Muslim di Orbit: Eksplorasi Ruang Angkasa sebagai Jihad Ilmiah

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Fakultas Syariah dan Hukum
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nazjwa Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan saja, di tengah gemerlap bintang dan kehampaan luar angkasa, seorang muslim sedang melaksanakan sholat di modul antariksa. Itu bukan sekadar imajinasi. Di era eksplorasi ruang angkasa ini, muslim di seluruh dunia semakin terlibat dalam apa yang bisa disebut sebagai "jihad ilmiah"—perjuangan untuk mengejar ilmu pengetahuan demi kemajuan umat manusia, sesuai dengan ajaran Islam yang mendorong pencarian kebenaran dan inovasi. Dari astronom muslim abad pertengahan seperti Al-Kindi hingga astronaut modern seperti Sheikh Muszaphar Shukor dari Malaysia, eksplorasi ruang angkasa bukan lagi mimpi, melainkan kenyataan yang menginspirasi. Artikel ini mengupas bagaimana muslim berkontribusi di bidang ini, tantangan yang dihadapi, dan harapan masa depan. Mari kita jelajahi!
Sejarah dan Kontribusi: Warisan Ilmiah Islam di Langit
Islam memiliki sejarah panjang dalam sains. Pada abad ke-9, astronom muslim seperti Al-Battani mengembangkan trigonometri yang membantu navigasi, bahkan memengaruhi penemuan teleskop oleh Galileo. Zaman sekarang, muslim terus melanjutkan tradisi itu. Ambil contoh Sultan bin Salman Al Saud, astronaut Arab pertama yang terbang ke luar angkasa pada 1985. Ia melihat misinya sebagai bentuk ibadah, mengutip ayat Al-Quran tentang penciptaan langit dan bumi. Di era modern, negara seperti Uni Emirat Arab meluncurkan misi Mars dengan Hope Probe pada 2021, dipimpin oleh ilmuwan muslim. Ini bukan sekadar teknologi; ini jihad ilmiah, di mana pengetahuan digunakan untuk memahami ciptaan Allah. Fakta menarik: Muslim menyumbang sekitar 20% dari total astronaut dunia, menurut data NASA, menunjukkan komitmen kuat terhadap eksplorasi.
Tantangan di Orbit: Antara Iman dan Teknologi
Tapi, hidup di orbit bukan tanpa rintangan. Astronaut muslim harus menghadapi tantangan fisik seperti microgravity yang memengaruhi sholat—bagaimana menghadap kiblat saat Bumi berputar? Sheikh Muszaphar Shukor, yang terbang pada 2007, mengatasi ini dengan sholat virtual dan inovasi. Tantangan lain adalah stereotip: muslim sering dikaitkan dengan ekstremisme, padahal kontribusi mereka justru membangun perdamaian. Di tengah geopolitik, seperti ketegangan di Timur Tengah, muslim di ruang angkasa menjadi simbol toleransi. Bayangkan, saat ISS (Stasiun Luar Angkasa Internasional) menjadi rumah bagi astronaut dari berbagai agama, muslim di sana mempromosikan dialog antarbudaya. Ini mengingatkan kita pada hadis Nabi Muhammad SAW tentang mencari ilmu hingga ke negeri Cina—sekarang, hingga ke orbit!
Masa Depan: Jihad Ilmiah Menuju Bintang-Bintang
Apa selanjutnya? Dengan rencana NASA dan SpaceX untuk misi ke Mars, muslim siap berperan. Indonesia, misalnya, sedang mengembangkan astronaut nasional dengan latar belakang Islam yang kuat. Ini bukan hanya tentang eksplorasi, tapi juga etika: bagaimana memastikan eksplorasi ruang angkasa sesuai syariah, seperti menghindari eksploitasi sumber daya luar angkasa? Generasi muda muslim, terinspirasi oleh tokoh seperti Neil deGrasse Tyson (meski bukan muslim, ia sering kutip kontribusi Islam), mulai belajar coding dan astrofisika. Jihad ilmiah ini mengajak kita semua: mari berkontribusi, karena langit bukan batas, melainkan panggung untuk memuliakan Sang Pencipta.
