Konten dari Pengguna

Belanja Online dan Paylater: Di Mana Batas Rasionalitas Konsumen Muslim?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nayya Sekti Syahputri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belanja online dan paylater menguji batas antara kebutuhan dan keinginan (Sumber: Ilustrasi AI )
zoom-in-whitePerbesar
Belanja online dan paylater menguji batas antara kebutuhan dan keinginan (Sumber: Ilustrasi AI )

Klik, bayar nanti. Begitulah belanja online kini dijalani jutaan orang Indonesia. Data OJK menunjukkan, hingga Juni 2026 jumlah rekening paylater perbankan mencapai 32,80 juta dengan total utang Rp30,71 triliun, atau rata-rata sekitar Rp940 ribu per rekening. Di perusahaan pembiayaan, nilainya Rp13,18 triliun per Mei 2026, naik 53,78 persen dari tahun sebelumnya, dan lebih dari 93 persennya dipakai untuk kebutuhan konsumsi.

Angka itu menunjukkan satu hal: belanja online bukan lagi sekadar cara membeli barang, melainkan sudah mengubah cara kita mengelola uang. Pertanyaannya, apakah kemudahan ini membantu kita memenuhi kebutuhan, atau justru melatih kita membeli apa saja yang kita inginkan?

Belanja Online: Kemudahan yang Mengubah Kebiasaan

Belanja online memang punya sisi baik. Kita bisa membandingkan harga dan mencari barang sesuai anggaran, sementara pelaku usaha kecil bisa menjual ke pembeli yang jauh. Bank Indonesia mencatat nilai transaksi e-commerce naik dari Rp205,5 triliun pada 2019 menjadi Rp487,01 triliun pada 2024. Jumlah transaksinya melonjak dari 280 juta pada 2018 menjadi 3,23 miliar pada 2024, dengan rata-rata sekitar Rp95.000 per transaksi pada Juli 2025.

OJK menyebut perubahan pola konsumsi, terutama di kalangan generasi muda, ikut mendorong penggunaan paylater. Mahasiswa termasuk kelompok ini: sering memakai ponsel, akrab dengan tren media sosial, dan punya uang saku terbatas.

Perhatikan angka terakhir. Nilai satu transaksi yang kecil membuat kita merasa ringan membayar. Padahal pengeluaran kecil yang diulang terus-menerus bisa menjadi besar tanpa terasa.

Ketika Keinginan Menyamar Jadi Kebutuhan

Masalah muncul saat keputusan membeli tidak lagi didasarkan pada kebutuhan, tetapi pada dorongan sesaat. Notifikasi diskon, hitung mundur promo, dan gratis ongkir membuat kita merasa harus membeli sekarang. Bayangkan seorang mahasiswa yang membuka aplikasi untuk membeli perlengkapan kuliah, lalu keluar dengan tambahan pakaian dan aksesori karena tergiur potongan harga. Barang itu belum tentu diperlukan, sementara uangnya diambil dari anggaran kebutuhan lain.

Dampaknya terasa pada keuangan keluarga. Uang yang seharusnya untuk menabung, biaya pendidikan, atau dana darurat habis untuk cicilan dan barang yang jarang dipakai. Bagi mahasiswa dengan uang saku terbatas, kebiasaan ini membuat prioritas keuangan kacau, dan di akhir bulan uang untuk kebutuhan pokok justru menipis.

Paylater membuat godaan ini makin kuat. Saat membayar nanti, uang belum keluar, sehingga rem di kepala ikut longgar. Dalam ekonomi, konsumen memang berusaha memperoleh kepuasan dari anggaran yang terbatas. Namun kepuasan sesaat karena membeli barang murah belum tentu memberi manfaat jangka panjang. OJK sendiri mencatat rasio pembiayaan bermasalah paylater di perusahaan pembiayaan ikut naik, dan telah menerbitkan aturan baru agar masyarakat tidak terjebak utang. Aturan itu hanya membolehkan paylater perusahaan pembiayaan diberikan kepada individu yang memenuhi dua kriteria, dan berlaku penuh paling lambat 1 Januari 2027. Aturan membantu, tetapi rem terbaik tetap ada pada diri kita sendiri.

Kacamata Konsumsi Islami

Di sinilah ekonomi Islam punya pegangan yang jelas. Islam tidak melarang kita berbelanja atau menikmati penghasilan. Yang ditekankan adalah cara dan batasnya. Dalam Al-Qur’an QS. Al-A’raf: 31 mengajarkan agar kita makan dan minum tanpa berlebih-lebihan, dan QS. Al-Isra: 26-27 mengingatkan bahwa orang yang boros adalah saudara setan.

Konsumsi dalam Islam bukan hanya mengejar kepuasan pribadi. Ada empat ukuran sederhana: halal, bermanfaat, seimbang, dan bertanggung jawab. Para ulama juga membagi kebutuhan menjadi tiga tingkat, yaitu kebutuhan pokok, kebutuhan pendukung, dan pelengkap. Konsumen yang rasional menurut Islam memenuhi yang pokok lebih dulu, bukan sebaliknya.

Menurut saya, utang konsumtif untuk barang keinginan adalah titik paling rawan. Utang bukan sesuatu yang terlarang, tetapi menjadikannya cara rutin untuk membiayai gaya hidup berarti menggadaikan penghasilan masa depan demi kesenangan hari ini.

Bukan Hanya Soal Konsumen

Konsumen tentu bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab. Platform dan penjual juga wajib jujur. Harga, ongkos kirim, syarat diskon, biaya layanan paylater, dan aturan pengembalian barang harus disampaikan jelas, bukan disembunyikan di balik tulisan kecil. Dalam ekonomi Islam, kejujuran dan keterbukaan adalah syarat transaksi yang adil.

Lembaga keuangan syariah pun bisa berperan. Pembiayaan konsumtif dengan akad jual beli seperti murabahah, yang marginnya disepakati sejak awal, memberi kepastian dan mencegah beban yang membengkak. Dengan begitu, konsumen tahu persis total yang harus dibayar sebelum membeli.

Langkah Sederhana yang Bisa Dimulai Hari Ini

Pertama, tulis daftar kebutuhan sebelum membuka aplikasi. Kedua, tetapkan batas anggaran dan jangan lewati. Ketiga, bandingkan harga dan kualitas, bukan hanya besarnya diskon. Keempat, tunda pembelian barang yang tidak mendesak, misalnya satu hari, lalu putuskan lagi. Kelima, hindari paylater untuk barang yang sifatnya keinginan.

Pada akhirnya, belanja online adalah bagian dari ekonomi digital yang membawa peluang sekaligus jebakan. Konsumen Muslim yang bijak bukan yang selalu mendapat diskon terbesar, melainkan yang mampu memakai hartanya secara halal, seimbang, dan bermanfaat. Dua pertanyaan bisa menjadi pegangan sebelum menekan tombol bayar: apakah saya membutuhkannya, dan apakah saya mampu membayarnya tanpa mengorbankan kebutuhan lain? Teknologi boleh semakin canggih, tetapi keputusan memakai uang harus tetap berada di tangan kita.