Milad Lazismu, Sinyal Integrasi Data Jadi Sorotan dalam Pengentasan Kemiskinan

Jurnalis Filantropi, Kembali kepada yang Maha Pemberi Bentuk
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Nazhori Author tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dampak nyata dari program pemberdayaan merupakan keniscayaan bagi lembaga amil zakat. Belum jauh bergeser dari isu tersebut, Kemenag RI mengabarkan akan membuat tampilan data visual (dashboard) bersama yang real time untuk memperkuat agenda pengentasan kemiskinan.
Kebutuhan itu menjadi alasan bahwa badan dan lembaga amil zakat untuk bersama-sama menyajikan data aksi layanannnya. Program pemberdayaannya silakan beragam, tujuannya sama yakni berusaha mengentaskan kemiskinan dan wujudkan kesejahteraan.
Dalam resepsi Milad ke – 24 Lazismu, di Gedung Perpustakaan Nasional RI, Jakarta pada Rabu (29/7/2026), isu program berdampak dan integrasi data muncul sebagai poin penting. Resepsi itu dihadiri Lazismu Wilayah secara nasional melalui daring. Turut hadir mitra kolaborasi Lazismu dari entitas perusahaan mengikuti jalannya milad yang berlangsung meriah.
Puncak milad Lazismu menandai kiprahnya selama 24 tahun di gerakan filantropi tingkat nasional. Mengusung tema Integrasi Menguatkan Dampak, Lazismu merefleksi perjalanannya sejak tahun 2002 dengan penuh optimis.
Ketua Badan Pengurus Lazismui Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais mengatakan bahwa dampak dalam maknanya di sini mengandung pesan memperkuat diri kita dari sisi integrasi tata kelola kelembagaan dan sistem data. “Integrasi yang menguatkan itu harus ditempuh berdasarkan kebutuhan masyarakat. Apa yang bisa dibantu dalam menjawab persoalan masyarakat”, tuturnya.
Oleh karena itu, integrasi harus menjadi dasar pijakan dalam menggali potensi yang dimiliki Lazismu sehingga bisa dengan terarah menggerakan programnya. Lalu menghasilkan dampak yang lebih luas. Mujadid menilai bahwa peran amil harus mampu dan peka mendengar isi hati terdalam masyarakat. Dengan tulus mendengar problem itu, amil dapat menjawab persoalan masyarakakat yang dibutuhkan dengan tepat sasaran.
Gerakan filantropi menjadi lahan dakwah yang begitu luas. Maka perlu dipikirkan dan direncanakan jalan transformasi yang hendak diraih agar mustahik berubah menjadi sejahtera. Mujadid menunjukkan bahwa indikatornya ada dua yaitu integrasi dan penguatan tata kelola serta program yang berdampak.
Masih Luput dari Medan Gerakan Filantropi
Persoalan integrasi data kemiskinan sudah sering dibicarakan di banyak tempat. Pemerintah sendiri berupaya melakukannya. Menurut Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag RI, Waryono Abdul Ghafur, ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Hal senada disampaikan Bendaha Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hilman Latief, sebagai peneliti dan pelaku gerakan filantropi, katanya, eksposur data masih luput dari perhatian gerakan filantropi.
Ia mengaku, masih sulit menemukan lembaga filantopi di Indonesia yang memiliki kualitas data. Faktanya, ekosistem gerakan zakat tumbuh dan berkembang. Bahkan menjadi salah satu kekuatan tersendiri yang ditopang oleh sistem dan modal kulturalnya yang kompleks.
“Namun kekuatan data itu belum terhubung dengan entitas lain seperti perusahaan dan industri keuangan. Impiannya berbagai program pemberdayaan yang ada di lembaga amil zakat bisa saling terhubung. Potensi besar itu belum sepenuhnya terdengar di kancah internasional”, ungkapnya.
Dalam aksi layanan program pemberdayaan, kita punya inovasi praktik baik yang banyak, itu belum cukup andal dieksposur kepada dunia internasional. Karena itu, dalam amanahnya, Hilman menekankan nilai penting data, literasi dan eksposur yang harus diperkuat kembali.
Sampai hari ini, menurut Waryono, kita masih berupaya melakukan integrasi sistem pelaporan keuangan. Di sisi lain, kita akan menuju integrasi data, ini bukan hal yang mudah. Dalam ranah integrasi dan program yang berdampak saja perlu beberapa instrumen. Lantas, bagaimana menguatkan muzaki yang pengumpulannya sangat dipengaruhi oleh muzaki itu sendiri.
“Mengukur kesuksesan badan dan lembaga amil zakat alat ukurnya ada pada pada seberapa kuat dampaknya. Tentu ini adalah tantangan kita semua. Meski mandatori lembaga amil zakat itu jelas, tapi dampaknya harus lebih bisa dirasakan oleh masyarakat”, terangnya.
Hal yang jadi perhatian bersama, jangan sampai terjadi bahwa hasil penghimpunan yang diraih besar tapi lingkungan di sekitar kita masih bergelimang kemiskinan. Artinya, tegas Waryono, program yang dilakukan belum berdampak pada orang miskin.
Merujuk isu integrasi data tersebut, ke depannya akan dihadirkan suatu dashboard bersama. Tampilan data visual yang dapat dijadikan informasi untuk membaca pertumbuhan dan perkembangan layanan program lembaga amil zakat yang nantinya terhubung ke lembaga terkait seperti kementerian.
Integrasi data bersumber dari koordinasi antar lembaga. Selaras dengan hal itu, Wakil Ketua Baznas, Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan, tema yang diusung Lazismu begitu menarik, dan menjadi tantangan pengelolaan zakat selama ini, kata Sa’adi.
“Potensi zakat di Indonesia sangat besar, kita selalu mengitung, mengkalkulasi dan hanya berapa persen potensi itu diraih. Potensi itu bisa terus menghasilkan dengan dampak yang kuat bagi kehidupan masyarakat”, ujarnya.
Menurut Sa’adi, topik milad Lazismu ini kita tangkap sebagai suatu kekuatan agar kita bisa lakukan bersama. Mewakili Baznas, Sa’adi mengatakan, setidaknya jalan integrasi itu menyajikan integrasi kelembagaan, integrasi data dan integrasi sumber daya.
“Masing-masing saling melengkapi dan menilai kebutuhan masyarakat yang tepat sasaran. Kendati tidak semua bisa diintegrasikan, paling tidak integrasi data mampu menjawab persoalan tumpang tindih selama ini”, jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, memberikan empat pesan kunci kepada Lazismu agar menjadi kekuatan yang terintegrasi dan berdampak. Pesan itu, kata Haedar berupa konsolidasi jejaring Lazismu secara nasional dan Lazismu di mancanegara.
“Ini kunci utama tujuan integrasi yaitu membangun soliditas dalam sistem pengorganisasian”, pesannya. Kedua, integrasi dinamika gerakan yang progresif dan meluas, dan ketiga, integrasi aktivitas pentasyarufan dan pemanfaatan dana ZISKA yang dihimpun pada lingkungan persyarikatan secara terpadu. Pesan terakhir, sambung Haedar, meningkatkan jejaring untuk kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan sehingga menambah penghimpunan agar luas jangkauannya dan lebih besar dampaknya.
Haedar mempertajam kembali bahwa bagaimana potensi yang ada terus digali oleh Lazismu dengan berbagai cara pandang. Saluran publikasi harus ditempuh terus-menerus. Manfaatkan teknologi infomasi seperti media sosial. Ikhtiar tersebut merupakan langkah menemukan relasi baru yang masif dan strukturnya luas.
