Konten dari Pengguna

Menemukan Jati Diri Anak di Awal Perjumpaan dengan Lingkungan Pendidikan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazhori Author tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi masa pengenalan lingkungan sekolah (Gemini AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi masa pengenalan lingkungan sekolah (Gemini AI)

Sekolah sampai hari ini masih menyimpan efek candunya bagi masyarakat. Manusia pembelajar di sekolah kehidupan, Roem Topatimasang pernah mengatakan dalam bukunya Sekolah itu Candu, remaja putri tampak benar-benar cantik kala ia memakai seragam sekolah. Roem menjawab berbeda dari pertanyaan itu yang jawabannya umum didengar seperti ketika bangun dari tidurnya atau baru selesai mandi.

Sebenarnya, tidak hanya remaja putri, remaja laki-laki atau anak-anak yang masih dini atau sekolah dasar mengenakan seragam sekolah akan terlihat gagah dan anggun. Hal itu tentu diakui para orangtua yang sejauh ini mempersiapkan anak-anaknya masuk sekolah. Mereka sibuk dari awal sampai akhir agar anak-anaknya tetap bisa bersekolah.

Suatu hari ada mayoritas anak-anak ketika pertama kali masuk sekolah datang dengan wajah ceria. Namun ada satu anak yang ditemukan menangis ketika pertama kali masuk sekolah meski sudah diantar oleh orangtuanya. Anak itu menangis seperti tak ingin ditinggal oleh ibunya. Ibunya tetap meyakinkan seraya membujuk jika sekolah itu menyenangkan karena akan ada banyak teman baru.

Fenomena itu kerap ditemukan di sekolah terutama di taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Sebagian orang berpendapat anak-anak sedang beradaptasi dengan lingkungan barunya. Lingkungan yang sebelumnya tidak pernah ia jumpai. Seperti ada sesuatu yang asing dalam dirinya. Paling tidak itu adalah ruang pejumpaan murid baru dalam masa pengenalan lingkungan sekolah.

Anak Menemukan Jati Dirinya

Mencermati keriuhan sekolah akhir-akhir ini setelah libur panjang berakhir setidaknya memberikan insight bermakna bahwa mengenal sekolah dan lingkungannya merupakan bagian dari membuka awal pintu perjumpaan. Realitas empirik sekolah bagi seorang anak tidak sepenuhnya sama dengan apa yang dilihat dan didengarnya.

Risalah Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 tentang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) perlu disambut dengan kritis. Menyimak aturan yang ada di dalamnya sebetulnya sangat membantu orangtua yakin bahwa sekolah itu ruang yang aman dan nyaman bagi anak. Di titik inilah psikologi dan keberadaan manusia dalam ruang pedagogis menemukan dirinya.

Alasannya dari segitiga lingkungan pendidikan (sekolah, keluarga dan masyarakat) pertama, orangtua dan anak merasa mendapat sentuhan emosional (engagement). Datang dari lingkungan rumah menuju sekolah ketika disambut dengan perjumpaan yang menggembirakan adalah kunci untuk membangun keterikatan antara anak, orangtua dan lingkungan sekolah.

Kedua, Perjumpaan tersebut menghadirkan pemahaman dan pengalaman baru yang menandai refleski pengetahuan untuk didengar, dihargai dan penuh empati. Diharapkan dengan perjumpaan ini anak dan orangtua mampu menceritakan sisi kemanusiaan dan pedagogis sekolah dan lingkungan sekitarnya sebagai bagian dari penguatan karakter anak.

Ketiga, pendidikan senantiasa melibatkan partisipasi masyarakat. Tanpa kehadiran masyarakat lingkungan pendidikan kering dari sumber belajar sosial. Karena itu, peran pengawasan masyarakat terbukti membantu dukungan moral terhadap kegiatan belajar mengajar. Manusia sepanjang hidupnya akan selalu dipengaruhi oleh tiga lingkungan pendidikan ini dalam kehidupan sosialnya.

Dengan mengenal lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat, maka peserta didik akan belajar menemukan dirinya. Siapa jati diri sosial yang sesungguhnya dan bagaimana upaya memenuhi kebutuhan fisiologis, rasa aman dan sosial dalam bentuk cinta dan penerimaan dapat mewarnai proses belajar mengajar yang menghargai harkat martabat dan hak-hak dasar anak tanpa kekerasan apapun sehingga motivasinya betul-betul tumbuh dalam kerangka mengembangkan potensi pendidikan yang humanis.

Sekolah Ramah Anak

Dalam masa pengenalan tersebut, peserta didik diharapkan “bisa adaptasi dengan lingkungan sekolah”. Sekolah mengenalkan Pohon Harapan yang merupakan media atau sarana mengidentifikasi potensi dan impiannya supaya mampu memetakan kekhawatiran selama bersekolah.

Dengan pohon harapan utamanya bisa terbangun interaksi dengan teman sepermainan dan membentuk kelompok di mana peran guru sedini mungkin mendeteksi kondisi sosial-emosional dan konsentrasi belajar peserta didik dengan melakukan penilaian yang berbasis bakat dan minat.

Tujuan dari identifikasi awal ini untuk membantu sekolah dan orangtua melakukan deteksi awal bagaimana anak bersikap di rumah, sekolah, dengan teman dan keluarga. Hasilnya nanti untuk memberikan gambaran apakah terdapat masalah yang membutuhkan pendampingan dari orangtua, guru, maupun profesional.

Dari sini juga pola-pola interaksi peserta didik dalam lingkungan sekolah disaring untuk mencegah risiko yang ditimbulkan seperti perundungan dengan menyadari bahwa peserta didik di lingkungan luar sekolah berisiko terpapar konten media sosial dan sejenisnya yang bisa berdampak pada proses belajar mengajar.

Oleh karena itu, dukungan dari tiga lingkungan pendidikan yaitu sekolah, keluarga dan masyarakat mampu memberikan nilai-nilai edukatif sehingga dalam prosesnya kegiatan belajar mengajar di sekolah memperhatikan pendidikan yang ramah anak.

Gerakan rukun sesama teman adalah pendekatan yang nyata bahwa gerakan pembiasaan positif yang mendorong murid untuk membangun hubungan yang sehat, saling menghargai, dan peduli terhadap sesama dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.

Pendekatan edukatif tersebut dilakukan melalui berbagai kegiatan dengan praktik sederhana yang dilakukan secara konsisten. Dengan demikian mampu menumbuhkan nilai-nilai empati, kepedulian, gotong-royong, dan komunikasi positif sebagai dasar terbentuknya lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan ramah. Melalui kerangka ini peserta didik dapat menemukan jati dirinya tanpa rasa khawatir pada awal perjumpaannya di lingkungan pendidikan.