Konten dari Pengguna

Islam dan Ilmu Pengetahuan: AI antara Kemajuan Teknologi dan Kemunduran Akhlak

NAZAR FADDILAH

NAZAR FADDILAH

Seorang mahasiswa universitas pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari NAZAR FADDILAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tangerang Selatan, Banten Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini hadir dalam hampir setiap aktivitas, mulai dari mencari informasi, mengerjakan tugas kuliah, hingga menjalankan usaha. Di balik kemudahan itu, muncul kekhawatiran bahwa kemajuan teknologi justru diiringi menurunnya akhlak para penggunanya. Persoalan ini menjadi pembahasan dalam Seminar Nasional Keagamaan bertema “Islam dan Ilmu Pengetahuan: AI antara Kemajuan Teknologi dan Kemunduran Akhlak” yang diselenggarakan di Universitas Pamulang (UNPAM).

Suasana sesi diskusi dalam Seminar Nasional Keagamaan “Islam dan Ilmu Pengetahuan: AI antara Kemajuan Teknologi dan Kemunduran Akhlak” di Universitas Pamulang.
zoom-in-whitePerbesar
Suasana sesi diskusi dalam Seminar Nasional Keagamaan “Islam dan Ilmu Pengetahuan: AI antara Kemajuan Teknologi dan Kemunduran Akhlak” di Universitas Pamulang.

Seminar yang menghadirkan sejumlah narasumber dalam sesi diskusi panel ini membahas bagaimana Islam memandang perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya teknologi AI yang kini begitu dekat dengan kehidupan mahasiswa. Diskusi berlangsung hangat, karena tema yang diangkat bersentuhan langsung dengan kebiasaan sehari-hari peserta, mulai dari cara belajar hingga cara bermedia sosial.

an dan berilmu (QS. Al-Mujadilah: 11).

Sejarah mencatat, dorongan tersebut melahirkan masa keemasan ilmu pengetahuan di dunia Islam. Ibnu Sina dikenal lewat karyanya di bidang kedokteran yang menjadi rujukan selama berabad-abad, sementara Al-Khawarizmi meletakkan dasar aljabar. Dari nama Al-Khawarizmi pula lahir istilah algoritma, yaitu rangkaian langkah sistematis untuk menyelesaikan masalah, yang kini menjadi dasar kerja seluruh teknologi AI. Para ilmuwan tersebut tidak hanya cerdas, tetapi juga dikenal taat dan berakhlak, sehingga ilmu dan moral berjalan beriringan.

Kemajuan AI saat ini membawa banyak manfaat. Di bidang kesehatan, AI membantu dokter mendeteksi penyakit lebih dini. Di bidang pendidikan, mahasiswa dapat belajar kapan saja dan menerjemahkan referensi berbahasa asing dengan mudah. Pelaku usaha kecil pun terbantu dalam memasarkan produk dengan biaya yang lebih murah. Bahkan dalam urusan ibadah, aplikasi Al-Qur'an digital dan pengingat waktu salat memudahkan umat Islam menjalankan kewajibannya.

Namun, di sisi lain, penggunaan AI juga menimbulkan persoalan moral yang tidak bisa diabaikan. Teknologi deepfake memungkinkan pembuatan video dan suara palsu yang digunakan untuk menipu atau memfitnah orang lain. Di lingkungan kampus, tidak sedikit mahasiswa yang menyalin jawaban dari AI tanpa memahami isinya, lalu mengakuinya sebagai karya sendiri. Kebiasaan serba instan ini perlahan membuat kemampuan berpikir kritis melemah. Selain itu, data pribadi kerap dikumpulkan dan disalahgunakan tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Padahal, Islam telah memberikan rambu-rambu yang jelas. Al-Qur'an mengajarkan sikap tabayyun, yaitu memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya (QS. Al-Hujurat: 6), serta melarang mencari-cari kesalahan orang lain (QS. Al-Hujurat: 12). Kejujuran juga menjadi akhlak dasar seorang Muslim, sehingga mengakui karya orang lain atau hasil mesin sebagai milik sendiri termasuk perbuatan yang tidak dibenarkan.

Sebagai pedoman dalam memanfaatkan teknologi, maqashid syariah atau tujuan pokok syariat dapat dijadikan ukuran. Penggunaan AI dinilai baik selama menjaga agama, yakni tidak dipakai untuk menghina atau menyesatkan ajaran agama; menjaga jiwa, dengan mengutamakan keselamatan manusia; menjaga akal, dengan menjadikan AI sebagai alat bantu berpikir, bukan pengganti nalar; menjaga keturunan dan kehormatan, dengan melindungi privasi serta nama baik; dan menjaga harta, dengan tidak menggunakannya untuk penipuan atau pencurian data keuangan.

Upaya menyeimbangkan kemajuan teknologi dan akhlak perlu dilakukan bersama. Secara pribadi, setiap Muslim perlu menanamkan kesadaran bahwa dirinya selalu diawasi Allah, termasuk ketika berada di depan layar. Keluarga berperan mendampingi anak dalam menggunakan teknologi. Perguruan tinggi perlu menyusun aturan yang jelas mengenai penggunaan AI dalam kegiatan akademik, sementara ulama dan pemerintah diharapkan hadir memberikan panduan serta perlindungan data bagi masyarakat.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa Universitas Pamulang diharapkan tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menjaga akhlak di tengah perkembangannya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (HR. Ahmad), pesan tersebut tetap relevan di era kecerdasan buatan. Pada akhirnya, AI hanyalah alat, dan baik buruknya sangat bergantung pada akhlak manusia yang menggunakannya.