Konten dari Pengguna

Gratis Ongkir dan Daya Tarik Belanja Online

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nayyirotun Nisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber foto: iStock/Getty Images – B4LLS
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto: iStock/Getty Images – B4LLS

Gratis ongkir menjadi salah satu promo yang sering menarik perhatian konsumen saat berbelanja online. Kalimat sederhana seperti “Gratis ongkir!” dapat membuat sebuah produk terlihat lebih menarik, bahkan ketika barang tersebut sebenarnya belum tentu sedang dibutuhkan.

Belanja online memang semakin mudah. Hanya dengan membuka marketplace, konsumen bisa mencari produk, membandingkan harga, membaca ulasan, lalu melakukan pembayaran tanpa harus keluar rumah. Ditambah berbagai promo seperti gratis ongkir, voucher diskon, cashback, dan flash sale, aktivitas belanja terasa semakin menarik.

Namun, kemudahan tersebut juga dapat membuat konsumen lebih mudah melakukan pembelian secara spontan.

Gratis Ongkir dan Daya Tarik Belanja Online

Gratis ongkir menjadi salah satu promo yang banyak digunakan dalam bisnis online. Bagi konsumen, biaya pengiriman sering kali dianggap sebagai tambahan pengeluaran yang membuat harga barang terasa lebih mahal.

Ketika biaya tersebut dihilangkan melalui promo gratis ongkir, konsumen bisa merasa mendapatkan keuntungan. Misalnya, sebuah produk seharga Rp50 ribu dengan ongkos kirim Rp15 ribu mungkin terasa kurang menarik. Tetapi ketika ongkos kirim menjadi gratis, produk tersebut dapat terlihat jauh lebih menguntungkan.

Padahal, secara sederhana konsumen tetap mengeluarkan uang untuk membeli barang yang sebelumnya mungkin tidak ada dalam rencana belanja.

Promo Bisa Memengaruhi Keputusan Belanja

Selain gratis ongkir, marketplace juga menawarkan berbagai bentuk promosi seperti potongan harga, cashback, voucher, hingga flash sale. Promo tersebut biasanya diberikan dalam waktu tertentu sehingga menciptakan kesan bahwa konsumen harus segera melakukan pembelian.

Situasi seperti ini dapat memengaruhi keputusan belanja. Konsumen yang awalnya hanya ingin melihat-lihat produk bisa berubah pikiran setelah menemukan promo yang dianggap menarik.

Misalnya, seseorang membuka marketplace hanya untuk mencari informasi mengenai sebuah produk. Setelah melihat adanya diskon dan gratis ongkir, muncul keinginan untuk membeli meskipun produk tersebut sebenarnya belum menjadi kebutuhan.

Di sinilah keputusan belanja spontan dapat terjadi.

Harga Murah Belum Tentu Membuat Pengeluaran Lebih Hemat

Promo memang dapat memberikan keuntungan apabila digunakan untuk membeli barang yang memang dibutuhkan. Namun, membeli barang hanya karena sedang mendapatkan diskon tidak selalu berarti menghemat uang.

Bayangkan seseorang membeli tiga produk karena mendapatkan potongan harga. Masing-masing produk memang lebih murah dibandingkan harga normal, tetapi jika ketiganya tidak dibutuhkan, uang yang dikeluarkan tetap menjadi pengeluaran tambahan.

Artinya, yang perlu diperhatikan bukan hanya berapa besar diskonnya, tetapi juga apakah barang tersebut memang diperlukan.

Kebiasaan membandingkan harga juga penting. Harga setelah diskon belum tentu menjadi harga paling murah karena setiap toko dapat menawarkan harga dan promo yang berbeda.

Media Sosial Ikut Mendorong Keinginan Berbelanja

Perilaku belanja online juga semakin dipengaruhi oleh media sosial. Konten rekomendasi produk, video review, live shopping, hingga konten dari influencer dapat membuat suatu barang terlihat menarik.

Ketika sebuah produk terus muncul di media sosial, konsumen dapat merasa familiar dengan produk tersebut. Ditambah adanya komentar positif, jumlah pembelian, atau rekomendasi dari kreator, rasa percaya terhadap produk bisa semakin meningkat.

Tidak jarang akhirnya muncul keinginan untuk membeli bukan karena benar-benar membutuhkan, tetapi karena tertarik setelah melihat orang lain menggunakan atau merekomendasikannya.

Cara Agar Tidak Mudah Tergoda Promo

Promo online sebenarnya tidak selalu buruk. Konsumen justru bisa mendapatkan harga yang lebih terjangkau jika mampu menggunakannya dengan bijak.

Salah satu cara sederhana adalah membuat daftar kebutuhan sebelum membuka marketplace. Dengan begitu, konsumen memiliki batasan dan tidak mudah membeli barang di luar rencana.

Selain itu, konsumen dapat menerapkan aturan menunggu sebelum checkout. Jika barang tersebut masih terasa penting setelah beberapa waktu, barulah keputusan pembelian dipertimbangkan kembali.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah menghitung total pengeluaran. Jangan hanya melihat tulisan “diskon 50 persen” atau “gratis ongkir,” tetapi perhatikan berapa uang yang benar-benar keluar dari rekening.

Pada akhirnya, promo hanyalah strategi untuk menarik perhatian konsumen. Keputusan untuk membeli tetap berada di tangan masing-masing orang.

Gratis ongkir memang bisa membuat belanja online terasa lebih hemat dan menyenangkan. Namun, jika terlalu mudah tergoda promo, bukan tidak mungkin transaksi kecil yang dilakukan berkali-kali justru membuat pengeluaran semakin besar.

Jadi, sebelum menekan tombol “checkout,” mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri: “Saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau hanya tertarik karena promonya?”