Atasi Krisis Etika Pra-Remaja Lewat Edukasi '4 Kata Ajaib'

Mahasiswa Program Studi Akuntansi S1 Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Nayla Oktaviansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan teknologi dan derasnya arus media sosial saat ini membawa perubahan signifikan terhadap perilaku anak-anak dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu fenomena yang cukup memprihatinkan adalah mulai lunturnya kebiasaan sederhana seperti mengucapkan kata “permisi”, “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih”. Anak-anak usia sekolah dasar kini cenderung berkomunikasi secara blak-blakan dan kerap mengabaikan etika dasar tersebut. Padahal, empat kata sederhana ini merupakan fondasi utama dalam membangun karakter dan etika komunikasi sejak dini.
Kondisi tersebut mendorong kami, mahasiswa Program Studi Akuntansi S1 Universitas Pamulang (Unpam) Kampus 1 Pusat, untuk mengambil peran nyata dalam masyarakat. Melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), kami terjun langsung ke SDN Pondok Petir 01, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat, pada Kamis (23/4/2026). Fokus sasaran kami hari itu adalah siswa kelas 5B, yang berada dalam fase pra-remaja—sebuah masa krusial di mana anak-anak sangat aktif meniru lingkungan sekitar dan membentuk pola komunikasi yang akan terbawa hingga dewasa.
Saat menghadapi mereka di kelas, kami menyadari bahwa pendekatan teoritis atau ceramah satu arah tidak akan efektif untuk anak-anak zaman sekarang. Oleh karena itu, kami merancang metode edukasi yang interaktif dan menyenangkan. Kami membawa materi "4 Kata Ajaib" ini melalui simulasi situasi sehari-hari, permainan kelompok, serta sesi tanya jawab yang dinamis agar mereka bisa langsung merasakan esensi dari materi yang disampaikan.
Momen paling berkesan bagi kami adalah ketika melihat perubahan suasana kelas saat sesi simulasi dimulai. Siswa-siswi yang awalnya pasif menjadi sangat antusias ketika diminta mempraktikkan langsung penggunaan kata “permisi” saat lewat, “tolong” ketika membutuhkan bantuan, “maaf” saat melakukan kesalahan, dan “terima kasih” setelah menerima sesuatu. Keaktifan dan respons positif dari para siswa kelas 5B ini memberikan keyakinan kepada kami bahwa nilai-nilai etika tidak sepenuhnya hilang, melainkan hanya membutuhkan ruang pembiasaan yang tepat dan konsisten.
Melalui pengalaman berharga dari kegiatan PKM ini, kami berharap edukasi dasar seperti ini tidak berhenti sampai di sini. Di era digital yang serba cepat, kecerdasan akademik anak tentu penting, namun karakter dan cara mereka menghargai sesama jauh lebih utama. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk menanamkan kembali nilai-nilai karakter sehingga terbentuk generasi muda yang tidak hanya adaptif terhadap zaman, tetapi tetap memegang teguh sopan santun.
