Fever Dream: Penjelasan Biopsikologi Mengapa Sering Mimpi saat Demam

Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Nazah Nur'aini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalian pernah nggak sih, mengalami mimpi yang aneh saat sedang demam? Mimpi yang terasa lebih hidup, intens, aneh, atau bahkan menyeramkan? Fenomena ini biasa disebut dengan istilah Fever Dream atau mimpi demam. Mimpi merupakan fenomena psikologis yang terjadi terutama pada tahap Rapid Eye Movement atau gerakan mata cepat (REM) dalam tidur manusia.
Saat seseorang mengalami demam, mimpi yang dialami biasanya menjadi lebih aneh, intens, dan terasa berbeda dari biasanya, seperti objek yang menjadi lebih besar, benda-benda memiliki bentuk yang tidak lazim, atau bahkan waktu yang terasa sangat cepat atau lambat.
Fenomena ini bukan hanya tentang fenomena biasa, melainkan sebuah fenomena dengan dasar biologis yang kuat. Esai ini bertujuan untuk menjelaskan secara biopsikologi mengapa mimpi saat demam menjadi lebih aneh, intens, dan terasa berbeda dari mimpi biasanya.
Demam merupakan kondisi di mana seseorang mengalami peningkatan suhu tubuh melampaui batas normal, yakni di atas 37°C. Ini merupakan respons dari sistem kekebalan tubuh ketika melawan infeksi atau peradangan. Kenaikan suhu tubuh berdampak langsung pada kinerja otak dengan mengubah suhu jaringan saraf dan kestabilan aktivitas neuron.
Dalam kondisi tubuh yang mengalami demam, otak akan mengalami aktivitas yang tidak stabil karena neuron-neuron di sekitar otak menjadi tidak seimbang. Hal ini memengaruhi cara kerja otak dalam menerima informasi, termasuk saat mimpi terjadi pada tahapan REM.
Tahap tidur REM adalah tahapan di mana sebagian besar mimpi terjadi. Pada tahap ini, aktivitas otak sangat tinggi, sedangkan otot tubuh mengalami kelumpuhan sementara. Namun, pada saat demam, mekanisme yang mengatur suhu tubuh selama tidur mengalami gangguan, sehingga aktivitas otak menjadi aktif saat tubuh sedang beristirahat.
Penelitian dalam jurnal Frontiers in Psychology oleh Schredl dan Erlacher (2020) menunjukkan bahwa otak yang mengalami “panas” karena demam mengalami gangguan fungsi, sehingga menghasilkan mimpi yang aneh dibandingkan saat tubuh dalam kondisi sehat. Studi terbaru oleh Frontiers in Neuroscience (2024) menjelaskan bahwa peningkatan suhu tubuh dapat memicu respons peradangan yang memengaruhi neurotransmiter, terutama pada sistem serotonergik dan dopaminergik, yang berperan dalam pengaturan emosi dan proses pengolahan informasi visual.
Peradangan ini menyebabkan ketidakseimbangan neurotransmiter yang mengubah cara otak dalam proses penerimaan informasi visual, sehingga informasi yang diterima menjadi tidak sesuai atau mengalami perubahan bentuk dari aslinya. Akibatnya, mimpi yang dihasilkan menjadi lebih aneh dari biasanya, seperti terasa lebih hidup, emosional, dengan objek yang membesar atau bahkan menjadi kecil.
Selain itu, penelitian terbaru oleh Akhtar (2025) dalam artikelnya di Probiologists mengemukakan bahwa gangguan tidur pada tahapan REM saat demam meningkatkan frekuensi kelumpuhan tidur atau Sleep Paralysis yang biasa dikenal dengan istilah ketindihan. Sleep Paralysis adalah kondisi di mana tubuh tidak bisa bergerak meski otak sudah terbangun.
Gangguan ini cenderung terjadi saat seseorang mengalami demam. Hal ini terjadi karena pada saat demam suhu tubuh mengalami peningkatan, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya Sleep Paralysis, yang memperkuat pengalaman mimpi aneh dan perasaan emosional yang terasa nyata.
Faktor eksternal lain yang bisa membuat seseorang mengalami mimpi aneh saat demam adalah ketidaknyamanan fisik seperti nyeri atau stres. Kondisi ini merangsang sistem saraf simpatik yang kemudian meningkatkan hormon stres sehingga mengganggu ritme tidur alami seseorang.
Akibatnya, kualitas tidur menurun dan otak menjadi rentan mengalami gangguan kognitif, termasuk kemampuan belajar, daya ingat, konsentrasi, dan pengolahan informasi secara umum mengalami penurunan. Ketika tidur tidak berkualitas, otak tidak dapat beristirahat dan memproses informasi dengan baik sehingga mengalami gangguan dalam fungsi-fungsi tersebut, termasuk juga pengolahan mimpi yang merupakan salah satu aktivitas otak saat tidur.
Menurut Paré (2023) dalam Frontiers in Neuroscience menunjukkan amigdala basolateral memiliki peran penting dalam menetralkan pengaruh emosi dalam memori yang disebabkan oleh peningkatan hormon stres karena ketidaknyamanan fisik sehingga meningkatkan aktivitas amigdala.
Hal ini, memperbesar kemungkinan reaksi emosional saat bermimpi. Interaksi kompleks antara fisiologi otak, hormon, neurotransmiter, dan faktor eksternal tersebut merupakan alasan utama mengapa mimpi saat demam sangat berbeda dibandingkan mimpi saat tubuh dalam kondisi sehat.
Dari sudut pandang biopsikologis, mimpi saat demam bukan hanya sekadar mimpi yang muncul dari pikiran alam bawah sadar seseorang, melainkan dipengaruhi oleh kondisi fisik dan biologis otak pada tubuh manusia. Hal ini menguatkan bahwa otak, tubuh, dan pengalaman psikologis memiliki keterkaitan yang kompleks satu sama lain.
Sebagai langkah awal dalam mengatasi Fever Dream, penting untuk menjaga kualitas tidur meskipun dalam kondisi yang tidak nyaman. Memastikan suhu kamar dalam kondisi sejuk dan ventilasi yang baik dapat membantu mengatur suhu tubuh saat tidur.
Mengatasi stres dengan teknik relaksasi seperti melakukan meditasi atau pernapasan dalam, yaitu metode dengan mengambil napas secara perlahan-lahan, lalu menahannya selama beberapa detik, kemudian menghembuskan napas melalui mulut secara perlahan.
Teknik ini membantu menenangkan tubuh dan pikiran dengan mengaktifkan sistem saraf parasimpatis yang menurunkan stres, menurunkan tekanan darah, detak jantung, ketegangan otot, dan kecemasan. Pernapasan dalam membuat tubuh lebih rileks sehingga memperbaiki aliran oksigen dalam darah, mengurangi ketegangan fisik ataupun emosional. Teknik ini juga membantu memperbaiki kualitas tidur.
Kesimpulannya, mimpi saat demam, seperti objek yang mengalami perubahan bentuk menjadi lebih besar dari aslinya, disebabkan oleh perubahan fisiologis di otak akibat mengalami peningkatan suhu tubuh yang tinggi. Gangguan aktivitas neuron dan ketidakseimbangan neurotransmiter selama tidur REM, menjelaskan mengapa mimpi menjadi aneh atau tidak logis. Melalui penjelasan ini, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan kesadaran mengenai pengaruh kondisi medis terhadap kualitas tidur dan pengalaman mimpi.
