Konten dari Pengguna

Andrographis Paniculata Antivirus yang Melawan COVID hingga Influenza

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazla Alifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tanaman pahit yang daunnya dulu dipaksa diminum nenek ketika kita demam ternyata menyimpan rahasia farmakologi yang jauh lebih dalam dari sekadar penambah nafsu makan. Andrographis paniculata antivirus atau yang lebih dikenal sebagai sambiloto kini menjadi salah satu tanaman obat yang paling aktif diteliti di dunia, dengan bukti ilmiah yang terus berkembang dari laboratorium hingga uji klinis terhadap berbagai infeksi virus termasuk influenza dan COVID-19.

Andrographis Paniculata Antivirus yang Sudah Digunakan Ribuan Tahun di Asia

Ilustrasi Andrographis paniculata antivirus sambiloto daun pahit tanaman obat Indonesia.Photo by GPT AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Andrographis paniculata antivirus sambiloto daun pahit tanaman obat Indonesia.Photo by GPT AI

Andrographis paniculata dikenal sebagai King of Bitters atau Raja Kepahitan dan telah digunakan sebagai obat tradisional di negara-negara Asia seperti Cina, India, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia. Ia dianggap sebagai obat yang aman dan tidak toksik dalam pengobatan tradisional Cina. Tanaman ini memiliki potensi luar biasa di antara tanaman obat karena spektrum aktivitas biologisnya yang luas terkait pengobatan penyakit infeksi dan degeneratif.

Di Indonesia, sambiloto sudah lama masuk dalam daftar tanaman obat keluarga. Rasanya yang sangat pahit sering membuat anak-anak menolak, tapi justru senyawa pahit itulah yang menjadi kunci aktivitas antivirusnya. Andrografolid, senyawa utama yang memberi rasa pahit khas sambiloto, adalah molekul yang kini sedang diuji secara serius oleh para ilmuwan di seluruh dunia.

Cara Sambiloto Menyerang Virus dari Tiga Arah Sekaligus

Apa yang membuat andrografolid dari sambiloto sangat menarik bagi peneliti antivirus adalah kemampuannya bekerja melalui beberapa mekanisme sekaligus, bukan hanya satu target tunggal.

Mekanisme kerja andrografolid dalam menghambat infeksi virus dapat dikategorikan dalam beberapa jenis yaitu mengatur tahap masuknya virus ke dalam sel, menghambat replikasi gen virus, dan mencegah pembentukan protein fungsional yang matang.

Bayangkan seperti menghadapi musuh dengan tiga lapis pertahanan sekaligus. Pertama, virus dicegah masuk ke dalam sel. Kedua, jika berhasil masuk pun, kemampuannya memperbanyak diri dihambat. Ketiga, protein-protein yang dibutuhkan virus untuk menjadi partikel infektif yang matang diblokir pembentukannya. Serangan tiga lapis ini yang membuat andrografolid menjadi kandidat antivirus yang sangat menarik untuk dikembangkan lebih jauh.

Mekanisme Imunologis yang Membuat Sambiloto Berbeda

Di luar kerja langsung terhadap virus, sambiloto juga memperkuat pertahanan tubuh dari dalam.

Sebagian besar studi mendukung hipotesis bahwa suplementasi Andrographis paniculata merangsang dan meregulasi sistem imun. Ekstrak Andrographis paniculata dan turunan andrografolidnya telah diidentifikasi sebagai senyawa kimia alami yang menjanjikan sebagai pilihan untuk menemukan obat antivirus baru dengan target dan mekanisme yang unik.

Andrographis paniculata telah digunakan dalam pengobatan Ayurveda India, pengobatan tradisional Swedia, Thailand, dan Cina untuk meredakan batuk, pilek, dan gejala influenza. Studi laboratorium awal menunjukkan bahwa ekstrak herbal ini dapat mengurangi peradangan dan demam, serta meningkatkan pertahanan alami tubuh terhadap virus.

Andrografolid menunjukkan nilai IC50 sebesar 13 mikrogram per mililiter dan sekitar 4,3 kali lebih poten dibanding ekstrak komersialnya dalam menghambat aktivitas NF-kB, jalur inflamasi utama yang dieksploitasi banyak virus untuk memperparah gejala infeksi.

Uji Klinis Terhadap COVID-19 dan Infeksi Saluran Pernapasan

Saat pandemi COVID-19 melanda, sambiloto menjadi salah satu tanaman obat yang paling cepat diteliti sebagai kandidat terapi pendamping.

Senyawa bioaktif sambiloto khususnya diterpenoid lakton andrografolid, neoandrografolid, 14-deoksiandrografolid, dan 14-deoksi-11,12-didehidroandrografolid, serta fitokimia lain seperti flavonoid dan fitosterol, telah diidentifikasi dan dipelajari untuk sifat antiinflamasi, antivirus, dan imunomodulatornya melalui modulasi jalur inflamasi termasuk NF-kB, COX-2, dan iNOS.

Andrographis paniculata dengan sifat antiinflamasi dan antivirusnya yang sudah diketahui telah dieksplorasi sebagai terapi ajuvan untuk COVID-19. Tinjauan sistematis dan meta-analisis yang mencakup uji klinis terkontrol acak dari Januari 2020 hingga Oktober 2024 dilakukan untuk mengevaluasi efek klinis dan biologis senyawa turunan Andrographis paniculata pada pasien dengan COVID-19 ringan hingga sedang.

Untuk infeksi saluran pernapasan atas yang lebih umum, buktinya sudah cukup solid. Produk ekstrak Andrographis paniculata yang distandarisasi secara klinis terbukti memiliki efikasi 2,1 kali lebih tinggi dibanding plasebo dalam mengurangi gejala infeksi saluran pernapasan atas pada 223 pasien.

Spektrum Antimikroba yang Lebih Luas dari yang Dikira

Riset terbaru menunjukkan bahwa potensi andrografolid jauh melampaui satu jenis virus saja.

Andrografolid, senyawa bioaktif dari Andrographis paniculata, telah menarik perhatian karena sifat antimikrobanya yang mencakup efek antibakteri, antivirus, antijamur, dan antiprotozoal. Tinjauan sistematis mengikuti pedoman PRISMA 2020 terhadap 16 studi yang diterbitkan dari 2010 hingga 2024 menunjukkan bahwa andrografolid efektif melawan bakteri seperti Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, dan Staphylococcus aureus.

Ini bukan hanya tentang virus pilek atau flu biasa. Andrografolid sedang diteliti untuk resistensi antibiotik, infeksi bakteri yang semakin sulit diobati dengan obat konvensional, dan bahkan beberapa jenis protozoa penyebab penyakit tropis yang sangat relevan untuk konteks Indonesia.

Tantangan yang Masih Perlu Diatasi

Jujurnya, sambiloto belum siap menjadi antivirus tunggal yang bisa menggantikan obat farmasi modern. Ada hambatan teknis yang perlu diselesaikan.

Efikasi andrografolid sebagai kandidat antivirus masih perlu diteliti lebih lanjut karena fitokonstituennya menunjukkan berbagai karakteristik fisikokimia termasuk kelarutan rendah dan bioavailabilitas rendah.

Di sinilah teknologi seperti phytosomes dan nanopartikel yang sedang dikembangkan menjadi sangat relevan. Jika masalah bioavailabilitas andrografolid bisa diatasi melalui rekayasa formulasi, sambiloto berpotensi menjadi antivirus herbal yang jauh lebih efektif dan terstandarisasi.