Ketika Jemaat Belajar AI: Gereja dan Teknologi Bertemu di Era Digital

Saya adalah seorang penulis artikel seputar anime dan game. Dengan ketertarikan mendalam pada dunia hiburan digital, dan mengulas berbagai topik, mulai dari tren terbaru dan keseharian. Bekerja serabutan di kampung halaman
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Nawaf Milfi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bagaimana jika gereja juga belajar teknologi kecerdasan buatan (AI)? Di satu sudut Jakarta, sebuah jemaat Kristen sedang menjawab tantangan zaman—menggabungkan pelayanan rohani dengan kecanggihan teknologi digital.

Di era digital, ruang ibadah tak lagi hanya berisi mimbar dan kitab suci—teknologi mulai mengambil peran penting, termasuk dalam mendukung kegiatan spiritual.
Sebagai upaya menjembatani dunia teknologi dan spiritualitas, sekelompok mahasiswa dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) menggelar pelatihan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bagi jemaat Gereja Kristen Sangkakala Indonesia (GKSI). Kegiatan ini berlangsung pada 19 Mei 2025 dan mengangkat tema “Edukasi Penggunaan AI sebagai Media Pembelajaran Jemaat di Era Digital”.
Pelatihan ini diprakarsai oleh sembilan mahasiswa dari program studi Sistem Informasi UBSI, di bawah kepemimpinan Bagus Sajiwo sebagai ketua pelaksana. Bersama pengurus GKSI, mereka merancang sesi yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga praktis dan relevan dengan kebutuhan pelayanan rohani masa kini.
“Pelatihan ini tidak hanya bertujuan memperkenalkan teknologi, tetapi juga memberdayakan jemaat agar siap menghadapi era digital. Tentu, penggunaan AI harus tetap seimbang—teknologi menjadi alat bantu, namun nilai-nilai spiritual tetap menjadi dasar utama dalam pelayanan,” ujar Bagus.
Dalam sesi pelatihan, peserta diperkenalkan pada dasar-dasar AI, mulai dari cara kerja teknologi ini, hingga penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dan pelayanan gereja. Mereka juga diberi kesempatan mencoba langsung penggunaan platform AI untuk membuat konten pembelajaran digital, seperti bahan sekolah minggu, presentasi rohani, dan pengelolaan media sosial gereja.
Yang menarik, pelatihan ini turut membahas strategi komunikasi digital serta pemanfaatan AI untuk menyusun materi Alkitab secara interaktif dan lebih mudah dipahami oleh generasi muda. Interaksi dua arah dalam sesi diskusi memungkinkan peserta untuk berbagi pengalaman sekaligus memperdalam pemahaman mereka tentang dunia digital yang terus berkembang.
Kegiatan ini menjadi contoh bahwa transformasi digital tidak selalu berarti meninggalkan nilai-nilai lama. Sebaliknya, inovasi seperti AI bisa menjadi jembatan untuk memperkuat pelayanan, menjangkau generasi muda, dan menyesuaikan gereja dengan kebutuhan zaman.
Melalui dokumentasi kegiatan dan publikasi digital, inisiatif ini diharapkan bisa menginspirasi komunitas keagamaan lain untuk berinovasi dalam pelayanan tanpa kehilangan ruh spiritualitasnya.
