkulosis (TBC), keputusan ini bisa jadi masalah yang jauh lebih serius.

Pengobatan TBC bukan sekedar meredakan gejala, melainkan membunuh bakteri hingga tuntas. Ketika terapi dihentikan ditengah jalan, bakteri tidak hanya bertahan tetapi juga berevolusi menjadi lebih kuat dan berbahaya.

Kenapa Banyak Pasien Putus Obat?

Terapi TBC umumnya berlangsung selama minimal 6 bulan, bahkan bisa lebih lama pada kasus tertentu. Dalam praktiknya, tidak sedikit pasien yang gagal menyelesaikan terapi pengobatannya.

Menurut Agus Santosa (2025) dalam jurnal npj Primary Care Respiratory Medicine, ketidakpatuhan pasien masih menjadi tantangan terbesar dalam pengendalian TBC secara global, meskipun berbagai inovasi sudah dikembangkan untuk meningkatkan kepatuhan. Selain itu, Amelia (2025) mengatakan bahwa di Indonesia, tingkat keberhasilan terapi TBC mencapai 96,8% pada pasien yang patuh, tetapi angka ini menurun drastis menjadi 8,3% pada pasien yang tidak patuh.

Beberapa alasan umum pasien menghentikan pengobatan:

  • Merasa sudah sembuh sebelum waktunya

  • Efek samping obat

  • Lelah menjalani terapi jangka panjang

Masih banyak orang menganggap hal ini "sepele" padahal, menghentikan terapi bukan hanya membuat penyakit tidak sembuh, tetapi juga meningkatkan risiko kegagalan pengobatan serta memperpanjang rantai penularan di masyarakat.

Bom Waktu: TBC Kebal Obat

Salah satu dampak paling berbahaya dari putus obat adalah munculnya TBC kebal obat (MDR-TB). Menurut World Health Organization (2024), sekitar 390.000 kasus MDR-TB terjadi secara global pada tahun 2024 dan penyakit ini menyebabkan sekitar 150.000 kematian dalam satu tahun. Di Indonesia sendiri, kasus TBC menempati tertinggi kedua di dunia, dengan perkiraan 1.060.000 kasus baru setiap tahunnya.

Selain itu, pengobatan MDR-TB:

  • Bisa berlangsung 9-20 bulan

  • Biayanya jauh lebih mahal dibanding TBC biasa

Hal ini menjadikan MDR-TB sebagai "Next level" dari TBC yang jauh lebih sulit ditangani. Terapi TBC sendiri terdiri dari beberapa fase yang dirancang untuk membunuh bakteri secara menyeluruh. Jika dihentikan lebih awal maka bakteri yang tersisa akan berkembang kembali dan bahkan jadi lebih kuat sehingga risiko resistensi meningkat.

Jadi, ketika anda merasa sudah sembuh "sebelum waktunya" dan merasa sudah tidak perlu lagi meminum obat, coba pikirkan apakah sudah benar sembuh atau justru sedang membuka jalan untuk penyakit yang lebih ganas?

Referensi

Santosa, A., et al. (2025). Digital adherence technology for tuberculosis treatment: Improving patient compliance. npj Primary Care Respiratory Medicine. https://doi.org/10.1038/s41533-025-00457-3⁠.

Amelia, A., et al. (2025). Hubungan kepatuhan minum obat dengan keberhasilan terapi tuberkulosis di Indonesia. Indonesian Journal of Pharmaceutical Education, 5(2), 38-45. https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/ijpe/article/view/36604⁠.

Zhang, X., et al. (2021). Non-adherence to multidrug-resistant tuberculosis treatment and associated factors: A systematic review. Infectious Diseases Reports, 13(2), 321–335. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9034655/⁠.

Lee, J., et al. (2021). Factors influencing adherence to tuberculosis treatment: A systematic review. Frontiers in Pharmacology, 12, 625078. https://doi.org/10.3389/fphar.2021.625078⁠.

Lemma, T., et al. (2024). Non-adherence to tuberculosis treatment and its impact on disease transmission. Frontiers in Medicine, 11, 1360351. https://doi.org/10.3389/fmed.2024.1360351.