Coretan Sang Istimewa yang Menjadi Karya Seni

Mahasiswa Prodi Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
Konten dari Pengguna
1 Juni 2021 5:45
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Nazhara Azmi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Coretan Sang Istimewa yang Menjadi Karya Seni (47999)
zoom-in-whitePerbesar
Rangga bersama salah satu karya produknya ‘Sajadah’ pada rangkaian Autism Awareness Month di The Trans Luxury Hotel (Puspatriani Agustina).
ADVERTISEMENT
Terlahir sebagai anak yang istimewa memberikan berkah tersendiri bagi Rangga Putra Djajadipura (25). Rangga sendiri memiliki spesifikasi gejala Multisystem Development Disorder (MSDD) atau autisme ringan. Sosok lelaki jangkung yang akrab dipanggil Rangga itu, telah lulus dari Lembaga Pendidikan Kerja (LPK) Artherapy Center (ATC) Widyatama pada tahun 2019 lalu.
ADVERTISEMENT
Rangga memiliki kemampuan dalam menggambar dan editing secara mandiri melalui aplikasi desain, salah satunya Adobe Illustrator. Kemampuan itu Rangga dapatkan dari kelas LPK. Di mana, anak-anak yang tergabung dalam kelas tersebut merupakan anak-anak yang mempu menerima instruksi serta pengaplikasian komputer berupa teknik digital drawing.
Awal mula
Rangga merupakan anak sulung dari lima bersaudara dalam keluarganya. Dibandingkan saudaranya yang lain, Rangga bukan merupakan sosok anak yang gemar menggambar. Setelah lulus SMA, kedua orangtua Rangga mantap memilih jenjang pendidikan lebih tinggi untuk putra sulung mereka di ATC Widyatama, yang memang dikhususkan hanya membuka jurusan desain saja.
“Rangga itu sebenarnya di cemplungin, bukan karena dia berbakat menggambar. Tapi karena dia belum diasah, kalau suka ya dia suka,” jelas sang ibunda, Puspatriani Agustina atau yang akrab dipanggil Nenet yang turut duduk disamping Rangga saat diwawancarai.
ADVERTISEMENT
Di perkuliahannya, Rangga diajarkan dari materi dasar mengenai desain. Nenet menjelaskan, jika anak-anak lain memiliki kecendurungan pada satu bidang, hal tersebut belum ada pada diri Rangga saat itu. Rangga baru mulai belajar menggambar saat masuk kuliah dan mulai mengeksplor coretan tangannya setelah lulus.
Sempat muncul kebingungan dan kerisauan dari diri sang ibunda setelah Rangga lulus. Melihat teman-teman Rangga yang sudah berhasil membuat dan mengeluarkan suatu produk, membuat Nenet terpacu agar Rangga juga dapat berhasil membuat suatu karya. Saat ini Rangga diikutsertakan dalam Creative Business of Diffabel Community (CidCo) Bandung. CidCo merupakan salah satu inkubator bisnis dari komunitas difabel yang dinaungi oleh ATC Widyatama.
Coretan Sang Istimewa yang Menjadi Karya Seni (48000)
zoom-in-whitePerbesar
Salah satu gambar macam-macam bunga, coretan tangan milik Rangga (Puspatriani Agustina).
Coretan milik Rangga bersama uluran tangan Sang Ibu
ADVERTISEMENT
Dalam membuat karyanya, Rangga sendiri masih melihat contoh yang ada, seperti contoh-contoh gambar yang diberikan oleh sang ibunda. Nenet menjelaskan, Rangga belum sampai pada tahap mempermainkan imajinasi dalam kepalanya. Sehingga, hal tersebut tentu menjadi target bagi kedua orangtua Rangga untuk membuat putra sulung mereka berhasil lepas dan dapat menggambar tanpa melihat contoh lagi.
“Cara membuatnya macam-macam, bisa dari manual dulu lalu di scan sampai di tracing ke Adobe Illustrator,” jelas Rangga.
Dalam menggambar, Rangga menorehkan pensil, crayon, hingga spidol warna di atas kertas kosong miliknya terlebih dahulu. Sehingga coretan garis tangan miliknya akan selalu menjadi ciri khas Rangga dalam setiap karyanya.
“Kalau untuk jadwal menggambar, masih harus dipantau sama mamah dan papah nya,” tambah Nenet.
ADVERTISEMENT
Sang ibunda juga mau tak mau ikutserta dalam mempelajari berbagai aplikasi desain yang ada. Tujuannya untuk mengimbangi dan membantu Rangga dalam proses pembuatan karyanya hingga menghasilkan produk. Terdapat tiga teknik yang biasa Rangga lakukan dalam mendesain. Di antaranya ialah, manual drawing, digital drawing, dan gabungan keduanya.
Manual drawing dilakukan dengan meng-scan gambar kertas manual milik Rangga yang telah digambar di kertas. Setelah itu dilakukan cropping untuk produk, cara ini Rangga dan Nenet lakukan untuk salah satu produk jaket sepeda yang telah dipasarkan. Sedangkan digital drawing, dilakukan dengan menggambar secara langsung pada aplikasi Adobe Illustrator.
Rangga sudah menghasilkan banyak produk melalui karyanya. Seperti foldable grocery bag, coin punch, foldable mini backpack, gantungan kunci kulit, tas belanja jaring, hingga travel kit bag.
ADVERTISEMENT
Pada produk terakhir Rangga, kerudung dan sajadah, ia melakukan teknik gabungan dari digital dan manual drawing. Dengan melakukan teknik manual drawing terlebih dahulu, gambar Rangga yang telah di scan digambar lagi melalui digital drawing. Hal tersebut tidak akan membuat garis-garis tangan milik Rangga hilang. Itu lah yang ingin Nenet pertahankan dalam setiap karya dan produk milik sang sulung.
Produk kerudung dan sajadah telah Rangga keluarkan pada bulan Ramadhan lalu. Nenet mengatakan, minat kedua produk sangat tinggi di pasaran. Hal tersebut menunjukan prestasi dan kompetensi yang dimiliki oleh Rangga untuk terus berkarya dan menghasilkan berbagai macam produk. Rangga berharap bisa terus berkarya, produktif, serta belajar mandiri terhadap hal yang sedang ia jalani. (NA)
ADVERTISEMENT