Konten dari Pengguna

Manusia Modern: Petualangan Manusia Melintasi Waktu

NAYLA RAMANDHA KHAIRUNNISA

NAYLA RAMANDHA KHAIRUNNISA

Undergraduate Psychology Student at Brawijaya University

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari NAYLA RAMANDHA KHAIRUNNISA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

<a href="https://www.freepik.com/free-vector/hand-drawn-paleolithic-period-illustration_37577775.htm#fromView=search&page=1&position=1&uuid=feae31aa-29bd-4f85-b105-d25efa5c7186">Image by freepik</a>
zoom-in-whitePerbesar
<a href="https://www.freepik.com/free-vector/hand-drawn-paleolithic-period-illustration_37577775.htm#fromView=search&page=1&position=1&uuid=feae31aa-29bd-4f85-b105-d25efa5c7186">Image by freepik</a>

Untuk memahami lebih lanjut terkait dengan alam, sejarah, dan psikologi manusia. Sebelumnya kita harus lebih dahulu mengenali terkait hal yang terjadi pada masa leluhur kita, khususnya pada masa pemburu-penjelajah.

Hampir sepanjang hidup manusia, homo sapiens, hidup sebagai penjelajah atau pencari makanan. 200 tahun terakhir, pada masa dimana populasi manusia terus bertambah, mereka mendapatkan makanan dari menjadi buruh urban hingga menjadi pekerja kantoran. Begitu pula manusia dari 10.000 tahun sebelumnya, yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan penggembala.

Psikologi evolusi yang sudah semakin maju menjelaskan, bahwa karakteristik-karakteristik manusia saat ini ternyata dibentuk sejak era pra-agrikultural. Bahkan banyak ahli yang mengatakan bahwa pikiran dan otak kita beradaptasi dari zaman dahulu kala, mulai dari kebiasaan makan, kehidupan mencari makan, konflik-konflik, hingga seksualitas kita sekarang.

Hubungan Manusia Modern dan Manusia Purba

Mengapa manusia menyantap makanan manis yang penuh kalori, yang sebenarnya tidak memiliki manfaat bagi tubuh? Masih menjadi teka-teki mengapa manusia sangat menyukai makanan manis dan makanan berminyak, padahal masyarakat pada saat ini sedang berada dalam penderitaan bencana obesitas.

Teori ini disebut dengan “teori gen-penyantap” dimana kalangan psikologi evolusi berpendapat bahwa kawanan-kawanan pencari makan pada masa kuni tidak tersusun atas keluarga-keluarga nuklir atau keluarga yang memiliki satu ayah, satu ibu, dan dua anak. Namun, para pencari makan pada zaman dahulu hidup dalam kelompok-kelompok atau komunitas tanpa properti pribadi, hubungan monogamis, bahkan peran keayahan juga tidak ada dalam kelompok tersebut.

Tetapi banyak ahli yang menolak mentah-mentah teori ini, dengan menekankan bahwa baik monogami maupun pembentukan keluarga-keluarga nuklir adalah inti dari perilaku manusia. Meskipun masyarakat pada zaman kuno cenderung lebih komunal dibandingkan masyarakat modern, para peneliti berpendapat bahwa masyarakat dari zaman manapun tetap terdiri dari sel-sel terpisah, yang masing-masing berisi pasangan pencemburu dan anak yang mereka besarkan bersama.

Kesimpulan

Kehidupan pada zaman dahulu kala tidak hanya kita jadikan sejarah, tetapi juga harus kita pelajari secara seksama dan mengambil nilai-nilai baik yang tertera di dalamnya. Karena kembali lagi, kehidupan kita yang sekarang didasarkan oleh kehidupan nenek moyang kita di masa lalu.