Konten dari Pengguna

Bersatunya Kaum Padri dan Kaum Adat Berujung Kalah Melawan Belanda

nazhira khairunnisa

nazhira khairunnisa

Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Semarang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari nazhira khairunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perang Padri adalah perang saudara yang terjadi akibat pertikaian antara dua kaum yaitu kaum Padri dan kaum Adat. Perang ini terjadi di Minangkabau, tepatnya di Kerajaan Pagaruyung, Sumatera Barat. Pertikaian ini berawal dari berpulangnya Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang seusai menjalankan ibadah haji. Ketiganya ingin memperbaiki syariat Islam di Minangkabau. Hal ini didukung penuh oleh seorang ulama bernama Tuanku Nan Renceh, kemudian beliau juga mengajak orang-orang dan menamai kelompok tersebut Harimau nan Salapan.

Harimau nan Salapan meminta Sultan Arifin Muningsyah, pemimpin Kerajaan Pagaruyung, untuk meninggalkan kebiasaan adat yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Namun Sultan Arifin Muningsyah tidak mau meninggalkan kebiasaan yang sudah dijalankan sejak dulu.

Perang Padri. Photo by : Nazhira Khairunnisa
zoom-in-whitePerbesar
Perang Padri. Photo by : Nazhira Khairunnisa

Perang saudara pun terjadi. Diawali dengan penyerangan kaum Padri ke Kerajaan Pagaruyung yang dipimpin oleh Tuanku Pasaman pada tahun 1803. Penyerangan berlanjut pada 1815, kaum Padri berhasil menyudutkan kaum Adat. Lantaran semakin terdesak, akhirnya kaum Adat meminta bantuan kepada Belanda. Belanda memberi bantuan pada 4 Maret 1822, dipimpin oleh Letnan Kolonel Raff.

Pertempuran terjadi lagi pada 14 Agustus 1822. Pada pertempuran ini Kapten Goffinet dari pihak Belanda wafat. Berlanjut dengan penyerangan oleh Belanda pada 13 April ditahun berikutnya. Pertempuran antara Belanda dan kaum Padri ini sangat sengit dan menyebabkan Belanda mundur pada 16 April 1823.

Belanda yang sudah kewalahan dan kehilangan banyak dana untuk membiayai perang melawan Pangeran Diponegoro di Jawa, akhirnya mengajukan genjatan senjata. Saat gencatan senjata inilah Tuanku Imam Bonjol yang merupakan salah satu pemimpin kaum Padri mengajak kaum Adat untuk bersatu karena lawan mereka yang sesungguhnya adalah Belanda. Kesepakatan damai akhirnya terjadi di Bukit Marapalam, Kabupaten Tanah Datar yang dikenal dengan nama Plakat Puncak Patu.

Pada 11 Januari 1833, pertahanan Belanda diserang oleh gabungan dari kaum Adat dan kaum Padri. Disini lagi-lagi Belanda menerapkan siasat licik yang berujung dengan penangkapan Tuanku Imam Bonjol pada 1837 yang kemudian diasingkan ke Cianjur, Ambon, dan berakhir di Minahasa hingga beliau wafat.

Perang kembali berkobar kali ini dipimpin oleh Tuanku Tambusai, namun Belanda saat itu lebih unggul hingga berhasil menembus pertahanan rakyat Minangkabau di Dalu-Dalu. Tuanku Tambusai dan pengikutnya yang selamat melarikan diri ke Negeri Sembilan, Semenanjung Malaya. Karena kehilangan banyak pemimpin, akhirnya perlawanan Minangkabau melemah dan berhasil dikuasai oleh Belanda.