Konten dari Pengguna

Nilai Ekonomi Ramadhan, Literasi Keuangan Syariah Mampu Bangkitkan Kesejahteraan

Nazhori Author

Nazhori Author

Jurnalis Filantropi, Kembali kepada yang Maha Pemberi Bentuk

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazhori Author tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pembukaan Kick Off Program Ramadhan Lazismu 1447 H di Uhamka, Jakarta
zoom-in-whitePerbesar
Pembukaan Kick Off Program Ramadhan Lazismu 1447 H di Uhamka, Jakarta

Geliat ekonomi di bulan Ramadhan diharapkan menjadi tumpuan dalam memacu pertumbuhan untuk menjemput kesejahteraan. Pada bulan inilah pola konsumsi masyarakat dapat memulihkan roda ekonomi yang lesu di sektor usaha mikro kecil dan menengah.

Dalam hitungan hari Ramadhan akan tiba. Ramadhan digadang-gadang sebagai momen istimewa yang di dalamnya ada keberkahan bagi kalangan muslim di Indonesia. Karena itu, para pengamat ekonomi selalu memprediksi setiap tahun bahwa Ramadhan akan menjadi daya pengungkit pertumbuhan ekonomi.

Peneliti dan praktisi filantropi, Hilman Latief, mengatakan, sejauh ini masyarakat menganggap berbeda antara bulan biasa dan bulan Ramadhan. “Satu kali setiap tahun Ramadhan kita jalani, rasakan dan lewati bahkan kita tinggalkan”, imbuhnya. Daur ini terus merekah. Di dalamnya ada kegembiraan dan kesedihan.

Pertanyaannya, lanjut Hilman, bagaimana memaknai perbedaan bulan Ramadhan dan bulan di luar Ramadhan. “Ramadhan tidak melulu dihiasi dengan ibadah dan spiritualitas, tapi jauh lebih penting adalah memotret penguatan literasi keuangan syariah”, pungkasnya yang juga sebagai bendahara umum pimpinan pusat Muhammadiyah.

Setiap muslim pada bulan Ramadhan berlomba – lomba mendapat pahala dalam kebajikan. Tidak hanya zakat, infak, sedekah dan dana sosial keagamaan lainnya (ZISKA), yang menjadi literasi kuat bagi lembaga filantropi seperti lembaga atau badan amil zakat. Sejatinya, menurut Hilman poin pentingnya, reaktualisasi kepada masyarakat soal literasi keuangan syariah dalam bermuamalat di bulan suci itu. Tanpa literasi yang kuat tidak akan tumbuh industri keuangan. Maka Ramadhan ini jadi arena penguatan literasi keuangan syariah.

Demikian Hilman menyampaikan dalam acara Kick Off Ramadhan 1447 H Lazismu pada pertengahan Januari di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Uhamka, Jakarta. “Kita ingin menghadirkan kembali perspektif yang lebih kritis kepada umat Islam bahwa cara pandang yang baru terhadap Ramadhan bukan sekadar berbagi angka, tapi juga berbagi pengetahuan dengan kemampuan”, tandasnya.

Ia mendorong dalam entitas persyarikatan muhammadiyah agar mulai kembali menyuguhkan program Ramadhan yang mampu menggali ide-ide spirit kewirausahaan (entrepreneurship). Lazismu sebagai lembaga amil zakat, setiap tahun berusaha untuk menghadirkan itu, misalnya dengan program Tebar Takjil, yang menggandeng para UMKM lokal untuk membuat makanan dan minumannya.

Secara tidak langsung, filantropi Islam menjangkaunya dengan basis entrepreneurship. Tanpa pemberdayaan ekonomi, literasi keuangan syariah gerak dan langkahnya akan terbatas. Oleh sebab itu, lanjut Hilman, biasanya kalau di dalam bulan-bulan sebelumnya arena untuk berbagi lewat zakat, infak serta sedekah.

Kita belum optimal menempatkan bulan Ramadhan bagi masyarakat untuk bisa terlibat di dalam kegiatan entrepreneurship. Biasanya, kita menyalurkan infak sedekah untuk berbagi. Padahal di bulan Ramadhan yang kaya akan limpahan berkah harusnya bisa lebih dahsyat dari itu.

“Bila Idul Fitri semakin dekat kita baru memberi, bagaimana caranya juga kelompok atau entitas tertentu di bulan Ramadhan mampu berkreasi mengaktualisasikan gerakan ekonomi, contoh kecilnya pasar kaget yang ada di berbagai tempat”, jelasnya.

Di Masjid Jogokariyan misalnya, pasar kaget bisa bertahan selama tiga pekan. Maka, perlu mengajak keterlibatan masyarakat dalam memuliakan Ramadhan. Ia menilai, yang jadi target bukan suatu entitas di akhir Ramadhan, tapi bagaimana Ramadhan yang berkah melibatkan masyrakat. Ini bisa direfleksikan oleh amil dan bagaimana menggerakan ekosistem tersebut.

Selama ini kita melihat Ramadhan bulan yang terpisah dengan bulan lainnya. Tugas kita yang menalikan agar tidak terpisah dan ada ekosistem yang harus kita bangun. Hal itu butuh perjuangan. Di samping itu, lanjut Hilman, tantangan yang dihadapi bangsa ini dalam membangun kesejahteraan adalah ketika bencana melanda. Saudara-saudara kita yang terdampak bencana banjir dan longsor sangat membutuhkan uluran tangan.

Hemat saya, perlu ada tempat-tempat spesifik dalam melaksanakan ibadah Ramadhan di daerah yang terdampak bencana dengan membawa kegembiraan sebagai bekal yang juga perlu disiapakan. “Yuk kita imajinasikan Ramadhan tahun ini seperti apa yang akan disajikan program-programmnya di daerah bencana”, kata Hilman mengajak dengan bersemangat.

Kita tahu dan menyadari bahwa dalam psikologi bencana ada banyak kendala di lapangan. Karena itu perlu melihat dengan pertimbangan yang efektif. Program apa yang perlu disiapkan untuk program Ramadhan bagi penyintas. Hal ini, disampaikan karena dalam Kick Off ini ada banyak mitra yang hadir termasuk dunia perbankan. Maka transparansi kita kuatkan, dampaknya pada pendampingan pendistribusian kemanusiaan juga kian efektif dan terjaga.

Hilman menilai, Lazismu tidak bisa bergerak sendiri. Lembaga ini membutuhkan mitra untuk berkolaborasi. Apa program yang relevan pada Ramadhan dan setelahnya yang terkait dengan program berkelanjutan. “Kendati sudah ada banyak rekomendasi dari mitra yang ingin bersinergi”, jelasnya menggarisbawahi pada fokus kewirausahaan untuk pemberdayaan.

Filantropi Memperkuat Jalan Dakwah

Dalam kesempatan itu, menurut Ahmad Imam Mujadid Rais, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, selain sebagai momen yang tepat bagi Lazismu, Ramadhan merupakan sarana edukasi dan literasi keuangan syariah. Selain ada edukasi dan literasi zakat serta amalan kebajikan lainnya.

Lazismu sejauh ini, mendapat dukungan dari para ustadz dan pegiat dakwah yang turut mendorong jamaah dengan bekal hikmah Ramadhan. Setiap Ramadhan, menurutnya, jalan dakwah sebagai sumber informasi keutamaan bulan Ramadhan, salah satunya diingatkan dengan 10 hari terakhir untuk menunaikan zakat.

Oleh karena itu, tema besar Ramadhan yang diusung Lazismu “Zakat Majukan Kesejahteraan Bangsa” telah sejalan dengan tema besar Muhammadiyah saat Tanwir di Kupang. Lazismu sebagai satu dari elemen persyarikatan Muhammadiyah, setidaknya mampu berkontribusi dalam upaya menyejahterakan bangsa.

Makna zakat yaitu tumbuh dan berkah. Melalui Ramadhan tahun ini, lima program besarnya yaitu Tebar Takjil, Back to Masjid, Kado Ramadhan, Taman Lansia dan Mudikmu Aman, merupakan wawasan filantropi yang akan melengkapi bulan Ramadhan.

“Dalam rencana strategis Lazismu, fokus perhatiannya adalah Masjid. Masjid menjadi perhatian penting dalam gerakan filantropi. Tidak hanya memakmurkan masjid tapi juga menjadi pusat kegiatan pemberdayaan umat”, paparnya.

Menurutnya, yang tidak boleh dilupakan isu lanjut usia sebagai bagaian dari kelompok rentan. Lansia berdasarkan dokumen dari persyarikatan bangsa-bangsa (PBB), merupakan bagian dari upaya menanggulangi kemanusian. Kita tidak boleh meninggalkan lansia dan perempuan, termasuk penyandang disabilitas. Ini merupakan keberpihakan Lazismu terhadap kelompok rentan.

Keberlanjutan program ini setiap Ramadhan merupakan komitmen Lazismu dalam mengemas program berdasarkan kebutuhan wawasan filantropi Islam yang menjadi ciri khas dengan melibatkan masyarakat, mitra strategis dan penerima manfaat. (na)