Konten dari Pengguna

Selamatkan Anak dari Superbug! Vaksin Heksavalen Bisa Gantikan Antibiotik Biasa?

Nayla Fatihah Shalsabilla

Nayla Fatihah Shalsabilla

Halo saya merupakan seorang mahasiswi S1, program studi Bioteknologi di Universitas Al Azhar Indonesia.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nayla Fatihah Shalsabilla tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar 1. Gamber Referensi Penyuntikan Vaksin Heksavalen pada Anak (Sumber : https://gemini.google.com)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar 1. Gamber Referensi Penyuntikan Vaksin Heksavalen pada Anak (Sumber : https://gemini.google.com)

Revolusi kesehatan anak dimulai! Kemenkes akan memperluas pengedaran vaksin heksavalen nasional yang dapat melindungi 6 penyakit mematikan sekaligus, untuk gantikan ketergantungan antibiotik yang picu superbug resisten. Di tengah krisis AMR (Antimicrobial Resistance), vaksin ini jadi senjata utama yang dapat cegah infeksi bakteri yang sudah bunuh ribuan nyawa secara global.

Apa Itu Vaksin Heksavalen?

Vaksin kombinasi DPT-HB-Hib-IPV yang melindungi anak dari penyakit difteri, pertussis, tetanus, hepatitis B, pneumonia/meningitis akibat (Haemophilus influenzae b), dan polio secara bersamaan. Vaksin ini mengganti suntikan terpisah jadi satu jarum efisien untuk 6 penyakit sekaligus. Program vaksin di 2026 ini, target cakupan 95% anak usia 2-18 bulan, untuk tingkatkan herd immunity. Vaksin ini telah beredar di Indonesia sejak tahun 2025.

Kenapa Vaksin Heksavalen Bisa Gantikan Antibiotik?

Vaksin heksavalen tidak benar benar menggantikan antibiotik, tetapi secara tidak langsung mengurangi kebutuhan antibiotik dan risiko munculnya “superbug” (bakteri tahan antibiotik). Antibiotik biasa akan kalah lawan superbug yang bunuh 1,27 juta orang global tiap tahun, termasuk ribuan di Indonesia. Vaksin akan mencegah infeksi dari awal hingga 60%, dan kurangi pemakaian antibiotik 20-30% secara global dan hentikan superbug menyebar. Penggunaan vaksin lebih hemat 2,5 miliar dosis per tahun per WHO. Contoh: Vaksin PCV (mirip komponen heksavalen) berhasil turunkan S. pneumoniae resisten 57% dan infeksi sekunder. Di Indonesia, vaksin berhasil cegah 106.000 kematian AMR tahunan via pencegahan dini.

Bagaimana Vaksin Heksavalen Berperang Melawan Superbug?

• Mencegah infeksi bakteri Hib dan polio related complications dengan menurunkan insiden penyakit dan kebutuhan antibiotik.

• Mengurangi infeksi virus yang sering diobati antibiotik secara salah seperti mengurangi risiko dokter memberikan antibiotik padahal penyebabnya virus yang justru mendorong resistensi.

• Mengurangi jumlah kasus resisten yang menyebar di masyarakat, beberapa studi menunjukkan vaksin yang mengurangi infeksi dapat menurunkan total beban infeksi resisten di populasi.

Apa yang Harus diketahui Orang Tua?

• Vaksin heksavalen tidak boleh dianggap sebagai obat pengganti antibiotik, tetapi sebagai alat pencegahan infeksi.

• Vaksin ini sudah melalui uji keamanan ketat dan masuk Program Imunisasi Nasional Indonesia, termasuk pemantauan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI).

• Anak yang tidak lengkap imunisasinya lebih berisiko sakit berat, menjadi pengguna fungsional antibiotik lebih sering, dan berkontribusi pada peningkatan “superbug” di masyarakat.

• Vaksin membuat anak lebih sehat dan lebih murah dibanding biaya pengobatan resistensi antibiotik.

Efek Samping Vaksin Heksavalen yang Umum Terjadi

Efek samping vaksin heksavalen yang umum terjadi pada anak biasanya ringan, bersifat sementara (1–3 hari), dan tidak berbahaya. Efek samping yang sering muncul misalnya kemerahan, nyeri, atau bengkak di lokasi suntikan, demam ringan, rewel, lemas, penurunan nafsu makan, mual, muntah dan diare ringan. Secara umum, manfaat melindungi anak dari 6 penyakit berat jauh lebih besar daripada risiko efek samping ringan yang dapat dikelola dengan penanganan sederhana.

Dampak pada AMR Nasional

AMR picu 40.000 kematian tahunan di Indonesia, dengan adanya vaksin heksavalen dapat memotong beban via herd immunity, mengurangi seleksi bakteri resisten seperti di studi global vaksin PCV. Implementasi dari program ini sudah di uji di DIY, Bali, NTB sejak tahun 2025, dan hasilnya menunjukkan penurunan kasus foodborne disease, yang menandakan kasus infeksi menurun secara drastis dan dukung Stranas AMR.

Tantangan dan Proyeksi

Meski efektif, cakupannya belum 95% di daerah terpencil. Proyeksi pada tahun 2026 menurun 15-25% konsumsi antibiotik pada anak, dan dapat menghemat biaya pengobatan sampai triliunan rupiah.

Daftar Pustaka

Bulik, N. B., Bucsa, C., Farcas, A., & Oniga, O. (2018). Hexavalent vaccine in Europe: safety data from the randomized clinical trials. Farmacia, 66(5), 747-57.

Chandrasekhar, D., Joseph, C. M., Murali, S., & Yahiya, M. (2024). Superbugs: An invicible threat in post antibiotic era. Clinical Epidemiology and Global Health, 28, 101499.

Hayati, S. J., & Ikhsani, A. (2021). Vaksinasi Sebagai Pencegahan ResistensiAntimikrobaTerhadap Bakteri Salmonella Typhi. Jurnal Kesehatan Tambusai, 2(3), 276-283.

Mukherjee, P., Akpo, E. I. H., Kuznetsova, A., Knuf, M., Silfverdal, S. A., Kosalaraksa, P., & Mihalyi, A. (2021). Hexavalent vaccines in infants: a systematic literature review and meta-analysis of the solicited local and systemic adverse reactions of two hexavalent vaccines. Expert review of vaccines, 20(3), 319-330.

Sitaremi, M. N., Soedjatmiko, S., Gunardi, H., Kaswandani, N., Handryastuti, S., Raihan, R., ... & Hadinegoro, S. R. H. (2023). Jadwal imunisasi anak usia 0–18 tahun rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2023. Sari Pediatri, 25(1), 64-74.