Kayu Secang Antioksidan Alami dari Minuman Merah Keraton yang Menyimpan Khasiat

Pharmacy Major in State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Nazla Alifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Minuman berwarna merah tua itu sudah ratusan tahun disajikan di Keraton Yogyakarta dan Solo sebagai wedang penyegar sekaligus penjaga kesehatan. Warna merahnya yang khas bukan dari pewarna buatan, tapi dari serpihan kayu kering yang direbus hingga seratnya melepas pigmen alami ke dalam air. Tanaman itu adalah secang atau Caesalpinia sappan L., dan di balik tradisi panjang wedang secang sebagai minuman keraton, tersimpan potensi kayu secang antioksidan yang kini mulai dibuktikan serius oleh dunia farmakologi modern.
Kayu Secang Antioksidan yang Bekerja Lebih dari Sekadar Memberi Warna

Senyawa antioksidan yang terkandung dalam kayu secang meliputi senyawa fenolik, resorsinol, brazilin, asam galat, flavonoid, saponin, terpenoid, dan tanin. Kayu secang memiliki aktivitas antioksidan yang dapat dilihat dari uji in vitro dengan nilai IC50 maupun uji in vivo pada hewan percobaan.
Dari semua senyawa itu, brazilin adalah bintang utamanya. Kayu secang mengandung brazilin yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan. Brazilin adalah pigmen merah alami yang menjadi sumber warna khas wedang secang sekaligus pembawa aktivitas biologis utama tanaman ini.
Ini menjawab pertanyaan yang selama ini mungkin terlintas ketika meneguk wedang secang yaitu apakah warna merahnya hanya estetika atau ada fungsi nyata di baliknya?
Jawabannya adalah keduanya. Pigmen yang memberi warna itu adalah senyawa aktif yang sama yang bekerja melawan radikal bebas di dalam tubuh.
Radikal Bebas dan Mengapa Antioksidan dari Secang Relevan
Radikal bebas dapat melemahkan fungsi membran sel dan retikulum endoplasma serta menghancurkan sel pada tingkat molekuler DNA. Tubuh manusia membutuhkan antioksidan untuk menstabilkan jumlah radikal bebas di dalam tubuh. Antioksidan alami yang terdapat pada tanaman mencakup vitamin, fenol, flavonoid, dan karotenoid.
Dalam kondisi normal, tubuh memproduksi antioksidan alaminya sendiri untuk menetralkan radikal bebas. Tapi ketika paparan stres oksidatif terlalu tinggi yaitu akibat polusi, makanan tidak sehat, atau penuaan, sistem pertahanan alami tubuh tidak lagi mencukupi. Di sinilah asupan antioksidan dari sumber alami seperti kayu secang menjadi relevan.
Potensi Penghambat Kolesterol yang Mengejutkan
Satu temuan dari riset 2024 yang layak mendapat perhatian adalah potensi kayu secang sebagai penghambat enzim HMG-CoA reduktase yaitu enzim yang sama yang menjadi target obat statin untuk menurunkan kolesterol.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa sappanone B, hematoxylin, dan brazilin dari kayu secang berpotensi menjadi penghambat kompetitif di situs aktif HMG-CoA reduktase, menawarkan alternatif berbasis alam yang menjanjikan untuk pengobatan hiperkolesterolemia dengan efek samping yang minimal.
Membandingkan brazilin dari kayu secang dengan simvastatin sebagai obat statin standar dalam simulasi molekuler adalah langkah penelitian yang sangat berani. Hasilnya belum bisa langsung diklaim setara dengan obat resmi, tapi arahnya jelas yaitu ada dasar ilmiah yang kuat untuk meneliti lebih jauh potensi kayu secang dalam pengelolaan kolesterol.
Lebih dari Antioksidan, Ini Manfaat Lain yang Sudah Diteliti
Penelitian ekstrak etanol kayu secang menunjukkan penurunan kadar besi jantung sebesar 47 persen, penurunan luas fibrosis sebesar 72 persen, dan perbaikan pada struktur histologis jantung. Kemampuan ini disebabkan oleh sifat kelasi besi, antioksidan, dan antiinflamasi yang dimiliki ekstrak kayu secang.
Selain itu, penelitian lain sedang mengeksplorasi potensi kayu secang sebagai penghambat enzim COX-2 yaitu enzim yang bertanggung jawab memicu peradangan dan menjadi target obat antiinflamasi modern seperti ibuprofen. Jika terbukti secara klinis, ini membuka peluang kayu secang sebagai antiinflamasi alami yang lebih ramah terhadap lambung dibanding obat sintetis.
Tradisi Keraton yang Lebih Pintar dari yang Disadari
Ada yang menarik dari fakta bahwa kayu secang sudah lama menjadi bagian dari tradisi kesehatan keraton Jawa. Minuman berempah berbahan kayu secang yang dikombinasikan dengan jahe, serai, dan rempah lain itu bukan sekadar minuman penghangat.
Dari sudut pandang farmakologi, kombinasi itu sangat masuk akal. Jahe menambahkan antiinflamasi dan efek digestif. Serai memberikan efek antimikroba ringan. Dan kayu secang menyumbangkan antioksidan kuat melalui brazilinnya. Leluhur kita mungkin tidak tahu nama senyawanya, tapi secara empiris mereka sudah meracik minuman fungsional yang jauh sebelum istilah itu ada.
