Entertainment
·
1 Mei 2021 15:01

Ruang yang Menjadi 'Neraka' dalam Produksi Film

Konten ini diproduksi oleh Nazhara Azmi
Ruang yang Menjadi 'Neraka' dalam Produksi Film (309404)
Ilustrasi Development Hell yang disampaikan oleh Salman Aristo pada pemaparan kuliah umum Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Nazhara Azmi)
Onong Uchjana Effendy dalam bukunya yang berjudul Kamus Komunikasi memaparkan kata ‘film’ memiliki arti berupa media yang bersifat visual dan audio visual untuk menyampaikan pesan kepada sekelompok orang yang berkumpul di suatu tempat.
ADVERTISEMENT
Nah, sebagaimana tertulis dalam buku tersebut, film memiliki fungsi untuk menyampaikan suatu pesan. Lalu, siapakah sang pembuat pesan itu? Apakah pembuat pesan cukup hanya diberikan oleh para aktor serta aktris yang memiliki peran dalam film itu sendiri? Bagaimana dengan orang-orang lainnya yang berada di balik layar dari suatu film yang berhasil dibuat?
Kesuksesan sebuah film tidak hanya ditentukan oleh para pemain alias para aktor dan aktrisnya saja. Peran di layar belakang, seperti produser, sutradara, penulis naskah, music director, hingga berbagai peran penting lainnya turut menjadi tokoh dalam keberlangsungan suatu produksi film.
“Film itu kayak bayi, it takes a village to raise a ‘kid’,” kata Salman Aristo ketika memaparkan kuliah umum untuk mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran mengenai “How to Produce a Screenplay” pada (20/04).
ADVERTISEMENT
Dalam membesarkan si bayi, seluruh tim belakang layar duduk dalam suatu ruangan yang dinamakan development room. Bertukar pikiran, berbagi ide, dan berdiskusi dilakukan oleh para tim untuk menjadikan si bayi menjadi anak yang sukses. Namun, yang namanya suatu pekerjaan pasti ada saja batu kerikil yang mengganggu jalan mulus yang berusaha diciptakan. Kerikil tersebut dinamakan ‘Development Hell’.
Development Room yang menjadi ‘Hell’
Dalam development room terdapat istilah ‘Development Hell’. Istilah ‘hell’ identik dengan api dan panas yang menyiksa. Development hell sendiri terjadi ketika sebuah project film terpaksa dihentikan karena berbagai hal di dalamnya. Lalu mengapa sebuah development room dapat berubah menjadi ruang ‘neraka’?
Deadpool, Jurassic World, hingga The Irishman, siapa yang menyangka ketiga film tersebut pernah berada dalam kondisi development hell? Ketiga film yang tidak asing karena kesuksesan yang dicapainya di layar lebar, ternyata pernah memakan waktu dari kurun waktu 12 hingga 15 tahun dalam kondisi ‘neraka’ nya. Sebelum berhasil memukau para penonton, dikutip dari Glocalbuzz, ketidaksesuaian naskah, pergantian naskah, hingga ketidakpuasan produser membuat ketiga film tersebut terpaksa berada dalam situasi development hell.
Ruang yang Menjadi 'Neraka' dalam Produksi Film (309405)
Ilustrasi lokasi syuting film di Indonesia Foto: Dok. Kemenparekraf
“Ketika produser tidak dapat mengontrol development room nya, maka hal tersebut akan berubah menjadi development hell,” ungkap Salman.
ADVERTISEMENT
Hal tersebut tentu sangat dihindari oleh orang-orang dibalik pembuatan film, terutama produser. Dewi keberuntungan nampaknya sedang mampir saat proses pembuatan ketiga film di atas, namun bagaimana jika dewi keberuntungan enggan menghampiri suatu film yang sudah berada di ujung tanduk?
Bukan tentang opini, tapi pemikiran seperti apa
“Di dalam ruangan development, bukan opini yang keluar, tapi pemikiran lu yang seperti apa, yang keluar,” tegas penulis skenario berbagai film yang sukses seperti Ayat-Ayat Cinta, Garuda di Dadaku, hingga Laskar Pelangi itu.
Visi, pembuatan film, dan kolaborasi. Ketiga hal tersebut menjadi cara membangun yang harus disadari oleh produser jelas Salman. Seorang produser harus memahami konteks, konsep dan konteks, dan menciptakan leadership serta management yang baik ketika berada dalam development room.
ADVERTISEMENT
Development room harus menjadi ruangan yang aman bagi orang-orang yang berada di dalamnya. Di mana hal tersebut untuk menciptakan suasana kerja yang aman antar sesama pekerja, sehingga tidak menyebabkan percikan api yang dapat mengubah development room menjadi sebuah ‘neraka’.
Salman sendiri pernah mengalami suatu hal yang mengarah pada kondisi development hell. Hal tersebut pernah Salman alami ketika menjadi Head of Development hingga berkesempatan menjadi penulis naskah. Development hell yang dialami oleh Salman, salah satunya karena ketidaksesuaian kesepakatan awal di mana sebuah naskah dibawa.
“Ada satu project yang ketika awal tujuannya satir, malah jadi nggak satir-satir amat. Kalau diterusin nggak akan bener, maka dari itu dihentikan,” jelas Salman, meskipun tidak menjelaskan secara jelas project miliknya yang mana yang hampir menjadi development hell.
ADVERTISEMENT
Development hell sendiri bisa diselamatkan, tambah Salman. Salman sendiri menggunakan cara dengan “taking a break” atau istirahat dari suatu project yang nampaknya tercium aroma ‘panas’. Hampir menyentuh angka seratus persen bagi Salman untuk menghentikan atau tidak melanjutkan project-project yang sedang digarapnya ketika project tersebut mengarah pada development hell.
Maka dari itu, delay nya sebuah film bisa saja membuat kita marah dan kecewa sebagai penonton. Tidak ada yang tahu pasti kecuali para tim dan Yang Maha Kuasa atas apa yang terjadi pada film-film tersebut. Bisa saja mereka sedang dalam ujung tanduk kematian karena jatuh ke bagian ‘neraka’ development room.
Seperti apa yang terjadi pada Sherlock Holmes 3 dan Avatar 2, penantian panjang para penggemarnya dari ketidakjelasan bertahun-tahun, akhirnya membuahkan hasil. Tanggal rilis dan kejelasan kedua film itu muncul ke permukaan.
ADVERTISEMENT
Namun, bagaimana dengan Akira? World War Z 2? Hingga The Sequel to 2009’s Friday the 13th?
Yah, semoga saja film-film lain yang sedang pembaca nantikan tidak terjebak dalam development hell dan bernasib baik seperti kedua film di atas yang sudah ada kejelasannya, ya. (NA)