Nasionalisme dan Cinta Tanah Air sebagai Identitas Generasi Muda

Seorang mahasiswa universitas pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari NAZAR FADDILAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tangerang Selatan, Banten Di tengah derasnya arus globalisasi, nasionalisme dan rasa cinta tanah air kerap dianggap sebagai nilai lama yang mulai pudar di kalangan anak muda. Padahal, di era literasi digital seperti sekarang, justru generasi muda yang paling menentukan wajah bangsa ke depan. Hal ini menjadi pembahasan dalam seminar daring bertema “Nasionalisme dan Cinta Tanah Air sebagai Identitas Generasi Muda” yang diikuti mahasiswa Universitas Pamulang (UNPAM) melalui Zoom Meeting pada

Meski digelar secara virtual, seminar yang menghadirkan narasumber ini berlangsung interaktif. Peserta diajak merenungkan kembali makna menjadi bagian dari bangsa Indonesia, bukan sekadar hafal lagu kebangsaan atau ikut upacara, tetapi menghadirkan rasa memiliki terhadap negeri dalam kehidupan sehari-hari.
Makna Nasionalisme bagi Generasi Muda
Sejarah mencatat, pemuda selalu berada di garis depan perjalanan bangsa. Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai daerah mengikrarkan Sumpah Pemuda: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, yaitu Indonesia. Mereka berbeda suku, agama, dan bahasa daerah, tetapi mampu bersatu demi cita-cita yang sama.
Semangat itulah yang menjadi inti nasionalisme. Nasionalisme bukan berarti merasa bangsa sendiri paling hebat dan merendahkan bangsa lain, melainkan kesadaran untuk menjaga persatuan, menghargai keberagaman, dan berkontribusi bagi kemajuan negeri. Nilai ini sejalan dengan Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi perekat bangsa.
Tantangan Nasionalisme di Era Digital
Tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini berbeda dengan masa lalu. Bukan lagi penjajahan secara fisik, melainkan arus budaya asing yang masuk tanpa saringan melalui gawai. Tidak sedikit anak muda yang lebih mengenal budaya negara lain dibanding budaya daerahnya sendiri.
Media sosial juga menjadi ruang yang rawan memecah belah. Hoaks, ujaran kebencian, dan konten bernada SARA mudah tersebar dan memicu permusuhan antarkelompok. Di sisi lain, sikap apatis terhadap persoalan bangsa ikut tumbuh, karena banyak yang merasa urusan negara bukan tanggung jawab mereka.
Wujud Nasionalisme dalam Kehidupan Sehari-hari
Seminar ini menegaskan bahwa cinta tanah air bisa diwujudkan melalui hal-hal sederhana. Menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, membeli produk dalam negeri, serta mengenalkan budaya daerah lewat media sosial adalah contoh nyata yang bisa dilakukan siapa saja.
Bagi mahasiswa, nasionalisme juga tercermin dari kesungguhan belajar dan berprestasi. Aktif dalam organisasi kampus maupun kegiatan sosial melatih kepedulian dan kepemimpinan yang kelak dibutuhkan bangsa. Di ruang digital, sikap bijak seperti memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya dan tidak ikut menyebarkan kebencian menjadi bentuk nyata menjaga persatuan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa Universitas Pamulang diharapkan menjadikan nasionalisme dan cinta tanah air sebagai identitas diri, bukan sekadar slogan. Generasi muda yang bangga akan jati diri bangsanya, terbuka terhadap kemajuan, dan tetap menjaga persatuan akan menjadi modal utama Indonesia dalam menghadapi masa depan.
