Konten dari Pengguna

Menulis Buku sebagai Warisan: Pelajaran dari Workshop One Book, One Legacy

NAZAR FADDILAH

NAZAR FADDILAH

Seorang mahasiswa universitas pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari NAZAR FADDILAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tangerang Selatan, Banten Menulis buku sering dianggap pekerjaan yang hanya bisa dilakukan penulis profesional atau akademisi senior. Padahal, setiap orang punya pengalaman dan gagasan yang layak dibagikan, dan buku menjadi cara terbaik untuk mewariskannya. Semangat inilah yang diangkat dalam workshop daring bertema “One Book, One Legacy: Dari Ide Menjadi Buku, dari Buku Menjadi Warisan” yang diikuti penulis melalui Zoom Meeting, sebagai bagian dari upaya meningkatkan budaya literasi.

Suasana workshop daring “One Book, One Legacy” melalui Zoom Meeting. Foto: Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Suasana workshop daring “One Book, One Legacy” melalui Zoom Meeting. Foto: Dokumentasi pribadi

Workshop ini menghadirkan Shela Indah Savitri, S.Kom., M.M., sebagai pemateri. Materi disusun sebagai panduan praktis menulis buku, mulai dari menentukan niat hingga menerbitkan karya yang dapat menjadi warisan pemikiran. Peserta diajak melihat bahwa sebuah buku tidak harus tebal atau rumit, asalkan lahir dari gagasan yang jelas dan ditulis dengan sungguh-sungguh.

Langkah pertama dalam menulis buku adalah menemukan alasan mengapa buku itu perlu ditulis. Niat yang kuat akan menjaga semangat ketika proses menulis mulai terasa berat. Setelah itu, penulis perlu menentukan tema yang benar-benar dikuasai atau diminati, karena tema yang dekat dengan keseharian biasanya lebih mudah dikembangkan.

Ide bisa datang dari mana saja: pengalaman kuliah, pekerjaan, hobi, hingga persoalan di sekitar kita. Kuncinya adalah mencatat setiap ide yang muncul, lalu memilih satu yang paling layak dijadikan buku dan dirumuskan menjadi gagasan utama.

Teknik Menulis Buku yang Efektif dan Sistematis

Banyak calon penulis berhenti di tengah jalan karena menulis tanpa rencana. Karena itu, menyusun kerangka atau daftar isi sejak awal menjadi hal penting. Kerangka membantu penulis mengetahui apa yang harus ditulis di setiap bab, sehingga tulisan tetap runtut dan tidak melebar ke mana-mana.

Kebiasaan menulis secara rutin juga menentukan. Menulis sedikit setiap hari, misalnya satu sampai dua halaman, jauh lebih efektif daripada menunggu waktu luang yang panjang. Proses menyunting sebaiknya dilakukan setelah draf selesai, agar penulis tidak terjebak memperbaiki kalimat yang sama berulang kali.

Dari Naskah hingga Terbit

Menyelesaikan naskah adalah tantangan tersendiri. Menetapkan target waktu yang jelas dan meminta orang lain membaca draf dapat membantu penulis menjaga konsistensi sekaligus mendapatkan masukan. Setelah naskah rampung, penulis dapat memilih jalur penerbitan, baik melalui penerbit mayor, penerbit indie, maupun penerbitan mandiri.

Perkembangan literasi digital juga membuka peluang yang lebih luas. Kini buku dapat diterbitkan dalam bentuk digital dan dipromosikan melalui media sosial, sehingga karya penulis pemula pun bisa menjangkau banyak pembaca.

Membangun Legacy melalui Karya Tulis

Inti dari workshop ini terletak pada makna di balik sebuah buku. Buku adalah warisan yang tetap hidup bahkan setelah penulisnya tiada. Gagasan, pengalaman, dan nilai yang dituangkan dalam tulisan dapat terus dibaca dan memberi manfaat bagi generasi berikutnya.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan berani memulai langkah menulis buku, sekecil apa pun. Satu buku yang ditulis dengan tulus bisa menjadi jejak berharga yang menginspirasi banyak orang. Seperti tema yang diusung, dari satu ide lahir satu buku, dan dari satu buku lahir sebuah warisan.