Konten dari Pengguna

Gen Z dan Kesehatan Mental: Pentingnya Jaga Keseimbangan di Dunia Digital

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Naura Nakeisha Shilva tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi Gen Z, media sosial bukan lagi sekadar hiburan. Platform seperti TikTok, Instagram, hingga X telah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari, mulai dari mencari informasi, belajar, bekerja, hingga membangun relasi. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, penggunaan media digital yang berlebihan juga dapat memberikan dampak terhadap kesehatan mental.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), mayoritas pengguna internet di Indonesia berasal dari kelompok usia muda. Tingginya intensitas penggunaan internet membuat Gen Z lebih rentan mengalami tekanan akibat paparan informasi yang terus-menerus, budaya perbandingan sosial, hingga rasa takut tertinggal tren atau Fear of Missing Out (FOMO).

Tidak sedikit anak muda yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggulir media sosial. Kebiasaan ini sering kali membuat mereka tanpa sadar membandingkan kehidupan pribadi dengan unggahan orang lain yang terlihat lebih sempurna. Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial belum tentu mencerminkan kehidupan seseorang secara utuh.

Sumber : Unsplash (Ilustrasi Bermain Gadget)

Selain itu, penggunaan gawai hingga larut malam juga menjadi kebiasaan yang semakin umum. Akibatnya, waktu tidur berkurang, konsentrasi menurun, dan tubuh menjadi lebih mudah lelah. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat memengaruhi kesehatan mental, seperti meningkatnya stres, kecemasan, hingga munculnya perasaan tidak percaya diri.

Meski demikian, media sosial tidak selalu membawa dampak negatif. Banyak anak muda memanfaatkannya sebagai sarana belajar, membangun jaringan profesional, mengembangkan kreativitas, bahkan memperoleh dukungan dari komunitas yang memiliki minat yang sama. Kuncinya terletak pada bagaimana seseorang mampu menggunakan teknologi secara bijaksana.

Psikolog menyarankan agar Gen Z mulai menerapkan kebiasaan digital yang lebih sehat. Salah satunya dengan membatasi durasi penggunaan media sosial melalui fitur screen time, mengaktifkan mode Do Not Disturb (DND) saat belajar maupun menjelang tidur, serta meluangkan waktu untuk beraktivitas di luar dunia digital, seperti berolahraga, membaca buku, atau berkumpul bersama keluarga dan teman.

Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental juga perlu ditingkatkan. Jika seseorang mulai merasa cemas berlebihan, kehilangan motivasi, atau mengalami stres yang berkepanjangan, mencari bantuan kepada orang terdekat maupun tenaga profesional merupakan langkah yang tepat. Menjaga kesehatan mental bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Generasi Z diharapkan mampu menciptakan keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata. Teknologi seharusnya menjadi alat yang mendukung produktivitas dan kualitas hidup, bukan justru menjadi sumber tekanan yang mengganggu kesehatan mental.

Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Di era digital, kemampuan mengelola penggunaan teknologi menjadi salah satu kunci agar Gen Z dapat tetap produktif, percaya diri, dan menjalani kehidupan yang lebih seimbang.