Jamu Gendong Warisan Budaya UNESCO yang Kini Terancam Punah di Negeri Sendiri

Pharmacy Major State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Nazla Khaerunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada ironi yang menyakitkan dalam kisah jamu gendong Indonesia. Di satu sisi, jamu gendong warisan budaya Indonesia baru saja mendapat pengakuan tertinggi dari dunia bahwa UNESCO resmi menetapkan Budaya Sehat Jamu sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia pada 6 Desember 2023. Di sisi lain, sosok Mbok Jamu yang berkeliling kampung dengan kebaya dan bakul gendong di punggung semakin sulit ditemui terutama di kota-kota besar. Pengakuan dunia datang, sementara di dalam negeri, pewaris tradisi ini semakin langka.

Jamu Gendong Warisan Budaya Yang Lebih Tua dari Kerajaan Majapahit
Jamu bukan sekadar minuman herbal. Ia adalah sistem pengetahuan kesehatan yang dibangun selama lebih dari satu milenium.
Tradisi minum jamu sudah ada sejak 1.300 M jauh sebelum era kolonial, bahkan sebelum banyak kerajaan besar Nusantara berdiri. Asal-usulnya diyakini dari Kerajaan Mataram, dibuktikan dengan munculnya sebutan Acaraki pekerja yang meracik jamu pada Prasasti Madhawapura. Relief di Candi Borobudur bahkan menggambarkan proses pembuatan ramuan herbal, menunjukkan bahwa masyarakat Jawa Kuno sudah mengenal konsep pengobatan alami jauh sebelum farmasi modern lahir.
Di balik racikan kunyit, jahe, temulawak, kencur, dan rempah lainnya, ada filosofi yang dalam menjaga keseimbangan tubuh dan alam. Dalam tradisi Jawa, penyakit dipercaya muncul karena ketidakseimbangan unsur "panas" dan "dingin" dalam tubuh sebuah pendekatan holistik yang kini mulai diakui relevansinya oleh ilmu kesehatan modern.
Dan sosok yang paling lama memikul warisan ini di pundaknya secara harfiah adalah penjual jamu gendong. Sosok Mbok Jamu begitu ikonik dengan perempuan berkebaya dengan tas gendong anyaman bambu dan botol besar berisi jamu di punggungnya, berkeliling menjajakan racikan dari pintu ke pintu. Ia bukan sekadar pedagang ia adalah penjaga pengetahuan, peracik sekaligus konsultan kesehatan bagi komunitas yang dilayaninya.
Apa yang Ada di Dalam Botol Itu? Ilmu Pengetahuan, Bukan Sekadar Tradisi
Salah satu kesalahan terbesar dalam memandang jamu adalah menganggapnya sekadar "kepercayaan turun-temurun" tanpa dasar ilmiah. Penelitian modern justru semakin memperkuat klaim yang sudah diketahui Mbok Jamu selama berabad-abad.
Kunyit bahan paling ikonik dalam jamu mengandung kurkumin yang terbukti memiliki sifat antiinflamasi kuat, berpotensi melindungi hati, dan sedang diteliti untuk berbagai kondisi kronis. Temulawak terbukti memiliki efek hepatoprotektif melindungi sel hati dari kerusakan. Jahe memiliki efek antiemetik yang kini digunakan dalam protokol kemoterapi untuk mengurangi mual. Kencur mengandung senyawa yang bersifat analgesik dan antioksidan.
Data BPOM dan penelitian terbaru menunjukkan bahwa masyarakat usia 15 tahun ke atas secara aktif mengonsumsi jamu, dengan prevalensi tertinggi justru pada kelompok usia 18โ25 tahun usia produktif yang selama ini dianggap sudah meninggalkan tradisi ini. Artinya, minat terhadap jamu sebagai produk tidak hilang yang hilang adalah saluran distribusinya yang paling manusiawi Mbok Jamu gendong itu sendiri.
Pengakuan Dunia, Krisis di Dalam Negeri
UNESCO tidak hanya mengakui jamu sebagai minuman herbal biasa. Lembaga budaya dunia itu mencatat nilai jamu sebagai sarana ekspresi budaya yang membangun koneksi antara manusia dengan semesta, sekaligus mengakui bahwa Budaya Sehat Jamu mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan global.
Tapi ironi itu nyata. Sementara UNESCO mengangkat jamu ke panggung dunia, ekosistem penjual jamu gendong di dalam negeri menghadapi tekanan dari berbagai arah regenerasi yang mandek karena generasi muda tidak tertarik meneruskan profesi ini, persaingan dengan minuman kemasan modern yang lebih praktis dan agresif dalam pemasaran, serta tidak adanya perlindungan formal bagi pengetahuan tradisional yang mereka miliki.
Menyadari ancaman ini, BPOM pada Hari Jamu Nasional 2025 secara khusus mendorong generasi muda untuk kembali melirik jamu sebagai bagian dari gaya hidup sehat dengan melibatkan komunitas Mbok Jamu Gendong dan barista jamu dalam satu panggung yang sama, sebuah pertemuan simbolis antara tradisi dan modernitas.
Barista Jamu Jembatan antara Mbok Jamu dan Gen Z
Di sinilah secercah harapan itu muncul. Di beberapa kota besar, muncul fenomena "barista jamu" anak-anak muda yang meracik jamu dengan presentasi modern disajikan dalam gelas transparan dengan es batu, garnish daun mint, bahkan dalam menu jamu latte yang instagrammable.
Tren kesehatan di media sosial Indonesia terus meningkat. Laporan Populix menunjukkan sembilan dari sepuluh orang Indonesia rutin berolahraga sebuah pergeseran gaya hidup yang membuka peluang bagi jamu untuk diposisikan bukan sebagai minuman "orang tua", melainkan sebagai minuman wellness yang relevan bagi generasi muda yang sadar kesehatan.
Kuncinya adalah menjembatani dua dunia ini tanpa mengorbankan esensi keduanya kearifan pengetahuan Mbok Jamu yang tidak bisa direduksi menjadi sekadar label produk, dan kemampuan generasi baru untuk mempresentasikannya dalam bahasa yang dimengerti zaman sekarang.
