Konten dari Pengguna

Yayasan Soedirman dan Lazismu Ajak Siswa Peduli Penyintas Bencana Sumatera

Nazhori Author

Nazhori Author

Jurnalis Filantropi, Kembali kepada yang Maha Pemberi Bentuk

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazhori Author tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sesi penyerahan donasi kemanusian untuk penyintas banjir Aceh dan Sumatera
zoom-in-whitePerbesar
Sesi penyerahan donasi kemanusian untuk penyintas banjir Aceh dan Sumatera

JAKARTA – Pendidikan karakter menjadi kunci kualitas pendidikan yang diselenggarakan Yayasan Masjid Panglima Besar Soedirman. Wujud implementasinya dibuktikan dengan aksi nyata program kepedulian terhadap penyintas banjir dan longsor di Sumatera.

Nilai-nilai yang diterapkan dibentuk dengan sikap dan tindakan seperti empati, peduli dan saling tolong menolong berupa galang dana yang dilakukan para siswa dan keluarga besar Yayasan untuk penyintas bencana banjir Sumatera.

Hasil penghimpunan dana itu terkumpul sebesar Rp 261.305.474, dari donasi infak dan sedekah para siswa dari tingkat TK, SD, SMP, SMA dan SMK serta para guru dan karyawan yayasan ada di Jakarta dan Bekasi. Demikian diungkapkan Endang Titiek Soerjandari, Ketua Yaasan Masjid Panglima Besar Soedirman, di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, pada Rabu (28/1/2026).

“Yayasan menyerahkan bantuan kemanusiaan untuk penyintas bencana banjir dan longsor di Sumatera”, paparnya. Mewakili Yayasan kami sampaikan rasa duka dan prihatin mendalam atas peristiwa bencana yang berdampak pada saudara-saudara kita di Sumatera dan Aceh.

“Dalam agama Islam, telah diajarkan bagaimana kepedulian dilakukan dengan saling tolong menolong. Ini jadi landasan agar saling menguatkan dan empati membantu mereka yang terdampak bencana sejak November tahun 2025”, pungkasnya.

Semoga bantuan kemanusiaan ini, yang diserahkan melalui Lazismu bermanfaat untuk para penyintas. Endang mengatakan, mengapa perwakilan siswa dan siswi kami rangkul mengunjungi Lazismu? Tujuannya, kata dia, supaya peserta didik bisa menyaksikan langsung bagaimana proses penyerahan donasi mengadirkan nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian untuk yang membutuhkan.

“Mudah-mudahan bantuan ini dapat meringankan dan sebagai tali penyambung asa kepada penyintas sebagai rasa empati kami”, tandasnya. Yayasan memercayakannya Lazismu untuk menegelolanya secara profesional. Ini bukan kali pertama, ujar Endang, sebelumnya bantuan kemanusian lainnya juga disalurkan lewat Lazismu. Terima kasih atas sinergi dan kerja sama yang terjalin, tambahnya.

Merespons kunjungan yayasan itu, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, mengucapkan terima kasihnya kepada Yayasan Masjid Panglima Besar Soedirman. “Donasi kemanusiaan yang dimanahkan kepada Lazismu untuk penyintas di Aceh dan Sumatera akan segera disalurkan”, ujarnya. Setelah peristiwa bencana itu pada November tahun kemarin, Lazismu telah berkoordinasi dengan MDMC dan pemangku kepentingan untuk menerjunkan relawan Muhammadiyah.

Mujadid Rais juga menyampaikan bahwa yayasan ini beberapa waktu lalu juga menyalurkan bantuan lewat Lazismu untuk warga Palestina. Melalui bebrapa tahapan Lazismu telah menyalurkan dan berkolaborasi dengan lembaga - lembaga resmi melalui jalur Yordania dan Mesir. Saat ini, Lazismu sedang menuju tahap rehabilitasi dan rekonstruksi di Sumatera Utara dan Sumatera Barat, dan di Aceh bantuan masih terus kami salurkan untuk penyintas bersama Lazismu wailayah dan daerah.

Pendidikan Karakter Jadi Kunci

Aksi pedagogis yang dilakukan Yayasan Masjid Panglima Besar Soerdirman dalam menerapkan pendidikan karakter diapresiasi Kemendikdasmen yang hadir dalam penyerahan donasi itu. Diwakili oleh Arif Jamali Muis, Kemendikdasmen mengatakan apa yang dilakukan guru, siswa dan pengurus yayasan dalam menghimpun donasi merupakan nilai yang penting.

“Wujud nilai-nilai kemanusiaan yang dihadirkan dengan saling tolong menolong merupakan praktik nyata sikap dan tindakan dari pendidikan karakter”, katanya. Arif menilai, ranah kognitif saat ini seperti berhenti di lembaga pendidikan. Peserta didik tahu dan paham tapi hanya sekadar aspek pengetahuan yang bersifat kognitif.

Mengapa hal itu terjadi, Ia menilai sejauh ini tidak menyelelami dan mempraktikan apa yang diajarkan. Pada kenyataannya, sambung Arif, pendidikan karakter justeru diterapkan Yayasan Masjid Panglima Besar Soedirman dalam praktik nyata kepada siswa siswinya. Di sana diajarkan makna infak, sedekah dan zakat dalam pelajaran agama islam. Kondisi itu, ternyata lebih dalam lagi penerapannya.

“Pendidikan karakter yang dipraktikan tersebut juga menarik dari apa yang diterapkan para guru. Jadi tidak hanya menyerahkan kepada Lazismu, tapi siswa siswi diajak langsung bertemu dengan pengurus dan amil Lazismu. Mereka mengerti apa yang telah dilakukan oleh Muhammadiyah,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Arina Maharani salah seorang siswi SMA Yayasan Masjid Panglima Besar Soedirman, Kelas 2, mengungkapkan, bersama keluarga besar Yayasan Masjid Panglima Besar Soedirman kami menghimpun dana untuk peduli terhadap penyintas banjir Sumatera. "Kami punya jiwa empati untuk peduli. Kepada kawan - kawan di lokasi bencana yang masih terkendala pendidikan, jangan putus asa karena pendidikan bisa didapat dari mana saja", katanya.

Secara simbolis serah terima donasi peduli penyintas bencana Aceh dan Sumatera dari Yayasan Masjid Panglima Besar Soedirman kepada Lazismu disaksikan oleh para guru, pengurus yayasan dan siswa – siswi serta jajaran pimpinan Lazismu Pusat di antaranya Wakil Badan Pengurus Lazismu Pusat Barry Adhitya, Direktur Utama Lazismu Pusat Ibnu Tsani dan Direktur Fundraising Lazismu Pusat Mochamad Sholeh Farabi. (na)