Scroll, Bandingkan, Lalu Merasa Kurang: Siklus yang Banyak Dialami Generasi Z

Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nayla Rahma Hidayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu membuka media sosial hanya beberapa menit, tetapi setelahnya justru merasa hidupmu kurang menarik?
Awalnya mungkin hanya ingin melihat unggahan terbaru. Namun, beberapa saat kemudian muncul berbagai perasaan yang sulit dijelaskan. Ada teman yang baru mendapat beasiswa, seseorang yang sedang berlibur ke luar negeri, atau teman lain yang membagikan pencapaian akademik dan kariernya. Di saat yang sama, kita mungkin hanya sedang berbaring di kamar sambil memikirkan tugas yang belum selesai. Tanpa disadari, aktivitas sederhana seperti scrolling media sosial sering berubah menjadi ajang membandingkan diri dengan orang lain.
Sebagai bagian dari Generasi Z yang tumbuh bersama internet dan media sosial, kita hampir tidak pernah lepas dari arus informasi tentang kehidupan orang lain. Setiap hari, kita melihat pencapaian, kebahagiaan, dan berbagai momen terbaik yang dibagikan secara terbuka. Semakin sering melihatnya, semakin mudah pula muncul pertanyaan dalam diri: “Kenapa aku belum sampai di titik itu?”
Dalam psikologi, kecenderungan ini dikenal sebagai social comparison atau perbandingan sosial. Leon Festinger (1954) menjelaskan bahwa manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai kemampuan maupun pencapaiannya. Pada kondisi tertentu, perbandingan ini dapat memotivasi seseorang untuk berkembang. Namun, ketika dilakukan terus-menerus, perbandingan sosial justru dapat membuat seseorang merasa tidak cukup baik.
Masalahnya, media sosial tidak pernah menampilkan kehidupan seseorang secara utuh. Yang terlihat adalah hasil akhir, bukan prosesnya. Yang muncul di layar adalah foto wisuda, bukan malam-malam penuh kelelahan saat menyelesaikan skripsi. Yang terlihat adalah perjalanan liburan, bukan kesulitan finansial yang mungkin pernah dialami sebelumnya. Kita sering membandingkan kehidupan sehari-hari yang nyata dengan potongan-potongan terbaik kehidupan orang lain.
Akibatnya, banyak orang merasa tertinggal meskipun sebenarnya mereka sedang berjalan di jalurnya masing-masing. Perasaan kurang, tidak puas, dan tidak percaya diri perlahan muncul. Penelitian Keles, McCrae, dan Grealish (2020) bahkan menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang tinggi berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, stres, dan menurunnya kesejahteraan psikologis pada remaja serta dewasa muda.
Ironisnya, semakin sering seseorang merasa tertinggal, semakin sering pula ia mencari pembanding baru melalui media sosial. Siklus ini terus berulang: scroll, membandingkan diri, merasa kurang, lalu kembali scroll untuk mencari validasi. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut dapat menguras energi emosional dan membuat seseorang sulit menghargai dirinya sendiri.
Karena itu, penting bagi Generasi Z untuk belajar menerima diri apa adanya. Menerima diri bukan berarti menyerah atau berhenti berkembang. Sebaliknya, penerimaan diri membantu seseorang memahami bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh jumlah pencapaian, jumlah pengikut, ataupun seberapa menarik kehidupannya di media sosial.
Setiap orang memiliki waktu, tantangan, dan proses yang berbeda. Tidak semua orang harus berhasil di usia yang sama. Tidak semua orang harus memiliki perjalanan hidup yang serupa. Hidup bukan perlombaan yang mengharuskan semua orang mencapai garis akhir pada waktu yang bersamaan.
Mungkin sesekali kita perlu mengingat bahwa apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Di balik unggahan yang tampak sempurna, ada perjuangan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Pada akhirnya, kebahagiaan tidak datang ketika kita berhasil menjadi seperti orang lain. Kebahagiaan hadir ketika kita mampu menghargai proses diri sendiri dan menyadari bahwa kita tidak harus sempurna untuk merasa cukup.
Oleh Nayla Rahma Hidayati, Dr. Rachmat Mulyono M.Si. Psikolog
