Harga Emas Naik Tiap Ada Perang, Perlukah Kita Ikut Membeli?

Seorang mahasiswa universitas pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari NAZAR FADDILAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Awal tahun ini, grup WhatsApp keluarga saya mendadak ramai membicarakan harga emas. Ada yang mengirim tangkapan layar harga logam mulia yang terus naik, ada yang bertanya apakah sekarang waktu yang tepat untuk membeli, dan ada pula yang menyesal karena tidak membeli sejak tahun lalu. Semua itu terjadi bersamaan dengan kabar memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran. Sebagai mahasiswa yang sedang belajar ekonomi dan manajemen keuangan, saya jadi penasaran: kenapa setiap kali ada perang, emas selalu jadi incaran?

Rasa penasaran itu membuat saya membuka kembali berita-berita pasar. Ternyata, kenaikan harga emas bukan cerita baru. Mengutip Reuters melalui Bisnis.com, sepanjang 2025 harga emas sudah melonjak sekitar 64 persen. Pada akhir Januari 2026, harganya sempat menyentuh rekor di kisaran US$5.591 per ons. Lalu ketika perang AS-Iran memanas pada Maret 2026, harga emas kembali bergerak naik di atas US$5.100 per ons karena investor beramai-ramai mencari tempat aman.
Harga Emas dan Rasa Takut
Dari situ saya mulai paham satu hal: harga emas sebenarnya bergerak mengikuti rasa takut. Saat dunia sedang tenang, orang berani menaruh uangnya di saham atau usaha. Namun ketika kabar perang datang, pasar saham bisa jatuh dan mata uang bisa melemah dalam hitungan hari. Di saat seperti itu, orang butuh sesuatu yang terasa pasti.
Emas punya keunggulan yang tidak dimiliki aset lain. Nilainya tidak bergantung pada kebijakan satu negara, bisa dijual di mana saja, dan sudah dipercaya sebagai penyimpan nilai selama ribuan tahun. Itulah sebabnya emas disebut safe haven, tempat berlindung ketika badai ekonomi datang. Ditambah lagi, bank sentral di berbagai negara juga terus membeli emas untuk memperkuat cadangannya, sehingga permintaan semakin besar.
Saya jadi teringat cerita orang tua dulu yang lebih suka menyimpan perhiasan emas daripada uang di bank. Dulu saya menganggapnya kebiasaan kuno. Sekarang saya mengerti, di balik kebiasaan itu ada logika yang sama dengan yang dipakai investor besar: mencari rasa aman.
Jangan Beli Emas karena Ikut-ikutan
Namun, ada satu hal yang membuat saya khawatir ketika melihat keramaian di grup keluarga tadi. Banyak orang membeli emas justru saat harganya sedang di puncak, hanya karena takut ketinggalan. Padahal harga emas juga bisa turun, misalnya ketika ketegangan mereda atau suku bunga naik. Kalau membeli di harga tertinggi lalu butuh uang dalam waktu dekat, bisa-bisa malah rugi karena selisih harga jual dan beli.
Dari yang saya pelajari di kelas manajemen keuangan, emas lebih cocok dijadikan pelindung nilai jangka panjang, bukan alat untuk cepat kaya. Belilah secara bertahap sesuai kemampuan, pilih tempat pembelian yang resmi, dan jangan menaruh seluruh tabungan hanya pada satu jenis aset.
Pada akhirnya, lonjakan harga emas di tengah perang mengajarkan saya bahwa pasar keuangan sangat dipengaruhi perasaan manusia. Ketika dunia tidak pasti, kita mencari pegangan. Emas bisa menjadi salah satu pegangan itu, asalkan kita membelinya dengan kepala dingin, bukan karena panik.
