Konten dari Pengguna

Rindu Masakan Ibu, Tapi Ilmu Harus Dikejar

Nazmi Annisyah hsb

Nazmi Annisyah hsb

Mahasiswa Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazmi Annisyah hsb tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

foto Ibu dan Ayah beserta masakan Ibu ( Foto Pribadi.com )
zoom-in-whitePerbesar
foto Ibu dan Ayah beserta masakan Ibu ( Foto Pribadi.com )

Bagi sebagian besar anak rantau salah satu hal paling menyiksa bukan hanya soal uang bulanan yang pas-pasan atau tugas kuliah yang menumpuk, tapi... rindu. Rindu rumah dan seisinya, rindu suasana desa, rindu family lainnya, dan yang paling dalam: rindu masakan ibu.

Tak ada yang bisa menandingi nikmatnya sepiring nasi hangat buatan tangan ibu di pagi hari. Sambal buatan sendiri, sayur bening kesukaan, atau sekadar telur dadar yang terasa seperti hidangan istimewa ketika disantap bersama keluarga. Tapi semua itu harus rela ditinggalkan sementara waktu, demi mengejar ilmu dan masa depan.

Mie Instan Tak Pernah Bisa Gantikan Masakan Rumah Hidup sebagai mahasiswa perantau sering kali identik dengan mie instan, telur rebus, atau nasi kucing. Bukan karena tak punya selera, tapi karena kantong tak selalu bersahabat. Bahkan makan enak dianggap mewah, dan makan seadanya adalah seni bertahan. Setiap suapan mie di malam hari kadang menyelipkan ingatan akan sop buatan ibu, atau sambal ulek yang pedasnya pas di lidah. Tapi meskipun perut sering berkompromi, semangat untuk tetap belajar tak pernah luntur.

Di Antara Lapar dan Lelah, Ada Cita-Cita Perjuangan anak rantau tidak main-main. Di balik koper yang berat dan wajah lelah, ada beban tanggung jawab yang dibawa dari kampung halaman: membanggakan orang tua. Rasa rindu pun tak bisa jadi alasan untuk menyerah. Sebab mereka tahu, ilmu adalah bekal yang bisa mengubah hidup—bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keluarga. Setiap kali kangen rumah, anak rantau hanya bisa menelpon ibu atau ayah, bercerita bagaimana kuliah hari ini dan mendengar suara yang menenangkan itu. Kadang kita tak bilang sedang sakit, sedang lapar, atau sedang sedih karena tak ingin membuat ibu dan ayah khawatir. Kita hanya bilang, “Aku baik-baik saja, Bu, yah” walau kenyataannya tidak selalu demikian.

Masakan Ibu adalah Rumah, Tapi Masa Depan Harus Dikejar

Ilmu tidak datang sendiri. Ia harus dicari, dikejar, bahkan diperjuangkan dengan pengorbanan. Salah satunya adalah mengalahkan rasa rindu. Anak rantau tahu, suatu hari nanti, semua ini akan terbayar. Saat wisuda tiba, saat pekerjaan impian tercapai, saat bisa membelikan ibu dapur baru atau mengajak orang tua naik pesawat untuk pertama kalinya. Dan yang paling utama adalah membawa orangtua ke tanah suci. Dan ketika itu terjadi, sepiring masakan ibu akan terasa jauh lebih nikmat—karena dinikmati bukan hanya dengan perut lapar, tapi juga hati yang penuh syukur. Penutup: Untuk Ibu dan Ayah di Rumah,dan Anak Rantau di Tanah Orang Untuk semua ibu yang selalu memasakkan dengan cinta: terima kasih. Untuk ayah yang selalu mencari nafkah demi anaknya: terimakasih. Untuk semua anak rantau yang terus berjuang meski rindu tak tertahankan: teruslah melangkah. Karena ilmu memang tak bisa dimakan, tapi darinya kita bisa memberi makan banyak orang—terutama orang-orang yang kita cintai. Rindu masakan ibu itu nyata, tapi ilmu tetap harus dikejar.

Hidup lebih lama lagi ya ibu dan ayah, doakan anakmu ini biar bisa sukses.