Meningkatnya Kekerasan Anak: Alarm Serius Bagi Masa Depan Bangsa

Mahasiswi jurusan Akuntansi S1 Universitas Pamulang yang aktif dalam pemberdayaan masyarakat dan pengembangan UMKM
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Nayla Safa Zalika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Fenomena kekerasan anak kini semakin memprihatinkan. Dalam berbagai bentuk, baik fisik, verbal, hingga kekerasan digital. Anak-anak menjadi korban yang kian rentan, bahkan tak jarang juga menjadi pelaku karena telah terpengaruh oleh lingkungan dan media. Dari data yang saya dapatkan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan bahwa paparan kekerasan di media berkontribusi besar terhadap meningkatnya kecenderungan anak melakukan tindakan agresif dan kriminal. Anak yang terus-menerus menyaksikan atau mengalami kekerasan mengalami penurunan empati, peningkatan rasa permusuhan, dan melemahnya respons emosional.

Di sisi lain, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) pada Juli 2024 menekankan pentingnya ketahanan digital (digital resilience) sebagai langkah preventif agar anak tidak menjadi korban eksploitasi dan kekerasan di era digital yang serba terbuka. Sayangnya, belum semua anak mendapatkan pendampingan atau edukasi yang memadai tentang bagaimana menyikapi konten-konten yang berisiko di media sosial maupun platform digital lainnya.
Melihat kenyataan ini, semua pihak, baik pemerintah, masyarakat, hingga orang tua, perlu membangun sistem perlindungan yang komprehensif untuk anak. Mari kita mencegah kekerasan anak dengan menanamkan pendidikan karakter, literasi digital, serta penguatan nilai-nilai empati dan antikekerasan harus ditanamkan sejak dini. Jika tidak segera ditangani, kekerasan terhadap anak akan menjadi bom waktu yang mengancam dan merusak masa depan generasi muda bangsa Indonesia.
