Konten dari Pengguna

Pengaruh Budaya Victim Blaming Terhadap Mental Korban Kekerasan Seksual

Nazilah Achmad

Nazilah Achmad

Bachelor of Law

comment
9
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazilah Achmad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Victim Blaming
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Victim Blaming

Apakah kamu pernah mendengar istilah victim blaming? Victim artinya korban, sedangkan blaming artinya menyalahkan. Jadi, jika digabungkan kedua kata tersebut menjadi “menyalahkan korban”. Istilah ini sering digunakan dan ditujukan kepada orang-orang yang menyalahkan korban kekerasan seksual atas apa yang dialaminya. Padahal, tindakan yang dialami korban bukanlah kesalahannya melainkan si pelaku kekerasan seksual tersebut. Hal ini dapat terjadi karena pemahaman masyarakat di Indonesia dalam menghadapi atau menangani korban kekerasan seksual masih sangat minim dan budaya patriarki yang kuat. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa penyebab terjadinya tindakan kekerasan seksual adalah karena berasal dari pihak korban yang menggunakan pakaian yang ketat atau mini, keluar sendirian pada malam hari, perilaku yang dianggap “memancing” oleh masyarakat, dan lain-lain. Tentu asumsi-asumsi tersebut jelas salah karena tidak ada relevansi nya dengan pelaku tindakan kekerasan seksual untuk melakukan aksi nya. Di Indonesia, masyarakat sering mempermasalahkan pakaian yang dipakai oleh korban sebagai alasan utama penyebab terjadinya kekerasan seksual tersebut. Padahal, kita sebagai manusia sudah memiliki hak nya masing-masing dan berhak untuk merasa aman dimanapun kita berada. Menggunakan pakaian yang kita inginkan di publik tentu tidak ada salahnya karena kita memiliki hak akan hal itu dan tidak seharusnya kita merasa terganggu dengan mereka yang sedang menggunakan hak nya tersebut.

Maraknya budaya victim blaming di Indonesia sangatlah berbahaya dampaknya kepada para korban. Masyarakat yang seharusnya melindungi dan mendukung pihak korban, kenyataannya yang terjadi malah sebaliknya. Korban menjadi sasaran bullying, dianggap sebagai aib keluarga, dikucilkan oleh lingkungan sosial, dan lain-lain. Hal ini akan dengan mudah mempengaruhi kesehatan mental si korban. Korban bisa saja mengalami depresi, gangguan kecemasan, post traumatic stress disorder (PTSD), dan bahkan yang paling parah yaitu mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Terganggunya kesehatan mental korban dapat terjadi karena ia tidak mendapatkan support yang seharusnya diberi dari orang-orang terdekatnya.

Ilustrasi slogan Victim Blaming

Sebagai masyarakat Indonesia yang cerdas, kita seharusnya lebih peduli akan hal seperti ini. Bagaimana cara kita menangani korban tindakan kekerasan seksual tersebut? Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk membantu para korban, yaitu antara lain memberi penanganan khusus kepada korban oleh psikiater, dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat korban, mendengarkan cerita dari sisi korban, dan membawa peristiwa yang dialami korban ke jalur hukum agar pelaku jera atas perbuatannya. Oleh karena itu, mulai dari sekarang kita sebagai masyarakat sebaiknya mengedukasi diri lebih dalam lagi mengenai apa itu kekerasan seksual dan bagaimana dampaknya terhadap korban yang mengalaminya. Sehingga, masyarakat dapat lebih berhati-hati dalam merespon korban kekerasan seksual.