Konten dari Pengguna

Ilmu Tanpa Akhlak: Kepintaran yang Kehilangan Arah

Nazmi Annisyah hsb

Nazmi Annisyah hsb

Mahasiswa Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazmi Annisyah hsb tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dalam Akhlak lebih baik dari ilmu ( gambar oleh: preefik.com )
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dalam Akhlak lebih baik dari ilmu ( gambar oleh: preefik.com )

Banyak orang pintar, tapi tak semua berakhlak. Ilmu bisa membuatmu dihormati, tapi akhlaklah yang membuatmu dicintai

Di era sekarang, banyak orang berlomba-lomba untuk jadi pintar. Banyak yang mengejar gelar, kursus ini-itu, bahkan pamer prestasi di media sosial. Tapi sayangnya, tak sedikit dari mereka yang lupa satu hal penting yaitu: akhlak. Padahal, dalam Islam, akhlak adalah inti dari ilmu itu sendiri. Ilmu tanpa akhlak bisa membuat seseorang sombong, kasar, dan merasa paling benar. Seperti mobil mewah tanpa rem cepat, tapi berbahaya. Nabi Muhammad SAW sendiri tidak dikenal karena banyaknya teori yang beliau ajarkan, tapi karena keluhuran budi pekertinya. Bahkan Allah menyebut beliau sebagai sosok dengan akhlak yang agung (QS. Al-Qalam: 4).

Lewat podcast muslim yang saya tonton, Ustadz Ferri Bagus mengingatkan kita bahwa akhlak bukan pelengkap dari ilmu tapi pondasinya. Tanpa akhlak, ilmu bisa kehilangan arah dan tujuan.

Ilmu Bisa Membuat Orang Sombong, Kalau Tak Disertai Akhlak

Dalam podcast muslim,Ustadz Ferri memberi contoh sederhana. Banyak orang berilmu tinggi, tapi sulit diajak diskusi, cepat marah, atau merasa paling benar. Ada juga yang dengan mudah merendahkan orang lain hanya karena pendidikan mereka lebih rendah. Ini semua tanda bahwa ilmu belum menyentuh hati.

Ilmu sejatinya adalah anugerah dari Allah. Tapi kalau tidak diiringi dengan kerendahan hati dan akhlak yang baik, ilmu justru bisa menjerumuskan seseorang pada kesombongan.

Ilmu bisa membuat seseorang merasa lebih hebat dari orang lain, merasa paling tahu, paling benar, bahkan menyepelekan orang lain yang dianggap kurang berilmu. Seperti kata Ustadz Ferri dalam podcastnya " Orang yang belajar agama tapi tidak memperbaiki akhlaknya, maka ilmunya bisa jadi alat untuk merendahkan orang."

Kenapa Akhlak Lebih Penting?

1. Akhlak adalah cermin hati. Orang yang baik hatinya, akan baik perilakunya, meski ilmunya sedikit.

2. Ilmu bisa dipelajari, akhlak butuh latihan. Akhlak tidak didapat dari buku, tapi dari kebiasaan dan keteladanan.

3. Orang berilmu tanpa akhlak bisa jadi berbahaya. Seperti orang yang tahu cara membuat api, tapi tidak tahu kapan dan bagaimana menggunakannya.

Ustadz Ferri menjelaskan bahwa akhlak adalah inti dari semua ilmu yang kita pelajari. Ilmu itu penting, tapi akhlaklah yang menentukan bagaimana ilmu itu digunakan.

agama Islam bukan hanya datang untuk mengajarkan hafalan dan teori, tapi yang utama adalah membentuk manusia yang beradab dan bermoral. Nabi Muhammad SAW bersabda: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad)

Ini menunjukkan bahwa misi utama Rasulullah bukan sekadar menyampaikan ilmu, tapi memperbaiki sikap, budi pekerti, dan hubungan antarmanusia.

Nabi Muhammad SAW: Teladan Ilmu dan Akhlak

Nabi Muhammad SAW bukan hanya cerdas, tapi juga memiliki akhlak yang luar biasa. Bahkan Allah SWT memujinya dalam Al-Qur’an: "Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam: 4)

Nabi tidak pernah memaki orang yang mencelanya. Beliau sabar, santun, dan menyayangi umat bahkan yang menyakitinya sekalipun.

Cara Menumbuhkan Akhlak dalam Diri

Cara praktis agar kita bisa terus memperbaiki akhlak yaitu:

1. Niatkan ilmu untuk kebaikan, bukan pamer Ilmu itu ibadah. Jadi niatkan untuk membantu orang, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri pada Allah. 2. Belajar dari orang-orang shalih Berguru pada orang yang tidak hanya pandai, tapi juga santun dan berakhlak. Akhlak itu menular dari pergaulan. 3. Jangan hanya fokus pada prestasi dunia Punya banyak gelar tapi tidak tahu cara menghormati orang lain, itu bukan kemajuan—itu kegagalan dalam mendidik hati.

Ilmu itu penting,tapi akhlak adalah kuncinya. Ilmu bisa membawa kita ke posisi tinggi, tapi akhlaklah yang membuat kita tetap membumi. Jangan sampai jadi orang pintar yang menyakiti, atau jadi tokoh yang tidak bisa diteladani. Bahkan Imam Malik pernah berkata: “Pelajarilah akhlak sebelum mempelajari ilmu.”

Belajarlah setinggi langit, tapi jangan lupakan bumi tempatmu berpijak. Karena kemuliaan bukan hanya soal otak, tapi juga tentang hati. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas, tapi juga berakhlak. Ustadz Ferri berkata: " ilmu adalah hiasan, akhlak adalah ruhnya."