Mahasiswa FBD UB Ajak Murid SD Wiyurejo Kenali Perasaan Lewat "Galeri Rasa"

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Naura Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa itu Galeri Rasa?
Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) dari program FISIP Membangun Desa (FBD) Kelompok 5 punya inisiatif kreatif. Mereka memperkenalkan "Galeri Rasa" pada murid SDN 02 Wiyurejo, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Menkankan konsep bahwa semua emosi anak-anak adalah karya berharga. Lewat Galeri Rasa, anak diajak mengenali, memahami, dan menghargai perasaan mereka sendiri. Program edukasi literasi dan regulasi emosi ini lahir karena banyak anak di desa tersebut masih kesulitan mengungkapkan apa yang mereka rasakan.
Serunya Belajar Emosi di Kelas
Suasana di kelas meriah dengan para siswa yang antusias. Para mahasiswa FBD langsung praktik mengenalkan berbagai media interaktif. Beberapa kegiatan seru di Galeri Rasa antara lain:
Mood Meter: Anak-anak memilih stiker sesuai suasana hati mereka saat itu, lalu menuliskan alasan perasaan tersebut.
Jurnal Emosiku Hari Ini: Buku harian mini untuk mencatat perasaan setiap hari, seperti jurnal pribadi anak-anak.
Worksheet Gambar Emosi dan Kamus Emosi: Untuk murid kelas 1 yang masih kesulitan menulis, disediakan lembar kerja untuk menggambar emosi mereka, lengkap dengan kamus emosi sederhana.
Teknik Pernapasan: Anak-anak diajarkan latihan pernapasan dalam untuk menenangkan diri ketika marah atau kesal.
Kegiatan-kegiatan seru ini diadakan pada Senin, 21 Juli 2025 di SDN 02 Wiyurejo. Murid kelas 1 dan 2 antusias mengikuti setiap sesi. Pendekatan interaktif membuat proses belajar jadi tidak membosankan dan gampang diingat. Sesi Mood Meter, misalnya, bagaikan ajang "curhat stiker" yang membuat anak-anak berani mengungkapkan perasaan. Teknik pernapasan juga langsung dicoba, anak-anak tampak tenang saat dipandu menarik napas dalam-dalam.
Sambutan Antusias & Harapan
Program Galeri Rasa ini mendapat sambutan hangat dari kepala sekolah SDN 02 Wiyurejo hingga para siswa. Kepala sekolah tampak senang melihat inovasi pembelajaran emosi yang kreatif. Anak-anak pun bersemangat belajar tentang emosi, beberapa guru lain bahkan ikut penasaran ingin mencoba mood meter dan jurnal emosi mereka. Dengan program ini, diharapkan siswa semakin percaya diri menghadapi emosi mereka sendiri. Kini anak-anak belajar bahwa tidak apa-apa merasa sedih, marah, atau bahagia, yang penting tahu cara menyalurkannya tanpa menyakiti orang lain.
