Konten dari Pengguna

Fibrodysplasia Ossificans Progressiva : Tantangan Perawat dan Peran

Nazla Salsabila

Nazla Salsabila

Saya Mahasiswi aktif di Univerista Islam Negeri Jakarta di program studi Ilmu Keperawatan.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazla Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perawat dalam Mendukung Pasien Penyakit Langka

Ilustrasi tulang.Sumber : Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tulang.Sumber : Freepik

Fibrodysplasia Ossificans Progressiva (FOP) merupakan kelainan genetik yang amat jarang, di mana jaringan lunak seperti otot, tendon, serta ligamen mengalami transformasi menjadi tulang melalui proses ossifikasi heterotopik. Berdasarkan tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam Orphanet Journal of Rare Diseases, FOP ditandai dengan morbiditas tinggi yang bersifat progresif, sering kali mengakibatkan disabilitas parah akibat pembatasan gerak pada pasien serta keterlibatan otot-otot lainnya seiring berjalannya waktu (Harrak et al., 2025). Kelainan ini tidak hanya sangat langka — dengan prevalensi kurang dari 1 per 1,5–2 juta penduduk — tetapi juga menantang dalam penanganannya.

Secara klinis, FOP biasanya bermula pada masa kanak-kanak melalui pembengkakan jaringan lunak yang disertai nyeri, yang kerap salah dianggap sebagai tumor atau peradangan non-spesifik. Pedoman medis internasional menekankan pentingnya diagnosis dini, sebab tindakan invasif seperti biopsi atau pembedahan yang tidak sesuai justru berpotensi mempercepat proses ossifikasi serta memperparah keadaan pasien (Kaplan et al., 2025). Dengan demikian, petugas kesehatan wajib bersikap sangat teliti dalam mengidentifikasi gejala permulaan dan menerapkan strategi minimal invasif untuk mencegah komplikasi yang merugikan.

Meskipun saat ini belum tersedia pengobatan yang dapat menyembuhkan FOP secara tuntas, kemajuan dalam bidang terapi menunjukkan harapan yang semakin cerah. Sebagai ilustrasi, studi farmakologis mutakhir membuktikan manfaat obat palovarotene, yang secara spesifik menghambat jalur pensinyalan tertentu yang memicu terjadinya pembentukan tulang secara abnormal, sehingga berhasil menunda laju progresivitas penyakit pada sebagian pasien (Verheij et al., 2025). Secara umum, ini masih dalam tahap penelitian lanjutan, tetapi membuka harapan bagi terapi yang lebih efektif di masa depan.

Dalam praktik sehari‑hari, pasien FOP tidak hanya menghadapi tantangan biologis tetapi juga tantangan psikososial. Banyak pasien mengalami kesulitan mobilitas, keterbatasan aktivitas harian, dan risiko cedera yang tinggi ketika melakukan kegiatan fisik yang terlalu keras (Guyolla et al., 2024). Inilah titik di mana peran perawat sangat krusial. Peran perawat tidak terbatas pada aspek fisik semata, tetapi juga mencakup edukasi, koordinasi perawatan, dan dukungan emosional yang berkelanjutan.

Berdasarkan studi Fibrodysplasia ossificans progressiva: from clinical complexity to therapeutic opportunity (2025), penanganan FOP sebaiknya dilakukan oleh tim multidisiplin yang melibatkan dokter spesialis, fisioterapis, ahli gizi, serta perawat, guna menyusun strategi perawatan jangka panjang secara menyeluruh. Dalam hal ini, perawat berfungsi sebagai jembatan antara pasien dan anggota tim medis lainnya, dengan tugas menjelaskan rencana pengobatan serta mengawasi evolusi gejala sehari-hari pasien.

Secara sederhana, perawat berperan sebagai "mata dan telinga" pasien di sela-sela kunjungan dokter. Misalnya, saat pasien mengalami flare-up atau lonjakan nyeri tiba- tiba, perawat dapat mengidentifikasi tanda peringatan dini, melakukan pengukuran yang diperlukan, serta memandu pasien untuk segera menerima intervensi medis yang sesuai. Peran ini tidak hanya meningkatkan kualitas hidup pasien, tetapi juga mencegah komplikasi berat yang berpotensi timbul jika gejala tidak terdeteksi sejak dini.

Lebih lanjut, kontribusi perawat dalam pendidikan bagi keluarga pasien sangatlah krusial. Mengingat FOP merupakan kondisi progresif yang jarang diketahui masyarakat luas, banyak keluarga pada awalnya tidak menyadari bahwa prosedur medis sederhana — seperti suntikan intramuskular atau cedera ringan — dapat memicu pembentukan tulang baru. Melalui edukasi dari perawat, keluarga memperoleh pemahaman tentang tindakan yang diperbolehkan dan yang harus dihindari, sekaligus mendapatkan bimbingan untuk mendukung pasien dalam keputusan sehari-hari yang aman. Di luar tugas klinis, perawat juga mendukung dimensi psikososial pasien. Hidup dengan kelainan progresif yang membatasi mobilitas jelas bukan perkara ringan, sehingga banyak penderita FOP mengalami kecemasan, tekanan emosional, atau keterasingan sosial. Perawat dapat menjadi pendamping emosional, menyediakan motivasi dan bantuan berkelanjutan selama proses penyakit, serta memfasilitasi akses pasien ke komunitas dukungan atau layanan masyarakat terkait.

Secara keseluruhan, Fibrodysplasia Ossificans Progressiva memerlukan strategi penanganan yang holistik dan berkesinambungan. Di bidang medis, penelitian terus maju guna mengembangkan terapi yang lebih ampuh. Sementara itu, dalam perawatan pasien, kontribusi perawat sangatlah esensial — mulai dari pengawasan klinis hingga bantuan emosional serta pendidikan bagi keluarga. Pendekatan terintegrasi berbasis tim merupakan faktor utama dalam meningkatkan kualitas hidup penderita FOP, meskipun mengelola penyakit langka semacam ini penuh dengan kerumitan.

REFERENSI

Harrak, H., Rhee, S., Souttou, A., et al. (2025). Understanding the clinical morbidity and mortality of fibrodysplasia ossificans progressiva: a systematic literature review. Orphanet Journal of Rare Diseases. https://doi.org/10.1186/s13023-025-03763-8

Kaplan, F. S., Al Mukaddam, M., Baujat, G., et al. (2025). Medical guidelines for fibrodysplasia ossificans progressiva. JBMR Plus. https://doi.org/10.1093/jbmrpl/ziaf150

Verheij, V. A., Diecidue, R. J., Botman, E., et al. (2025). Palovarotene in fibrodysplasia ossificans progressiva: review and perspective. Expert Opinion on Pharmacotherapy. https://doi.org/10.1080/14656566.2025.2452938

Guyolla, Y. H., Abebe, F. T., Ahmed, A. J. (2024). Fibrodysplasia ossificans progressiva: a rare disease due to unawareness. International Journal of Surgery Case Reports. https://doi.org/10.1016/j.ijscr.2024.109548

Fibrodysplasia ossificans progressiva: from clinical complexity to therapeutic opportunity. (2025). Journal of Rare Diseases. https://doi.org/10.1007/s44162-025- 00144-4