Konten dari Pengguna

Mendekatkan Edukasi Kesehatan ke Warga melalui Kegiatan KKN di Tikalak

Dina Naurarya Shiva

Dina Naurarya Shiva

Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dina Naurarya Shiva tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mendekatkan Edukasi Kesehatan ke Warga melalui Kegiatan KKN di Tikalak
zoom-in-whitePerbesar

Tanggal 22 dan 24 Januari 2026, Mahasiswa Kuliah Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas mengadakan kegiatan sosialisasi terkait hipertensi pada dewasa dan kesehatan reproduksi serta akupresure untuk meringankan nyeri haid pada remaja di Posyandu Batu Api dan Posyandu Jorong Pasir. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatan literasi kesehatan masyarakat melalui pendekatan edukatif dan partisipatif.

Penyakit tidak menular dan permasalahan kesehatan reproduksi masih menjadi tantangan nyata di masyarakat, termasuk di wilayah perdesaan. Hipertensi yang kerap dianggap sebagai penyakit usia lanjut kini semakin banyak ditemukan pada usia produktif, sementara remaja putri masih menghadapi keterbatasan informasi terkait kesehatan reproduksi dan cara aman mengatasi nyeri haid. Kondisi ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan yang bersifat promotif dan preventif masih sangat dibutuhkan, terutama yang menyasar kelompok usia remaja dan dewasa secara tepat.

Nagari Tikalak menjadi salah satu wilayah yang mencerminkan tantangan tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, ditemukan dua permasalahan kesehatan yang menonjol, yaitu tingginya angka tekanan darah pada kelompok dewasa serta minimnya pengetahuan remaja putri mengenai kesehatan reproduksi dan penanganan nyeri haid secara non-farmakologis.

Hari pertama, Kamis 22 Januari 2026, kegiatan dilaksanakan di Posyandu Batu Api, dengan sasaran utama remaja putri. Sosialisasi ini berfokus pada edukasi kesehatan reproduksi remaja serta pengenalan teknik akupresur sebagai upaya meringankan nyeri haid. Remaja merupakan kelompok usia yang rentan mengalami kebingungan, kecemasan, bahkan kesalahan persepsi terkait menstruasi. Nyeri haid sering kali dianggap sebagai kondisi yang harus ditahan tanpa solusi, padahal terdapat berbagai cara aman dan sederhana untuk menguranginya.

Materi kesehatan reproduksi disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, menekankan bahwa menstruasi adalah proses fisiologis yang normal. Remaja diajak untuk mengenali perubahan tubuh, menjaga kebersihan diri, serta memahami pentingnya sikap positif terhadap kesehatan reproduksi. Pendekatan dialogis digunakan agar peserta merasa nyaman untuk bertanya dan berbagi pengalaman, sehingga tercipta suasana edukasi yang inklusif dan tidak menghakimi.

foto Akupresure

Sebagai bagian dari upaya pemberdayaan, remaja juga diperkenalkan pada teknik akupresur sebagai metode non-farmakologis untuk mengurangi nyeri haid. Dua titik akupresur yang diperagakan adalah LI4 (Hegu) dan PC6 (Neiguan). Teknik ini dipilih karena relatif mudah dipelajari, aman, dan dapat dilakukan secara mandiri. Remaja tidak hanya menerima penjelasan teori, tetapi juga melakukan praktik langsung dengan pendampingan, sehingga pemahaman yang diperoleh bersifat aplikatif.

Respons peserta di Posyandu Batu Api menunjukkan antusiasme yang tinggi. Remaja tampak lebih percaya diri dalam memahami tubuhnya sendiri dan merasa memiliki alternatif solusi untuk mengatasi nyeri haid tanpa harus selalu bergantung pada obat. Edukasi semacam ini menjadi langkah awal dalam membentuk remaja putri yang sadar, mandiri, dan bertanggung jawab terhadap kesehatan reproduksinya.

foto Sosialisasi Hipertensi Posyandu Jorong Pasir

Sementara itu, kegiatan kedua tanggal 24 Januari 2026, sosialisasi dilaksanakan di Posyandu Jorong Pasir dengan sasaran masyarakat dewasa, khususnya ibu dan bapak yang banyak ditemukan memiliki tekanan darah tinggi. Hipertensi sering dijuluki sebagai silent killer karena kerap tidak menimbulkan gejala, namun berdampak serius terhadap kesehatan jangka panjang. Kurangnya kesadaran untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah dan konsumsi obat secara rutin serta rendahnya pemahaman tentang faktor risiko menjadi penyebab utama tingginya kasus hipertensi di masyarakat.

Dalam sosialisasi ini, peserta diberikan pemahaman mengenai pengertian hipertensi, faktor risiko, serta pentingnya pengendalian tekanan darah melalui perubahan gaya hidup. Penekanan diberikan pada peran pola makan seimbang, aktivitas fisik, manajemen stres, dan kepatuhan dalam memantau tekanan darah. Edukasi disampaikan secara komunikatif, disertai diskusi dan contoh kasus yang dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta.

Hasil kegiatan menunjukkan bahwa banyak peserta baru menyadari kondisi tekanan darahnya setelah dilakukan pengukuran. Hal ini menguatkan pentingnya posyandu sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat, tidak hanya untuk balita dan lansia, tetapi juga sebagai pusat edukasi kesehatan bagi seluruh kelompok usia.

Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan di Nagari Tikalak menunjukkan bahwa pendekatan edukasi kesehatan berbasis komunitas memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Edukasi kesehatan reproduksi dan akupresur pada remaja putri berkontribusi dalam membangun kemandirian dan kepercayaan diri remaja, sementara sosialisasi hipertensi pada kelompok dewasa menjadi langkah penting dalam pencegahan penyakit tidak menular sejak dini.

Upaya promotif dan preventif semacam ini perlu dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan berbagai pihak, termasuk tenaga kesehatan, institusi pendidikan, dan masyarakat setempat. Remaja dan orang dewasa yang memiliki literasi kesehatan yang baik diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, posyandu tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat menuju kualitas hidup yang lebih sehat.