Konten dari Pengguna

Jika Nenek Moyang Punya Instagram, Apa yang Mereka Unggah?

Nayla

Nayla

Mahasiswa Universitas Pamulang, Prodi Ilmu Komunikasi

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nayla tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi gambar lansia menggunakan gawai (sumber : istock.com)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi gambar lansia menggunakan gawai (sumber : istock.com)

Pernahkah Anda membayangkan jika relief di candi-candi, lukisan gua di Maros, atau tradisi tutur lisan masyarakat adat di masa lalu tiba-tiba berpindah ke dalam bentuk Feed, Stories, atau Reels Instagram?

Apakah mereka akan mengunggah foto estetik hasil buruan hari ini dengan tagar #AnakGua, membuat Reels tutorial membuat jamu tradisional, atau melakukan Live streaming ritual pemanggilan hujan demi mendapatkan likes dan komentar? Fenomena imajinatif ini sebenarnya merupakan refleksi kritis atas pergeseran budaya komunikasi umat manusia: The Visual Turn. Di era modern ini, budaya kita telah bergeser secara ekstrem dari budaya berbasis teks dan narasi mendalam, menjadi budaya yang sepenuhnya dikendalikan oleh estetika visual instan di media sosial.

Konstruksi Realitas: Dari Dokumen Sejarah Menjadi Konten Estetik

Dalam teori Ilmu Komunikasi, media sosial bertindak sebagai alat konstruksi sosial atas realitas (Social Construction of Reality). Nenek moyang kita meninggalkan jejak budaya melalui prasasti, tenunan, dan arsitektur dengan satu tujuan utama: menyampaikan pesan substansial, nilai moral, dan spiritualitas kepada generasi masa depan. Ada kedalaman makna dan kesakralan di setiap goresan yang mereka buat.

Namun, jika artefak budaya tersebut dimasukkan ke dalam ekosistem Instagram hari ini, esensinya seketika lumpuh oleh logika algoritma. Platform digital menuntut kita untuk selalu mengemas segala hal secara dangkal namun menarik secara visual (aesthetic). Alih-alih menyampaikan nilai luhur, fungsi unggahan akan bergeser demi mengejar validasi komunal: status sosial, jumlah pengikut, dan tingkat keterikatan (engagement). Logika "menyampaikan pesan sejarah" seketika digantikan oleh kepanikan "apakah visual ini cukup menjual atau tidak".

Komodifikasi Budaya: Dangkalnya Makna di Balik Riuhnya Visual

Ironisnya, budaya visual modern kita sering kali dibungkus dengan narasi "pelestarian". Kita merasa telah merawat budaya bangsa saat mengunggah foto memakai batik di tempat kopi kekinian atau membuat video estetik tentang desa adat. Padahal, dari kacamata komunikasi massa, kita sebenarnya sedang melakukan komodifikasi budaya—mengurangi nilai sakral sebuah tradisi menjadi sekadar komoditas visual demi mempercantik citra diri digital (personal branding).

Budaya ini melahirkan masyarakat yang gemar pamer visual tetapi miskin literasi. Kita lebih peduli pada sudut pencahayaan (lighting) yang pas saat berfoto di depan candi, daripada memahami sejarah di balik batu-batu candi tersebut. Budaya luhur yang dulunya diciptakan lewat perenungan mendalam dan ritual suci, kini didegradasi fungsinya hanya menjadi sebatas latar belakang foto (instagrammable background) yang eksistensinya hanya dianggap penting saat berhasil mendatangkan banyak ketukan jempol di layar ponsel.

Menyelamatkan Kedalaman Makna di Era Layar

Mengubah cara pandang masyarakat yang sudah telanjur kecanduan visual memang menantang, tetapi bukan berarti kita tidak bisa memulainya dari cara kita membuat konten sehari-hari. Langkah pertama adalah dengan mengembalikan fungsi narasi dalam komunikasi visual.

Tips Singkat: Gunakan aturan kedalaman teks. Saat Anda mengunggah sesuatu yang berkaitan dengan budaya, tradisi, atau perjalanan di media sosial, jangan hanya berfokus pada kurasi foto yang rapi. Manfaatkan kolom takar teks (caption) untuk menulis cerita, makna, atau refleksi pemikiran yang berbobot di balik gambar tersebut. Paksa diri Anda untuk tidak sekadar memamerkan visual, tetapi juga membagikan pengetahuan.

Pada akhirnya, nenek moyang kita beruntung karena mereka tidak mengenal Instagram. Mereka berhasil menciptakan kebudayaan yang abadi selama ribuan tahun justru karena mereka fokus pada esensi pesan, bukan pada bagaimana cara memamerkannya. Menjadi netizen yang cerdas berarti berani jujur dalam merawat tradisi: apakah kita bener-bener peduli untuk menjaga nilai budaya kita, atau kita hanya sedang kesepian dan butuh validasi digital lewat visual yang estetik?