Dampingi Kemandirian Disabilitas, Lazismu dan MPKS Gelar Pelatihan Kewirausahaan

Jurnalis Filantropi, Kembali kepada yang Maha Pemberi Bentuk
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nazhori Author tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

JAKARTA – Kesetaraan merupakan hak setiap manusia tanpa memandang latar belakangnya. Penyandang disabilitas adalah kelompok rentan yang punya kesempatan sama untuk meningkatkan kapasitasnya. Tanpa pendampingan, tak mudah bagi penyandang disabilitas menghadapi persoalannya.
Akses hidup berdaya bagi penyandang disabilitas merupakan impian yang dikejar seumur hidupnya. Membebaskan mereka dari keterbelakangan merupakan langkah keberpihakan. Lewat pilar program ekonomi, Lazismu dan Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar pelatihan keterampilan kewirausahaan bertajuk program berdaya untuk penyandang disabilitas.
Pelatihan tersebut dilaksanakan di Gedung Pusat Dakwah Pimpinan Pusat Muhammadiyah (30/12/2025), Menteng, Jakarta, yang melibatkan 30 penyandang disabilitas binaan MPKS untuk berperan aktif. Dalam pelaksanaannya menghadirkan praktisi berpengalaman dengan juru bahasa isyarat memandu pelatihan dengan interaktif.
Wakil Ketua I MPKS PP Muhammadiyah, Ridwan Furqoni, mengutarakan bahwa kesalehan individu harus memantik dampak nyata untuk berbagi terhadap sesama. Pelatihan ini merupakan langkah konkret beragama memotivasi kelompok rentan dalam kemandirian ekonomi yang dilengkapi pemberian modal usaha.
“Pendekatan pelatihan yang interaktif memacu diskusi tentang pendampingan usaha serta penguatan jejaring. Program berdaya dipersembahkan untuk menyempurnakan ibadah dengan kemaslahatan,” ungkapnya. Ridwan menekankan nilai penting perubahan dalam individu penyandang disabilitas menjadi pelaku ekonomi yang mandiri.
Kolaborasi ini menggerakkan adanya transformasi diri dari penerima manfaat menjadi muzaki. MPKS dan Lazismu harus melangkah bersama agar saling melengkapi, imbuhnya. Peserta yang mengikuti pelatihan ini datang dari beragam latar belakang kemampuan berbeda yang berdomisili di Jabodetabek. “Program kali ini merupakan tindak lanjut dari Gerakan Ekonomi Inklusif tahap ketiga”, katanya.
Badan Pengurus Lazismu Pusat yang diwakili Artati Haris, menekankan zakat, infak, dan sedekah harus memberikan dampak yang luas. Tidak sekadar karitatif. “Zakat harus bisa mengungkit daya ubah kehidupan seseorang, dari rentan menjadi tangguh, tidak bergantung tapi mandiri dan berdaya,” tandasnya.
Ia menilai, penyandang disabilitas menghadapi rintangan yang kompleks. Risiko kesehatan, akses pendidikan sampai pelabelan sosial yang negatif. Artati mengatakan, program pemberdayaan membutuhkan orkestrasi yang dibalut sinergisitas. “MPKS punya strategi itu sebagai peniup peluit agar pemberdayaan kelompok rentan tidak berserakan, tapi berdampak jangka panjang,” paparnya.
Ketua PP Muhammadiyah, Agus Taufiqurohman, dalam sambutannya mengajak peserta untuk tidak risau dengan keterbatasan. Itu bukan penghalang untuk berkarya. “Kondisi fisik dan rupa bukan ukurannya, namun iman, hati, dan amal. Amal saleh yang menghadirkan karya yang kreatif, siapa pun mampu meraih prestasi,” jelasnya.
Pemberdayaan disabilitas bagian dari ikhtiar dakwah Muhammadiyah dalam membebaskan, memberdayakan, dan menghormati martabat manusia. “Sesuatu yang ada di luar kendali hidup kita tidak bisa dikontrol, tetapi hati manusialah yang bisa mengendalikan dalam segenap peristiwa. Hanya dengan niat Ikhlas, semangat berkarya penyandang disabilitas bisa tumbuh untuk mandiri dan berjaya”, tandasnya.
Melalui Program Berdaya, MPKS dan Lazismu berharap ada model pemberdayaan ekonomi yang tercipta dari pelatihan keterampilan penyandang disabilitas yang bisa mereplikasi di berbagai tempat. Dengan begitu, ada penyandang disabilitas lainnya yang bisa dijangkau untuk memperoleh kesempatan yang sama untuk berkarya hidup mandiri. (na)
