Konten dari Pengguna

Tingkatan Sabar dan Syukur dalam Hadist Nabi

Nazhif Syauqi

Nazhif Syauqi

Saya seorang mahasiswa UIN Jakarta Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Prodi Manajemen Dakwah, yang memiliki fikiran kritis dalam analisisnya

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazhif Syauqi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumen pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumen pribadi

Di era sekarang, hidup sering terasa melelahkan. Tugas kuliah, masalah pertemanan, tekanan sosial media, hingga rasa overthinking membuat banyak orang gampang stres dan kehilangan semangat. Dalam kondisi seperti ini, Islam mengajarkan dua sikap penting agar hati tetap tenang dan kuat menghadapi kehidupan, yaitu sabar dan syukur.

Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha. Sabar adalah kemampuan mengontrol diri supaya tidak mudah marah, putus asa, atau menyerah ketika menghadapi masalah. Misalnya tetap semangat belajar walaupun hasil belum memuaskan, tetap tenang saat dihina orang lain, atau tetap berusaha meski sedang berada di masa sulit. Allah Swt. berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ ۝١٥٣

Artinya:

Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

(QS. Al-Baqarah: 153)

Rasulullah Saw. juga menjelaskan bahwa orang beriman selalu berada dalam keadaan baik melalui hadis berikut:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah kebaikan baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur maka itu baik baginya. Jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar maka itu pun baik baginya.”

(HR. Muslim no. 2999)

Hadis ini mengajarkan bahwa apa pun keadaan hidup seseorang, semuanya bisa menjadi kebaikan jika dihadapi dengan sabar dan syukur.

Selain sabar, seorang muslim juga harus memiliki rasa syukur. Di zaman sekarang, banyak orang terlalu fokus melihat kehidupan orang lain di media sosial sampai lupa menghargai nikmat yang sudah dimiliki. Padahal kesehatan, keluarga, waktu, pendidikan, dan kesempatan hidup yang baik adalah nikmat besar dari Allah Swt.

Allah Swt. berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”

(QS. Ibrahim: 7)

Rasulullah Saw. juga mengingatkan manusia agar tidak lalai terhadap nikmat yang sering diremehkan:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”

(HR. Bukhari no. 6412)

Hadis tersebut sangat relevan dengan kehidupan saat ini. Banyak orang menghabiskan waktunya hanya untuk scrolling media sosial atau menunda pekerjaan, padahal waktu dan kesehatan adalah nikmat yang sangat berharga.

Dalam kehidupan sehari-hari, sabar dan syukur bisa diterapkan melalui hal-hal sederhana, seperti tidak mudah mengeluh, tetap beribadah di tengah kesibukan, menghargai proses hidup, membantu orang lain, dan menggunakan waktu dengan baik. Sikap seperti ini dapat membuat seseorang lebih tenang, dewasa, dan kuat menghadapi tekanan hidup modern.

Pada akhirnya, sabar dan syukur adalah dua kunci penting agar seseorang tetap kuat menjalani kehidupan. Dengan sabar, seseorang belajar bertahan menghadapi ujian. Dengan syukur, seseorang belajar menikmati hidup tanpa terus merasa kurang.

________________________________________________

Penulis : Ahmad Nazhif Syauqi

Dosen Pengampu : Dr. Hamidullah Mahmud Lc, M.A